Strategi Cerdas Salman Al-Farisi di Perang Khandaq

Strategi Cerdas Salman Al-Farisi di Perang Khandaq

Hanif Hawari - detikHikmah
Selasa, 01 Sep 2026 05:45 WIB
Ilustrasi Salman Al-Farisi gagas parit di perang Khandaq
Ilustrasi Salman Al-Farisi gagas parit di perang Khandaq (Foto: ChatGPT)
Jakarta -

Perang Khandaq menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah peradaban Islam pada masa Rasulullah SAW. Di balik kemenangan besar umat Islam pada pertempuran tersebut, ada strategi brilian dari sahabat Nabi, Salman Al-Farisi, yang sukses melumpuhkan pasukan sekutu musuh.

Perang yang meletus pada bulan Syawal tahun 5 Hijriyah (sekitar 627 Masehi) ini dipicu oleh rasa dendam kaum Yahudi dari Suku Bani Nadhir yang terusir dari Madinah.

Berdasarkan buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah karya Abu Achmadi dan Sungarso, kaum Yahudi tersebut menghasut dan bersekutu dengan kafir Quraisy Makkah untuk menyerang Kota Madinah. Kombinasi pasukan persekutuan (Ahzab) ini menghimpun kekuatan hingga 10.000 prajurit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumlah tersebut berbanding jauh dengan kekuatan pasukan muslim yang hanya berkisar 3.000 orang. Melihat ketimpangan jumlah prajurit yang sangat mencolok, strategi perang yang tak biasa sangat dibutuhkan oleh umat Islam.

ADVERTISEMENT

Inovasi Parit Salman Al-Farisi: Taktik Pertahanan ala Persia

Di tengah situasi krusial tersebut, muncul usulan cerdas dari Salman Al-Farisi. Merujuk buku Salman Al Farisi, Petualang Pencari Kebenaran karya Zaidin Sidik, Salman merupakan sahabat Nabi asal Desa Jayyun, Kota Isfahan, Persia. Sebelum memeluk Islam, ia sempat bertugas menjaga api-posisi terhormat dalam stratifikasi sosial masyarakat Persia kala itu.

Sebagaimana dikutip dari buku Sejarah Terlengkap Peradaban Islam tulisan Abul Syukur al-Azizi, Salman mengusulkan taktik pembuatan parit (khandaq) sebagai benteng pertahanan Kota Madinah.

Strategi parit ini diadopsi dari kebiasaan militer di Persia saat menghadapi gempuran pasukan berkuda. Pada zaman itu, taktik benteng parit sama sekali belum pernah dikenal dalam tradisi peperangan bangsa Arab, yang umumnya mengandalkan teknik serang-bertahan, gerilya, atau gempur terbuka.

Rasulullah SAW menyetujui ide brilian tersebut dan langsung merancang peta penggalian dari batas utara hingga selatan Madinah. Pasukan muslim dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil: setiap 10 prajurit diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter, dengan lebar 4,62 meter dan kedalaman 3,234 meter.

Hasilnya luar biasa. Dalam waktu sekitar 6 hingga 10 hari, umat Islam berhasil merampungkan parit raksasa sepanjang 5.544 meter. Parit ini menjadi rintangan tak menembus yang menghentikan laju kuda dan prajurit musuh di luar garis batas Kota Madinah.

Keberanian Ali bin Abi Thalib dalam Duel Penentu

Selain barikade parit, titik balik kemenangan pasukan muslim ditentukan oleh duel sengit antara Ali bin Abi Thalib melawan jenderal veteran musuh, Amr bin Abdi Wudd.

Amr dikenal sebagai salah satu ksatria pedang paling ditakuti. Pada awalnya, Rasulullah SAW sempat menahan Ali untuk maju karena mengkhawatirkan keselamatannya-terlebih trauma kehilangan paman beliau, Hamzah, pada Perang Uhud masih berbekas. Beliau sempat mempertimbangkan sahabat lain yang lebih senior.

Namun, Ali bin Abi Thalib tetap bersikeras dan memohon izin untuk menghadapi pimpinan musuh tersebut. Setelah mengizinkannya, pertolongan Allah SWT menaungi pasukan Islam.

Di luar dugaan lawan, Ali bin Abi Thalib berhasil menumbangkan Amr bin Abdi Wudd dalam duel satu lawan satu. Tewasnya panglima perang utama musuh tersebut meruntuhkan mental ribuan pasukan sekutu, hingga akhirnya mereka memutuskan mundur dan membatalkan pengepungan Kota Madinah.



(hnh/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads