Krisis Pantura: 65% Garis Pantai Tergerus Abrasi, Daratan Mulai Tenggelam

Kabar Nasional

Krisis Pantura: 65% Garis Pantai Tergerus Abrasi, Daratan Mulai Tenggelam

Agus Tri Haryanto - detikJabar
Rabu, 06 Mei 2026 15:00 WIB
Foto udara sejumlah kapal bersandar di sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor, di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (14/1/2026). Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang menghimbau kepada nelayan yang ada di pesisir pantura Kabupaten Batang untuk menunda menangkap ikan ke laut karena adanya gelombang tinggi dan angin kencang yang terjadi di perairan pantai Utara Jawa Tengah, sejalan dengan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/foc.
Ilustrasi (Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra).
Jakarta -

Kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa kini berada dalam kepungan ancaman serius. Riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap fakta mengejutkan, sebanyak 65,8% garis pantai Pantura luluh lantak akibat abrasi sepanjang periode 2000 hingga 2024.

Data mengkhawatirkan ini dibeberkan oleh Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin. Dalam forum diskusi bertema "Pantura Tangguh, Indonesia Lestari" di Gedung BJ Habibie, Jakarta, ia menegaskan bahwa kondisi Pantura saat ini bukan sekadar masalah abrasi biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tubagus menilai wilayah tersebut sedang mengalami krisis pesisir yang bersifat kompleks dan sistemik. Masalah yang terjadi saling berkelindan antara faktor alam dan aktivitas manusia.

"Pantura Jawa sedang menghadapi krisis nyata. Tantangannya bukan hanya erosi, abrasi, dan banjir, tetapi juga kenaikan muka air laut dan penurunan tanah. Ini bukan isu lokal, melainkan isu nasional," ujarnya dikutip dari siaran pers, Senin (4/5/2026).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel, wajah Pantura berubah drastis. Dominasi erosi mencapai 65,8%, sementara proses akresi atau penambahan daratan hanya menyentuh angka 34,2%.

Fenomena ini tergolong tidak lazim. Secara alami, kawasan delta seharusnya menjadi wilayah sedimentasi (penambahan daratan). Namun, intervensi manusia di wilayah hulu, seperti kanalisasi, pembelokan arus sungai, hingga pembangunan bendungan telah memutus suplai sedimen ke pesisir.

Dampaknya kini nyata di depan mata. Di Tanjung Pontang, Serang, daratan seluas 1,72 kilometer persegi telah hilang ditelan laut. Sementara di Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, air laut merangsek hingga 4 kilometer ke daratan dan menenggelamkan lebih dari 1.000 hektare tambak warga.

Kondisi serupa menghantui Legonkulon, Subang. Intrusi air laut sejauh 2 kilometer telah merendam sekitar 700 hektare tambak. Di Indramayu, ganasnya abrasi bahkan memutus akses jalan desa sepanjang 500 meter hingga 1 kilometer.

Wilayah Demak mencatatkan kondisi yang tak kalah tragis. Air laut dilaporkan telah masuk hingga 5-6 kilometer ke daratan. Akibatnya, kawasan persawahan dan permukiman penduduk kini berubah menjadi lautan.

BRIN menjelaskan bahwa kerentanan Pantura juga dipengaruhi faktor geologis. Sekitar 84 persen wilayah pesisirnya tersusun dari endapan yang belum terkonsolidasi. Hal ini membuat tanah sangat mudah tererosi dan mengalami pemampatan secara alami.

Selain itu, 83% wilayah Pantura merupakan dataran rendah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Posisi ini membuat kawasan tersebut sangat "empuk" dihantam dinamika laut yang kian ekstrem.

Tekanan terhadap Pantura semakin berat akibat aktivitas manusia yang masif. Pembangunan pusat ekonomi, alih fungsi lahan, hingga hilangnya hutan mangrove sebagai benteng alami, mempercepat laju kerusakan pesisir.

Krisis ini kian sempurna dengan adanya fenomena kenaikan muka air laut (sea level rise) dan penurunan muka tanah (land subsidence).

Merujuk data altimetri periode 1993-2025, kenaikan muka air laut di Pantura mencapai rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun. Jika diakumulasikan, permukaan laut telah naik sekitar 15,5 sentimeter dalam 32 tahun terakhir.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video BMKG-Wamen PU Bahas Ancaman Perubahan Iklim Terhadap Infrastruktur RI"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads