Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, menjadi sorotan setelah sebuah foto yang menunjukkan porsi makanan minim viral di media sosial.
Tak hanya soal menu, operasional dapur program ini juga diterpa isu pencemaran lingkungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG) Buniasih Tegalbuleud, Asep Jindan, memberikan klarifikasi terkait foto nampan berisi mi spageti, sedikit wortel, dan kacang merah yang beredar luas tersebut. Ia membenarkan jenis menunya, namun menyanggah jumlah porsinya.
"Menunya betul itu. Tapi jumlahnya itu tidak sesuai apa yang kita bagikan. Kami sudah konfirmasi ke sekolah. Silakan diklarifikasi, sesuaikan menu yang diposting sama menu yang kami sajikan," ujar Asep kepada wartawan, Selasa (21/4/2026).
Menu MBG dari pihak dapur SPPG. (Foto: Istimewa) |
Asep menegaskan setiap porsi telah dihitung berdasarkan target 25% Angka Kecukupan Gizi (AKG) dengan kisaran harga Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per porsi. Pihaknya enggan memperpanjang polemik dan memilih fokus pada evaluasi internal.
"Kami tidak mau memperpanjang permasalahan. Intinya apapun itu tetap dapur selalu diperbaiki," tegasnya.
Selain soal makanan, warga sempat mengeluhkan adanya air berwarna hitam yang diduga limbah dapur mengalir ke area persawahan. Asep mengakui sempat terjadi kebocoran teknis pada pagi hari, namun ia memastikan masalah tersebut langsung ditangani.
Bahkan, menurutnya, proses perbaikan tersebut disaksikan langsung oleh unsur pimpinan kecamatan. "Penanganan limbah sudah ditangani, pihak Forkopimcam (Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan) juga ikut melihat perbaikan," ungkap Asep.
Mengenai warna limbah yang menghitam, Asep menyatakan bahwa dapur SPPG sebenarnya sudah dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Ia mengklaim air yang keluar dari sistem IPAL miliknya berwarna putih.
"Dapur kami sudah mempunyai IPAL, hanya yang herannya itu airnya hitam, padahal pembuangan dari IPAL kami putih. Jadi itu pembuangan bukan dari MBG saja, semua warga membuang ke tempat yang sama. Jadi tidak bisa disimpulkan bahwa ini limbah dari MBG saja," pungkasnya.
(sya/orb)

