Gurat haru dan bahagia tak mampu disembunyikan Hasbi Ridla Ilahi, wisudawan Universitas Padjadjaran, saat berdiri di atas mimbar. Suasana terasa berbeda ketika ia mulai berpidato, sebagai penyandang disabilitas tuli, Hasbi menyampaikan gagasannya lewat kesunyian yang bermakna.
Pidato yang disampaikan sarjana D4 program studi Kearsipan Digital Unpad itu tak memiliki suara, dia berpidato dengan menggunakan bahasa isyarat, dan dipandu oleh Juru Bahasa Isyarat (JBI) dari Unit Layanan Disabilitas Unpad, Fransisca Octi.
Meski demikian, kata-kata yang dirangkai Hasbi, lalu disampaikan ulang oleh Fransisca Octi, membuat wisudawan lain dan tamu undangan terenyuh.
Bahkan suasana gedung yang sebelumnya ramai menjadi hening saat Hasbi yang berdiri tegap, mengenakan toga cukup unik dan ikonik
"Izin saya bercerita sedikit, saya sahasiswa tuli dan saya membutuhkan hak pendidikan dan hak informasi yang setara, baik teman dengar dan teman tuli dan bagaimana saya berjuang untuk mendapatkan ilmu yang mungkin dalam pemikiran saya bagaimana mendapatkan ilmu yang sulit diakses," kata Hasbi dalam video yang dilihat detikJabar, Rabu (6/5/2026).
Dalam pidatonya, Hasbi bercerita jika sebagai teman tuli dia awalnya merasa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan, baik dalam komunikasi dengan dosen dan mahasiswa.
"Saya seorang tuli yang mengalami hambatan saat mengikuti perkulihan di awal, ada rasa ingin saya mundur karena tidak sesuai dan saya sulit memahami dosen dan teman-teman saya ketika berbicara. Ketika aplikasi trankipsi yang tidak jelas hasilnya dan saya merasa tidak cocok ada di sini," ungkap Hasbi.
Namun menurut Hasbi, dia merasa terbantu dengan adanya akses bahasa isyarat di Unpad sehingga dia bisa berkomunikasi dengan civitas akademika lainnya.
"Alhamdullilah Unpad memberi akses bahasa isyarat, ada juru bahasa isyarat yang membantu saya untuk mendapatkan informasi di dalam kelas dan luar kelas. Terimakasih Unpad dan kedepanya kita bersama-sama untuk melangkah lebih inklusif lagi," ucap Hasbi sambul diberi applause.
Sebelum menutup pidatonya, Hasbi mengaku bangga menjadi mahasiswa Unpad.
"Saya tuli, saya wisuda hari ini dan saya bangga bisa wisuda dengan teman-teman yang ada di sini. Aku kamu kita, salam satu Unpad," ujar Hasbi.
Pengalaman Kuliah di Unpad
detikJabar berkesempatan mewawancarai Hasbi, pria berumur 25 tahun,asal Tamanjaya, Tamansari, Kota Tasikmalaya merupakan mahasiswa angkatan 2022. Hasbi lulus tepat waktu dengan menyelesaiakan studinya selama 3,5 tahun.
Kepada detikJabar, Hasbi sebut jika masa-masa kuliah di Unpad tidak mudah.
"Saya tidak paham apa yang dosen dan teman bicarakan, biasanya saya minta tuliskan di HP atau kertas. Pernah juga pakai aplikasi transkripsi tapi acak-acakan. Saya tanya ke mahasiswa dengar hasil transkripsi sesuai pembicaraan dosen gak? Ternyata gak sama. Aplikasi sering salah dengar dan tercampur suara lain," ungkapnya.
Menurut Hasbi, sebelum ada juru bahasa isyarat teman-temannya bersedia bergantian menulis rangkuman materi untuknya. Beruntung, Hasbi sebut jika teman dan dosennya sangat baik kepadanya.
"Teman-teman bantu catatan dan buat rekaman yang saya minta. Dosen ada yang bersedia kirim PPT dan jelaskan pake tulisan ke saya," tuturnya.
Namun, ada juga dosen lain yang tetap bicara seperti biasa tanpa menjelaskan dengan tulisan dan hal itu menjadi salah satu hambatannya sekama kuliah.
Meski temukan banyak hambatan, Hasbi berhasil menyusun skripsi dengan judul Tata Kelola Arsip Digital untuk Layanan Inklusif di PT Kereta Api Indonesia (persero) tahun 2025.
"Buat skripsi, lumayan susah, karena banyak istilah jarang dipakai di sehari-hari. Juga saat sekolah SLB kurikulum beda banget dari SMA umum, saya harus adaptasi banyak. Jadi saya banyak bertanya pada dosen pembimbing, teman, dan kakak tingkat," tuturnya.
Hasbi sebut, selama berkuliah dia ngkos. Awalnya dia ngekos di Jatinangor lalu pindah ke Cibiru, karena dia juga selain berkuliah juga bekerja sebagai tenaga pengajar.
Hasbi sebut, dia mendapatkan fasilitas juru bahasa isyarat di semester 5, sementara sebelumnya bekum ada. Hasbi berharap SDM JBI dapat ditambah dan kualitasnya terus ditingkatkan.
"Iyah perlu ditambahin karena sekarang ada dua JBI tapi mahasiswa tuli ada beberapa dan beda jurusan, tapi lebih penting lagi peningkatan kualitas JBI. Saya rekomendasi Unpad kerjasama dengan lembaga penyedia JBI, misal PLJ Indonesia sehingga bisa kerjasama antara lembaga," ucap pria yang mendapatkan IPK 3.80.
Hasbi sebut, dia sudah bekerja, namun dia ingin berkuliah lagi melanjutkan pendidikan S2, tapi menurutnya harus menabung dahulu.
"Sebenarnya saya sudah bekerja tapi ingin cari kesempatan bekerja lain sesuai ilmu dan kemampuan saya. Juga rencana lanjuti kuliah S2 tapi masih kendala biaya, mungkin perlu menabung atau cari beasiswa lagi, jadi rencana mau fokus cari kesempatan kerja dulu," pungkasnya.
Simak Video "Bernyanyi Riang di Alam Curug, Pangandaran"
(wip/dir)