Kisah Wanita yang Diazab karena Telantarkan Kucing

Kisah Wanita yang Diazab karena Telantarkan Kucing

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Minggu, 04 Okt 2026 06:00 WIB
Ilustrasi Kucing
Ilustrasi kucing ditelantarkan. (Foto: Sangia/Unsplash)
Jakarta -

Islam mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia, melainkan mencakup seluruh makhluk ciptaan Allah di muka bumi. Kasih sayang yang tulus dapat mengantarkan seseorang menuju surga, sementara kekejaman dan kezaliman terhadap makhluk yang lemah bisa menjadi sebab terjerumusnya seseorang ke jurang api neraka.

Pelajaran mendalam mengenai hal ini tampak nyata dalam sebuah riwayat, mengutip buku Eko-Sufisme: Makrifat Cinta Semesta karya Abrar M. Dawud Faza. Rasulullah SAW menceritakan kisah wanita yang diazab karena menelantarkan kucing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

ADVERTISEMENT

Artinya: "Seorang wanita diazab karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati. Maka ia masuk neraka karena itu. Ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum saat mengurungnya, dan ia tidak membiarkannya makan dari serangga-serangga bumi." (HR Bukhari)

Kisah tragis tersebut diuraikan lebih rinci dalam buku Al Quran dan As Sunnah Bicara Wanita karya As-Sayyid Muhammad Shiddiq Khan. Dalam hadits riwayat Ahmad dari sahabat Jabir, ditegaskan bahwa neraka telah diwajibkan bagi wanita itu akibat kezalimannya.

Bahkan, peristiwa tersebut pernah diperlihatkan langsung kepada Rasulullah SAW saat mendirikan salat gerhana, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Asma' binti Abu Bakar. Kala itu, api neraka didekatkan kepada beliau hingga tampak pemandangan seorang wanita sedang dicabik-cabik oleh seekor kucing.

Ketika Nabi SAW bertanya perihal keadaannya, dijelaskan bahwa wanita tersebut menahan seekor kucing tanpa belas kasihan hingga mati. Riwayat lain turut menceritakan kisah bahwa ada seorang wanita berperawakan tinggi. Ia disiksa dengan kucing yang datang menggigitnya dari arah depan dan belakang sebagai balasan setimpal di akhirat.

Anjuran Menyayangi Makhluk Allah di Bumi

Syariat Islam menempatkan sifat kasih sayang sebagai kunci turunnya rahmat Ilahi. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dalam Sunan Tirmidzi:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ، الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللهُ

Artinya: "Orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu. Kasih sayang itu bagian dari rahmat Allah, barangsiapa menyayangi, Allah akan menyayanginya. Siapa memutuskannya, Allah juga akan memutuskannya." (HR Tirmidzi)

Nilai luhur ini tercermin indah dalam kehidupan Rasulullah SAW. Mengutip buku Kabar Gembira dari Kubur karya Furqan Al Azizy, beliau merupakan sosok penyayang yang memelihara seekor kucing bernama Mueeza.

Suatu ketika, saat Mueeza tertidur lelap di atas jubahnya, Rasulullah SAW memilih memotong bagian jubah tersebut agar tidak mengganggu tidur kucingnya. Sikap lembut ini menular kepada sang istri, Sayyidah Aisyah RA, yang sangat menyukai kucing dan merasa kehilangan ketika ditinggal kucing peliharaannya.

Namun, tidak ditemukan riwayat shahih berkenaan dengan kisah kucing Muezza itu.

Terlepas dari kebenaran hadits tersebut, Islam menganjurkan umatnya berlaku baik kepada hewan. Bahkan, andaikata harus membunuh hewan karena alasan tertentu, Islam tetap mewajibkan perlakuan yang penuh adab. Hal ini ditegaskan dalam kitab Syarah Hadits Arba'in An-Nawawi karya Imam An-Nawawi, dari Syaddad bin Aus RA:

"Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik pada segala hal, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan yang disembelihnya." (HR Muslim)

Wallahu a'lam.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads