Kisah Abdullah bin Hudzafah Menolak Murtad Meski Dijanjikan Kekayaan dan Jabatan

Kisah Abdullah bin Hudzafah Menolak Murtad Meski Dijanjikan Kekayaan dan Jabatan

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Minggu, 04 Okt 2026 05:00 WIB
Biblical vector illustration series, young Jesus teaches at the temple
Ilustrasi sahabat nabi. Foto: Getty Images/rudall30
Jakarta -

Abdullah bin Hudzafah merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang pernah menghadapi ujian berat saat menjadi tawanan.

Dikutip dari buku Jiwa-Jiwa Berkarakter: Kisah 70 Sahabat Rasul karya Dinar Rafikhalif, Abdullah berasal dari Quraisy dan masuk Islam pada masa awal dakwah.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abdullah ikut berperang melawan pasukan Romawi di Syam. Namun, ia tertangkap dalam pertempuran dan dibawa menghadap kaisar Romawi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Abdullah bin Hudzafah yang Menolak Murtad

Saat menjadi tawanan, Abdullah ditawari kekayaan dan jabatan jika bersedia meninggalkan Islam. Namun, ia menolak dan tetap memeluk agamanya meski kaisar mengancam akan menyiksanya.

Kaisar kemudian memerintahkan agar sebuah bejana besar berisi minyak dipanaskan hingga mendidih. Seorang tawanan lainnya dilemparkan ke dalamnya di hadapan Abdullah untuk menakut-nakutinya.

ADVERTISEMENT

Melihat kejadian itu, Abdullah menangis. Menurut kisah dalam buku tersebut, ia bukan menangis karena takut mati, melainkan karena hanya memiliki satu nyawa untuk dikorbankan di jalan Allah SWT. Ia berharap memiliki banyak nyawa agar semuanya dapat digunakan untuk mempertahankan agamanya.

Meski menyaksikan dan mengalami semua hukuman tersebut, Abdullah tetap menolak meninggalkan Islam.

Melihat Abdullah tetap bertahan dan tidak bersedia meninggalkan Islam, Kaisar Romawi akhirnya kagum dan menawarkan pembebasan dengan syarat ia bersedia mencium kepala sang kaisar. Abdullah awalnya menolak, tetapi kaisar menambahkan bahwa ia juga akan membebaskan 100 tawanan muslim jika permintaan itu dipenuhi.

Demi membebaskan para tawanan, Abdullah akhirnya bersedia mencium kepala kaisar. Ia pun dibebaskan bersama seratus tawanan muslim lainnya.

Setibanya di Madinah, Abdullah menceritakan peristiwa tersebut kepada Khalifah Umar bin Khattab. Umar mengapresiasi keputusan Abdullah dan menyatakan bahwa kaum Muslimin patut mencium kepalanya. Umar pun menjadi orang pertama yang melakukannya.

Keputusan Abdullah untuk menerima tawaran kaisar tidak dilakukan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia bersedia melakukannya karena syarat tersebut dapat membebaskan seratus tawanan muslim sekaligus.

Kisah Abdullah bin Hudzafah memperlihatkan bagaimana ia tetap mempertahankan Islam meski dihadapkan pada harta, jabatan, dan ancaman hukuman. Sikap tersebut sejalan dengan kandungan Surah An-Nahl ayat 106 yang membahas orang-orang yang kufur setelah beriman. Ayat tersebut juga menjelaskan pengecualian bagi orang yang dipaksa mengucapkan kalimat kufur, sementara hatinya tetap beriman.

مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Artinya: "Siapa yang kufur kepada Allah setelah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa (mengucapkan kalimat kekufuran), sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanannya (dia tidak berdosa). Akan tetapi, siapa yang berlapang dada untuk (menerima) kekufuran, niscaya kemurkaan Allah menimpanya dan bagi mereka ada azab yang besar."

Wallahu A'lam.



(inf/erd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads