Proyek Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya terus dikebut. Program ambisius untuk mengurai kemacetan di wilayah Cekungan Bandung tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
BRT Bandung Raya diproyeksikan memiliki 18 rute yang melintasi Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Sumedang. Proyek ini akan didukung halte di 256 titik, dengan 232 titik di antaranya berada di Kota Bandung.
Anggota DPRD Kota Bandung, Uung Tanuwidjaja, memberikan sejumlah catatan untuk progres BRT saat ini. Menurutnya, Pemkot Bandung harus menjalankan sosialisasi secara masif kepada masyarakat untuk menghindari penolakan di lapangan.
"Sesuai dengan targetnya kan, 2027 itu BRT itu harus sudah mulai beroperasi ya. Jadi kalau kita melihat progress seperti pembangunan halte-halte, itu masih dibutuhkan sosialisasi pada masyarakat. Karena itu kalau sosialisasi tidak dilaksanakan secara baik, akan terjadi masalah di kemudian hari seperti penolakan dan sebagainya," katanya, Selasa (30/6/2026).
Uung turut menyoroti kondisi jalanan Kota Bandung yang kurang ideal untuk menerapkan konsep BRT. Pasalnya, kondisi jalanan di Kota Kembang terbilang pendek, sempit, banyak percabangan, dan kerap macet di jam-jam tertentu, termasuk kemacetan yang menyebar hingga ke perbatasan.
Meski demikian, menurut Uung, BRT menjadi opsi yang harus dijajal untuk mengubah kebiasaan masyarakat Kota Bandung agar beralih ke transportasi massal. Hal ini dikarenakan permasalahan utama Kota Bandung adalah kepadatan kendaraan pribadi.
"Ketika BRT dicanangkan sebagai salah satu solusi kemacetan Kota Bandung, ada dua kelompok masyarakat. Pertama kelompok masyarakat yang pesimis yang mungkin berpikiran dari zaman dulu enggak pernah ada namanya solusi untuk kemacetan Kota Bandung, karena Kota Bandung itu kan memiliki peningkatan kendaraan bermotor itu tahun 10% baik kendaraan bermotor motor roda empat, roda dua. Sedangkan penambahan jalan Kota Bandung hanya 1 persen," ujarnya.
"Jadi orang berpikir berdasarkan data tersebut, wah mana mungkin gitu (BRT) hanya akan menambah kemacetan dan lain-lain. Tapi ada kelompok-kelompok orang masyarakat juga yang memiliki pemikiran wah kalau ini berjalan, mereka itu bisa memecahkan masalah kemacetan Kota Bandung. Karena BRT itu sistemnya bukan seperti angkot. Angkot itu harus nunggu penumpang penuh baru berangkat. Tapi BRT ini setiap waktu sudah ditentukan, misalnya setiap 10 menit harus berangkat," bebernya.
Uung pun mendorong agar BRT memiliki jalur khusus di setiap rutenya. Namun, karena kondisi di lapangan yang tidak memungkinkan, ia mengaku sudah mendapat paparan bahwa BRT nantinya bakal memiliki sistem khusus demi memecah kemacetan di Kota Bandung.
"BRT ini memang kita pakai sistem kombinasi, di mana nanti bisa tiba-tiba terjadi penggabungan dengan kendaraan pribadi yang lain, lalu dipakai juga di jalur khusus. Harusnya kan 100% memakai jalur khusus untuk BRT, tapi karena tidak memungkinkan ada beberapa titik Kota Bandung yang jalannya tidak lebar itu akan dipakai secara bersama-sama. Tapi kita juga sudah menyiapkan teknologi ya, khususnya di tempat-tempat percabangan-percabangan. Ketika mobil BRT itu mendekat, langsung lampu itu menjadi hijau," pungkasnya.
(ral/orb)