Dapur MBG Cilaku Cianjur Dikeluhkan Warga: Sumur Bau-Ikan Mati

Ikbal Selamet - detikJabar
Selasa, 28 Apr 2026 19:00 WIB
saluran air diduga tercemar limbah dapur MBG (Foto: Ikbal Selamet/detikJabar)
Cianjur -

Warga Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cilaku, yang merupakan bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keluhan itu tidak hanya terkait pencemaran udara, tetapi juga merembet pada kualitas air sumur warga yang disebut ikut terdampak.

Mira Novita Dimyati (47), salah seorang warga, menuturkan bahwa bau tak sedap mulai tercium sejak awal April 2026, tak lama setelah dapur MBG mulai beroperasi. Ia juga menyebut adanya perubahan pada kualitas air sumur di sekitar rumahnya.

"Saat muncul bau menyengat dan air sumur di sekitar rumah berubah kualitas terkadang tercium bau juga dari air sumur," ujar dia, Selasa (28/4/2026).

Menurut Mira, dampak tersebut semakin terasa dalam keseharian warga. Bahkan, ikan di kolam miliknya dilaporkan mati secara tiba-tiba.

"Menurut dia, kondisi tersebut terjadi usai dapur MBG beroperasi. "Ikan di kolam juga mendadak mati," kata dia."

Ia menduga pencemaran itu disebabkan oleh rembesan limbah dari dapur MBG ke sumber air dan kolam warga. Letak kolam dan sumur yang berdekatan dengan saluran pembuangan limbah disebut memperbesar kemungkinan tersebut.

"Soalnya kolam dan sumur dekat dengan pembuangan limbah dari dapur MBG, jadi diduga ada rembesan dari pengolahan limbahnya," kata dia.

Dampak kesehatan pun mulai dirasakan. Mira mengaku penyakit asma yang dideritanya kerap kambuh sejak munculnya bau tersebut, disertai keluhan lain seperti batuk, sulit tidur, hingga pusing.

"Saya punya asma. Batuk terus, susah tidur, kepala pusing, tekanan darah juga naik. Air sumur jadi bikin gatal dan tidak layak diminum. Padahal itu sumur bor yang biasa dipakai sehari-hari," katanya.

Ia mengaku telah melaporkan persoalan tersebut ke pengurus lingkungan hingga membawa sampel air ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur untuk ditindaklanjuti.

"Saya sudah lapor ke RT, RW, dan ke DLH sambil bawa sampel air," tuturnya.

Mira berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memastikan kelayakan operasional dapur MBG, termasuk aspek perizinan lingkungan.

"Harapan saya sederhana, jalankan sesuai aturan. Kalau memang belum lengkap izinnya, jangan dulu beroperasi. Pemerintah harus adil dan menindaklanjuti keluhan warga," tegasnya.

SPPG Cilaku Bantah

Di sisi lain, Kepala SPPG Cilaku Sukasari 3, Aulia Rachman, membantah bahwa bau yang dikeluhkan warga berasal dari limbah. Ia menyebut aroma tersebut merupakan bau masakan saat proses produksi berlangsung.

"Kalau bau limbah tidak. Karena kami memakai IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) dari perusahaan. Keluhan warga kemarin itu bukan bau limbah tapi ke bau masakan, karena memang kami sedang produksi makanan," kata dia.

Aulia menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pembaruan sistem pengolahan limbah. Jika sebelumnya menggunakan sistem konvensional, kini telah diganti dengan IPAL dari pihak perusahaan.

"Sebelumnya memang pakai sistem konvensional, sekarang sudah diganti. Dari minggu lalu sudah dipasang IPAL baru dari perusahaan, dan sudah dapat izin," katanya.

Ia memastikan sistem yang digunakan telah sesuai standar teknis dan dilengkapi dengan perawatan rutin agar tidak menimbulkan gangguan lingkungan.

"Sekarang sudah sesuai standar. Ada perawatan teknis juga, jadi kami pastikan pengelolaannya lebih baik," katanya.

Terkait keluhan warga, Aulia mengaku pihaknya telah melakukan tindak lanjut, termasuk mendatangi warga dan mengikuti proses mediasi yang difasilitasi pemerintah desa.

"Kemarin juga sempat ada warga yang datang, lalu kami tindak lanjuti. Kami juga sudah ikut mediasi di desa," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cianjur, Komarudin, menyatakan pihaknya telah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap dugaan pencemaran tersebut. Hasilnya, ditemukan bahwa pengelolaan IPAL di dapur MBG tersebut belum sepenuhnya sesuai standar.

"Beberapa waktu lalu kami sudah lakukan monitoring dan evaluasi, memang ditemukan pengelolaan IPAL-nya belum sesuai standar," kata dia.

DLH pun telah memberikan teguran dan meminta perbaikan segera dilakukan oleh pengelola.

"Kami sudah minta segera diperbaiki. Pekan ini akan kami cek lagi apakah sudah diperbaiki atau masih ada kekurangan," pungkasnya.



Simak Video "Video Kepala Bappisus: Asosiasi Pengusaha Dapur MBG Tak Didanai Pemerintah"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork