Hari pertama masuk sekolah biasanya identik dengan wajah-wajah baru, suasana ramai, dan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Namun, pemandangan berbeda terlihat di SD Negeri 2 Salakaria, Desa Salakaria, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Rabu (15/7/2026).
Saat sekolah lain sibuk menyambut peserta didik baru, suasana di sekolah yang berada di pelosok Ciamis itu justru tampak lengang. Tak ada upacara pembukaan MPLS maupun barisan murid baru yang memenuhi halaman sekolah. Di ruang-ruang kelas, hanya terlihat aktivitas belajar siswa kelas 2 hingga kelas 6 yang seluruhnya berjumlah 31 orang.
Rupanya, satu-satunya siswa baru yang diterima pada tahun ajaran 2026/2027 berhalangan hadir karena sakit. Akibatnya, kegiatan MPLS yang telah dipersiapkan khusus untuknya terpaksa ditunda.
Guru kelas 1, Maya Nurhidayah, mengaku sudah menyiapkan berbagai kebutuhan untuk menyambut murid barunya. Mulai dari alat peraga hingga materi pengenalan sekolah telah dipersiapkan sejak beberapa hari sebelumnya.
"Sedih juga karena hari pertama seharusnya MPLS. Muridnya hanya satu orang, tetapi hari ini tidak bisa masuk karena sakit," ujar Maya.
Bagi Maya, tahun ajaran ini merupakan pengalaman pertamanya menjabat sebagai wali kelas 1. Sebelumnya, ia mengajar siswa kelas 2. Meski hanya memiliki satu murid, semangatnya tak berkurang sedikit pun.
"Awalnya yang mendaftar ada dua anak, tetapi satu lagi pindah ke Bogor. Saya tetap semangat menyambut murid baru meski hanya satu orang," katanya.
Ia berharap siswanya segera pulih agar kegiatan MPLS bisa segera dilaksanakan. Menurutnya, mengajar satu murid justru membuka ruang untuk memberikan perhatian lebih dalam proses belajar-mengajar.
"Kalau hanya satu murid, saya bisa lebih fokus mendampingi. Saya ingin memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, memberi motivasi, dan membuatnya betah di sekolah. Rasanya seperti mengajar les privat," tutur guru honorer tersebut.
Kepala SD Negeri 2 Salakaria, Deni Purnama, menyebut total siswa di sekolahnya saat ini hanya 32 orang. Rinciannya: kelas 1 satu siswa, kelas 2 tujuh siswa, kelas 3 sembilan siswa, kelas 4 lima siswa, kelas 5 lima siswa, dan kelas 6 enam siswa.
Menurut Deni, minimnya jumlah peserta didik dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar yang memang memiliki jumlah anak usia sekolah relatif sedikit.
"Wilayah kami dikenal sebagai kampung KB sehingga jumlah anak usia sekolah tidak banyak. Biasanya setiap tahun kami menerima sekitar lima siswa, tetapi tahun ini hanya satu. Mudah-mudahan tahun depan jumlahnya kembali meningkat," ujarnya.
Meski jumlah siswa sedikit, Deni memastikan kualitas layanan pendidikan tetap menjadi prioritas. Para guru tetap mengajar secara maksimal dengan dukungan fasilitas belajar yang memadai. Salah satunya penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran di kelas.
"Jumlah murid memang sedikit, tetapi kami terus berupaya memberikan pendidikan terbaik. Alhamdulillah sekolah ini juga pernah meraih prestasi tingkat Provinsi Jawa Barat di bidang keagamaan, serta juara tingkat kabupaten untuk cabang tari dan Pendidikan Agama Islam," katanya.
Deni mengakui bahwa mengelola sekolah dengan jumlah siswa minim bukanlah perkara mudah. Namun, kekompakan para guru menjadi kekuatan utama agar proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan baik.
"Semua guru saling mendukung. Kalau ada kekurangan, kami berusaha menutupinya bersama-sama demi memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak," pungkasnya.
Simak Video "Video: Komitmen ADHI Karya Jalankan Proyek Sekolah Rakyat agar Tepat Waktu-Mutu"
(mso/mso)