9 Fakta 'Gurun' Sampah di Pasar Caringin Bandung

9 Fakta 'Gurun' Sampah di Pasar Caringin Bandung

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 17 Des 2024 09:30 WIB
Tumpukan sampah di Pasar Caringin
Tumpukan sampah di Pasar Caringin. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Pasar Caringin di Kota Bandung kini berubah menjadi hamparan 'gurun' sampah. Di pasar induk ini, sampah menumpuk karena tidak diangkut berbulan-bulan.

Kondisi ini menimbulkan kesan kumuh. Selain itu juga berdampak pada pedagang yang kehilangan pemasukan.

Berikut ini fakta-faktanya di balik persoalan 'gurun' sampah tersebut

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Tidak Muncul Tiba-Tiba

Tumpukan sampah yang menjelma menjadi 'gurun' di Pasar Caringin, Kota Bandung, bukan muncul tanpa sebab. 'Gurun' sampah ini muncul karena pengurangan ritase pembuangan yang dikurangi.

Irwan Candra, salah satu petugas kebersihan di Pasar Caringin menuturkan, sebelum sampah menumpuk seperti sekarang, ritase pembuangan ke TPA Sarimukti dari Pasar Caringin adalah 10 ritase per hari.

ADVERTISEMENT

2. Terjadi Sejak TPA Sarimukti Terbakar

Namun sejak terjadi darurat sampah karena TPA Sarimukti terbakar pada 2023, ritase pembuangan sampah Pasar Caringin perlahan dikurangi dari 10 menjadi 3 ritase saja per hari.

"Dulu 10 ritase per hari, sekitar 80 ton kapasitasnya. Sekarang hanya 3 ritase per hari atau 24 ton saja," kata Irwan saat ditemui detikJabar di Pasar Caringin, Senin (16/12/2024).

3. Produksi Sampah Capai 60 Ton

Produksi sampah di Pasar Caringin, kata Irwan, mencapai 60 ton sehari. Dengan kondisi itu, Irwan mengaku pengelola pasar tidak bisa berbuat banyak karena sampah yang terus menumpuk.

"Logikanya ini ada 3 truk per hari, sementara sampah di Caringin ini 60 ton per hari. Kalau sekarang 60 ton, yang dibuang hanya 3 ritase jelas akan bertambah. Satu mobil sekitar 8-10 ton, otomatis bertumpuk," tegasnya.

"Yang dibuang dengan yang diangkut lebih banyak yang diendapkan di sini," imbuhnya.

4. Sudah 3 Bulan

Menurut Irwan, sampah yang menumpuk sudah berlangsung kurang lebih 3 bulan. Selain dari para pedagang, tumpukan sampah juga berasal dari warga yang diam-diam membuang di lokasi.

"Ada dari pasar ada yang nitip dari lingkungan sekitar. Jadi ada warga yang diam-diam juga buang sampah di sini. Jadi bukan murni dari pedagang saja," ujarnya.

5. Dua Mesin Pengolah Sampah

Pengelola Pasar Caringin tidak tinggal diam menyikapi sampah-sampah itu. Irwan mengungkapkan, pasar sudah menyediakan dua alat pengolah sampah yakni mesin pres dan pembakaran. Namun dua alat itu belum mampu untuk mengolah seluruh sampah yang ada.

"Mesin itu juga baru satu bulan ada, satu mesin maksimal 5 ton kapasitasnya. Tetap gak cukup untuk mengolah semua sampah," terangnya.

6. Sempat Dikunjungi Pejabat

Sementara Staf Kebersihan Pasar Caringin, Edo Pribadi menambahkan, beberapa bulan lalu sejumlah pejabat sempat mendatangi Pasar Caringin untuk melihat kondisi sampah di sana. Edo menyebut saat itu dijanjikan solusi untuk mengatasi persoalan sampah.

"Bulan kemarin ada yang ke sini dan memberi solusi tapi sampai sekarang masih proses. Solusinya katanya mau menyediakan tempat pembuangan sampah Caringin di suatu tempat, katanya lagi proses," ucap Edo.

7. Pedagang Kehilangan Pendapatan

Juna Sembiring, salah seorang pedagang di kios yang letaknya persis berseberangan dengan 'gurun' sampah mengaku sejak sampah menumpuk banyak pedagang yang mengeluh karena bau tidak sedap yang menyengat.

Juna mengaku kondisi sampah yang menumpuk sudah berlangsung sejak lama. Hal itu membuat Juna yang merupakan penjual masakan harus kehilangan pendapatan karena tidak ada lagi pembeli yang datang.

"Keganggu lah, orang makan minum ngeluh semua, gak ada yang datang kalau kayak gini. Biasanya ramai ini di sini, sekarang Rp 100 ribu aja gak ada dapat gara-gara sampah ini," jelasnya.

8. Banyak Pedagang Tutup

Tidak hanya Juna yang berhenti sementara menjual makanan, sejumlah pedagang lain memilih tutup karena keberadaan 'gurun' sampah tersebut. Hingga saat ini, setidaknya ada 4-5 pedagang yang tutup karena kondisi itu.

"Kalau di sini sekitar 10 ruko di depan tumpukan sampah, yang buka hanya 6, yang tutup 4-5 karena bau itu," ucap Staf Kebersihan Pasar Caringin, Edo Pribadi.

9. Tanggung Jawab Pengelola Pasar

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Dudy Prayudi mengatakan, sampah tersebut merupakan tanggung jawab pengelola pasar. Sebab Pasar Caringin merupakan pasar swasta yang tidak berada di bawah kewenangan Pemkot Bandung.

"Pasar Caringin dimiliki oleh swasta, maka pengelola swasta wajib menangani sampah di area tersebut. Selain Pasar Caringin, pasar lainnya adalah milik Pemkot Bandung dan tanggung jawab pengelolaan sampahnya oleh Perumda Pasar," kata Dudy.



Hide Ads