Gunung Sawal menjadi salah satu benteng terakhir bagi kelangsungan hidup macan tutul Jawa. Satwa langka yang kini berstatus terancam punah itu masih tercatat mendiami Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal. Namun, keberadaannya tak lepas dari tantangan, terutama konflik dengan manusia.
Dalam beberapa tahun terakhir, macan tutul Jawa kerap dilaporkan turun ke permukiman warga dan memangsa ternak. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah nyata agar kelestarian satwa dilindungi tanpa mengesampingkan keamanan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemasangan Kamera Trap untuk Survei Macan Tutul Jawa di Lanskap Gunung Sawal. Kawasan ini merupakan salah satu lanskap yang disurvei dalam program Java Wide Leopard Survey (JWLS), sebuah program pemantauan macan tutul Jawa di Pulau Jawa.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, BKSDA Jawa Barat, Yayasan SINTAS Indonesia, Pedal Gas, serta Raksagiri Sawala. Sebanyak 32 peserta terlibat dalam bimtek tersebut, terdiri dari pegiat konservasi, kelompok pecinta alam, BPBD, hingga komunitas peduli lingkungan lainnya.
Bimtek dilaksanakan di kawasan Bukit Baros dan berlangsung selama empat hari. Rangkaian kegiatan terbagi dalam dua hari materi kelas dan dua hari praktik serta simulasi lapangan.
Pada sesi kelas, peserta mendapatkan materi pengenalan program JWLS, pemahaman kawasan konservasi, teknik sampling genetik, hingga metode dan teknik pemasangan kamera trap. Sementara itu, simulasi pemasangan kamera trap dilakukan langsung di kawasan SM Gunung Sawal.
Simak Video "Video: Ditangkap! Ini Tampang 3 Pelaku Pencurian Kabel Tower di Ciamis"
(mso/mso)