Sensus Macan Tutul Jawa di Cikepuh-Cibanteng, 80 Kamera Trap Disebar

Sensus Macan Tutul Jawa di Cikepuh-Cibanteng, 80 Kamera Trap Disebar

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Kamis, 07 Mei 2026 16:48 WIB
Gugusan Pulau Kunti di Kawasan Cagar Alam Cibanteng
Gugusan Pulau Kunti di Kawasan Cagar Alam Cibanteng. Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar
Sukabumi -

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bogor tancap gas melakukan pendataan populasi macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di Sukabumi. Sebanyak 80 unit kamera trap telah disebar di kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.

Langkah ini diambil melalui kerja sama dengan lembaga konservasi Sintas untuk mendapatkan data akurat mengenai jumlah predator puncak yang masih bertahan di habitat alaminya.

Sensus Ilmiah Selama Dua Bulan

Kepala Resort Suaka Margasatwa Cikepuh dan Cagar Alam Cibanteng, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa pemasangan alat pemantau ini sudah berjalan selama tiga minggu. Fokus utamanya adalah melakukan sensus menyeluruh, baik untuk individu jantan maupun betina.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tujuan pemasangan kamera trap ini untuk monitoring. Kami ingin tahu sebenarnya ada berapa ekor macan tutul di dalam kawasan. Kalau bahasa ilmiahnya, ini adalah sensus," ujar Iwan kepada detikJabar, Kamis (7/5/2026).

ADVERTISEMENT

Iwan menambahkan, kamera-kamera tersebut akan dibiarkan merekam aktivitas satwa selama dua bulan ke depan sebelum akhirnya ditarik untuk proses analisis data.

Meski proses monitoring masih berjalan, Iwan mengungkapkan sempat ada 'bocoran' visual saat petugas melakukan pengecekan teknis pada salah satu unit yang sempat mengalami kendala.

"Kemarin waktu saya cek karena ada sedikit trouble di salah satu kamera, itu sebenarnya sudah ada yang tertangkap (kamera). Tapi itu belum bisa jadi acuan karena belum waktunya penarikan data," ungkap Iwan saat dikonfirmasi kembali mengenai hasil sementara.

Ia menegaskan bahwa pihak BKSDA tidak melakukan pengecekan rutin setiap minggu agar tidak mengganggu perilaku alami satwa.

"Hasil validnya nanti setelah dua bulan. Memori akan dibuka semua, mungkin bukan cuma macan, tapi satwa lain seperti kancil, babi hutan, atau bahkan kerbau mungkin saja terekam," tambahnya dengan nada optimis.

Pihak BKSDA berharap melalui 80 titik kamera yang representatif ini, estimasi populasi Macan Tutul Jawa di Sukabumi dapat terdata dengan lebih valid sehingga langkah konservasi ke depan bisa lebih tepat sasaran.

(sya/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads