Di Balik Jaipong Jepang, Dalfa Kerja Toko dan Latihan Tengah Malam

Di Balik Jaipong Jepang, Dalfa Kerja Toko dan Latihan Tengah Malam

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Selasa, 22 Sep 2026 05:00 WIB
Siti Dalfa Elina  saat tampil di Jepang di Oasis 21 Sakae, Nagoya, Sabtu (19/9/2026).
Siti Dalfa Elina saat tampil di Jepang di Oasis 21 Sakae, Nagoya, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Istimewa)
Sukabumi -

Tepuk tangan ratusan warga Jepang di Oasis 21 Sakae, Nagoya, Sabtu (19/9/2026) lalu, menjadi saksi keteguhan Siti Dalfa Elina (20).

Meski telapak kakinya berdarah tersayat benda tajam di atas panggung penyambutan Asian Games 2026, senyum penari asal Kampung Sumur Tilu, Desa Wanasari, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi itu tak pernah luntur hingga tarian usai.

Namun, di balik aksi heroik dan gemulai gerak Tari Jaipong Nyi Bentang Ronggeng yang memukau publik Negeri Sakura tersebut, tersimpan cerita perjuangan fisik yang jauh lebih melelahkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jauh sebelum darah menetes di lantai panggung Nagoya, peluh sudah lebih dulu membanjiri hari-hari Dalfa di Prefektur Aichi.

ADVERTISEMENT

Dalfa baru enam bulan menginjakkan kaki di Jepang, tepatnya sejak Maret 2026 lalu. Ia merupakan mahasiswi semester pertama di Sawarabi Academy, Toyokawa, lewat program beasiswa khusus langsung dari pihak sekolah.

Hidup mandiri sebagai pelajar perantau di negeri orang bukan perkara mudah. Ketika tawaran tampil menyambut Asian Games 2026 datang dari komunitas Bestari Nusantara Nagoya sekitar sebulan sebelum acara, waktu yang tersisa untuk persiapan sangatlah sempit.

"Waktu latihan efektif saya cuma sekitar 20 hari menuju acara. Dan saya belum menguasai sama sekali lagu Nyi Bentang Ronggeng itu. Sempat agak panik karena koreografinya benar-benar baru buat saya," tutur Dalfa kepada detikJabar.

Masa latihan 20 hari itu pun harus ia selipkan di antara rutinitas harian yang sangat padat. Sejak pukul 09.00 pagi hingga 15.00 sore, Dalfa harus memeras otak belajar bahasa dan budaya Jepang di ruang kelas.

Begitu bel sekolah usai, ia tak bisa langsung merebahkan badan. Demi menopang biaya hidup di perantauan, Dalfa menyambung hari dengan bekerja paruh waktu (arubaito) di sebuah supermarket lokal hingga pukul 21.00 malam.

"Pulang kerja jam sembilan malam. Nah, dari jam sepuluh malam sampai jam dua belas, kadang sampai jam satu dini hari, baru saya sempatkan latihan menari," kisahnya.

Tak ada studio tari berlantai kayu atau berdinding cermin lebar di Toyokawa. Tempat latihannya hanyalah sepetak kamar tidur sempit di dalam apartemen (apato) sewaannya.

Di sudut ruangan sunyi itulah ia meliukkan tubuh, menghafal tempo kendang Sunda, sembari menahan entakan agar tidak mengganggu ketenangan tetangga sekitar.

Jadwal tanpa jeda itu akhirnya menuntut bayaran mahal. Beberapa hari menjelang pentas, daya tahan tubuh Dalfa tumbang.

"Tiga hari sebelum acara, saya jatuh sakit. Badan benar-benar drop, sampai kerja pun terpaksa libur. Ditambah lagi di sekolah sedang pekan ujian, jadi pulang sekolah saya memaksakan diri ujian. Selama beberapa hari istirahat total, baru H-3 mulai coba nari lagi dalam keadaan masih pilek dan badan kurang fit," ungkapnya mengenang saat-saat kritis tersebut.

Perjuangan logistik pun tak kalah mengharukan. Kostum mewah berhias bendera Merah Putih dan Hinomaru yang mencuri perhatian publik Nagoya bukan hasil sewaan di Jepang.

Busana tersebut dirancang dan dijahit langsung oleh keluarga besar Sanggar Jampang Warrior Dance (JWD) di Surade, Sukabumi. Kain dan aksesorinya diterbangkan menyeberangi samudra secara bertahap lewat jasa titip (jastip) serta koper kerabat yang bertolak ke Jepang.

Bahkan saat tiba di Nagoya yang berjarak sekitar dua jam perjalanan kereta dari kediamannya di Toyokawa Dalfa tak didampingi tim penata rias maupun asisten pribadi.

"Semuanya saya siapkan mandiri. Pasang sanggul sendiri, dandan sendiri. Untungnya sudah terbiasa mandiri dari zaman masih pentas di sanggar di Surade dulu," tuturnya tersenyum.

Bagi Dalfa, lelah arubaito, ujian sekolah, demam, hingga latihan tengah malam di kamar sempit terbayar lunas saat tabuhan gamelan memukau warga Jepang. Keringat di negeri orang menjadi bukti bahwa gadis pelosok Sukabumi mampu berdiri tegak menaklukkan keterbatasan.

(sya/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads