Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, atau lebih dikenal dengan Imam Bukhari, merupakan salah satu ulama hadits terkemuka dalam sejarah Islam. Karya utamanya, Shahih Al-Bukhari, diakui oleh para ulama sebagai kitab paling shahih setelah Al-Qur'an.
Namun, di balik ilmu dan dedikasinya yang luar biasa bagi umat, akhir perjalanan hidup Imam Bukhari diwarnai fitnah yang berat. Lantas, bagaimana kisah hari-hari terakhir perjalanan hidup Imam Bukhari sebelum menghembuskan napas terakhirnya di Khartank?
Hari-Hari Terakhir Imam Bukhari Sebelum Wafat di Khartank
Imron Mustofa dalam bukunya Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi memaparkan bahwa Imam Bukhari lahir di Bukhara (sekarang Uzbekistan) pada Jumat malam, 13 Syawal 194 H. Sejak usia muda, beliau dianugerahi hafalan yang sangat kuat serta ketelitian tinggi dalam menyaring ribuan hadits Nabi SAW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beliau menjelajahi berbagai penjuru negeri untuk mengumpulkan hadits dengan tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi. Meski dikenal memiliki akhlak yang lembut, tidak pernah menggunjing, dan sangat pemurah, perjalanan hidup seorang ulama besar tidak pernah sepi dari kedengkian dan ujian zaman.
Imam Bukhari menjelang akhir hayatnya mengalami beberapa ujian berat berupa fitnah keji. Ujian tersebut bermula ketika timbul kesalahpahaman dan rasa dengki dari sebagian kalangan di Naisabur. Mereka menuduh Imam Bukhari sebagai orang yang menganggap Al-Qur'an sebagai makhluk.
Fitnah tersebut sampai membuat gurunya, Muhammad bin Yahya al-Zhuhli, naik pitam dan memberikan ultimatum hingga Imam Bukhari mulai dijauhi oleh orang-orang. Beliau menjawab tuduhan tersebut dengan kalimat,
"Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Al-Qur'an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, mati, dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah. Barangsiapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur'an adalah makhluk, ia adalah pendusta."
Namun, sang guru sudah terlanjur murka. Imam Bukhari pun mengalah dan memilih untuk keluar dari negeri tersebut demi keselamatannya dan kembali ke tanah kelahirannya di Bukhara.
Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala menjelaskan bahwa Imam Bukhari kembali mendapat ujian di kampung halamannya, Bukhara. Penguasa Bukhara saat itu meminta Imam Bukhari untuk datang ke rumahnya guna membacakan Al-Jami' dan At-Tarikh kepada anak-anaknya. Namun, beliau menolaknya.
Gubernur kembali meminta Imam Bukhari datang dengan membuatkan jadwal khusus untuk anak-anaknya dan melarang orang lain hadir. Beliau kembali menolak dan berkata, "Aku tidak akan mengkhususkan seorang pun."
Ketegangan ini membuat penguasa Bukhara mengasingkan Imam Bukhari dari kota tersebut. Beliau kemudian berjalan menuju Samarkand, tetapi konflik di antara warga Samarkand yang terpecah antara menerima dan menolaknya kembali terjadi.
Merasa dirinya menjadi beban perpecahan umat, Imam Bukhari mengubah tujuannya ke sebuah desa kecil bernama Khartank, beberapa mil dari Samarkand, tempat tinggal beberapa kerabatnya.
Wafatnya Imam Bukhari
Di desa Khartank itulah, dalam keadaan terasing dan terzalimi, Imam Bukhari memanjatkan doa setelah menunaikan salat malam (tahajud). Mengutip riwayat dalam Siyar A'lam An-Nubala, beliau merintih kepada Allah SWT,
"Ya Allah, sesungguhnya bumi yang luas ini terasa makin sempit bagiku. Maka panggillah (wafatkanlah) aku kembali kepada-Mu."
Pada malam 1 Syawal 256 H, ketika kerabatnya bersiap-siap menaikkan beliau ke atas kendaraan untuk memenuhi undangan warga Samarkand yang telah berdamai, tubuh beliau melemah. Beliau memberikan wasiat pada warga Khartank, "Kafani aku dengan tiga helai baju (kain kafan) putih. Tidak ada padanya baju panjang dan serban."
Imam Bukhari meninggal pada usia 62 tahun 13 hari. Peluh bercucuran di keningnya saat meninggal, dan makamnya keluar semerbak wangi bunga.
Dalam sumber yang sama, Abdul Wahid bin Adam Ath-Thawarisi berkata,
"Aku bermimpi melihat Nabi SAW. Saat itu, beliau bersama sejumlah sahabat dan sedang berdiri di suatu tempat. Aku memberi salam, lalu bertanya, 'Kenapa engkau berdiri di sini, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Aku sedang menunggu Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.' Beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar wafatnya Al-Bukhari. Setelah aku perhatikan, ternyata beliau meninggal tepat ketika aku bermimpi itu."
Wallahu a'lam.
