Kisah Abu Ad-Darda, Sahabat Terakhir Masuk Islam dan Hidup Zuhud

Kisah Abu Ad-Darda, Sahabat Terakhir Masuk Islam dan Hidup Zuhud

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 25 Jan 2026 05:00 WIB
Kisah Abu Ad-Darda, Sahabat Terakhir Masuk Islam dan Hidup Zuhud
Ilustrasi Abu Ad-Darda (Foto: Getty Images/GN STUDIO)
Jakarta -

Abu Ad-Darda al-Anshari adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena kedalaman ilmu, kebijaksanaan, dan perjalanan hidupnya yang penuh pelajaran. Beliau bernama asli Uwaimir bin Amir dari suku Khazraj, putra dari Mahabbah binti Qaqid bin Amru, yang kelak namanya harum dalam sejarah Islam.

Ketika Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya tiba di Madinah, Abu Ad-Darda langsung memeluk Islam dengan sepenuh hati. Menariknya, sebelum dikenal sebagai pribadi yang zuhud dan penuh hikmah, ia adalah pedagang sukses yang kaya raya. Pasca-Perang Khandaq, ia pun resmi dipersaudarakan dengan Salman Al-Farisi.

Sahabat Nabi yang Terakhir Masuk Islam

Berdasarkan catatan Muhammad Raji Hassan dalam buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi, Abu Ad-Darda merupakan anggota suku Khazraj terakhir yang memeluk Islam. Meski demikian, ia berhasil membuktikan dirinya sebagai sahabat yang sangat menonjol dalam hal kedalaman ilmu dan intensitas ibadah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum memeluk Islam, Abu Ad-Darda dikenal tekun merawat berhalanya, bahkan memberinya wewangian dan pakaian sutra. Meski Abdullah bin Rawahah sebagai sahabat karib terus berupaya membujuknya untuk memeluk Islam, Abu Ad-Darda saat itu tetap teguh menolak ajakan beriman tersebut.

Sebuah peristiwa besar terjadi saat Abu Ad-Darda tengah sibuk mengurus dagangan di tokonya. Abdullah bin Rawahah mendatangi kediaman sahabatnya itu dan langsung menghancurkan berhala yang selama ini dipuja oleh Abu Ad-Darda.

ADVERTISEMENT

Tindakan itu dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Abu Ad-Darda, hingga akhirnya disaksikan oleh istrinya, Ummu Darda.

Ummu Darda menangis histeris saat melihat patung sembahan itu hancur berkeping-keping. Ketika Abu Ad-Darda pulang, ia mendapati istrinya memeluk berhala rusak tersebut dengan penuh ketakutan dan kesedihan.

Awalnya emosi Abu Ad-Darda memuncak, namun hatinya segera diliputi perenungan yang dalam. Ia berkata bahwa jika berhala itu benar memiliki kekuatan, tentu ia mampu melindungi dirinya sendiri dari kehancuran.

Berangkat dari kesadaran mendalam tersebut, Abu Ad-Darda segera menemui Abdullah bin Rawahah agar dibimbing menghadap Rasulullah SAW untuk bersyahadat. Guna mengejar ketertinggalannya, ia kemudian bertekad kuat dalam mendalami ilmu dan ibadah, hingga akhirnya tumbuh menjadi sosok hafiz Al-Qur'an dan pakar agama yang disegani.

Memilih untuk Hidup Zuhud

Dalam buku Biografi 60 Sahabat Nabi karya Muhammad Khalid, Abu Darda digambarkan sebagai sosok yang memilih prinsip zuhud dengan menjaga hatinya agar tidak diperbudak dunia. Beliau pernah memanjatkan doa unik, "Ya Allah, lindungilah aku dari hati yang tercerai-berai."

Saat orang lain bingung, ia menerangkan bahwa hati yang tercerai-berai adalah hati yang pikirannya terpecah karena memikirkan kekayaan di berbagai tempat. Selain itu, ia aktif mengingatkan rekan-rekannya agar tidak terpesona oleh kemewahan dunia, bahkan hingga menuangkannya dalam surat kepada sahabatnya.

"Amma ba'd, tidak satu pun harta kekayaan dunia yang engkau miliki, melainkan sudah ada orang lain yang memilikinya sebelum dirimu, dan akan terus ada orang lain memilikinya setelah dirimu. Dunia yang engkau miliki sejatinya hanya sekadar yang telah kamu manfaatkan untuk dirimu. Karena itu, utamakanlah harta itu untuk anakmu di mana engkau mengumpulkan harta untuknya agar menjadi warisan baginya."

"Sejatinya, engkau mengumpulkan harta itu untuk salah satu dari dua kemungkinan: (pertama) untuk anak yang saleh yang beramal dengan harta itu untuk menaati Allah, maka ia berbahagia dengan segala kepayahanmu mengumpulkan harta itu. Dan (kedua) untuk anak durhaka yang mempergunakan harta itu untuk maksiat, maka engkau lebih celaka lagi dengan harta yang telah kamu kumpulkan untuknya itu. Percayakanlah nasib mereka kepada rezeki yang ada pada Allah dan selamatkan dirimu sendiri."

Sebuah keputusan mengejutkan pernah diambil Abu Darda saat ia menampik lamaran Yazid bin Muawiyah, putra sang Khalifah, untuk meminang putrinya. Alih-alih memilih kemilau kekuasaan, ia justru menjatuhkan pilihan pada seorang pemuda sederhana namun taat beragama.

Di hadapan orang-orang yang terheran-heran, Abu Darda mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kemewahan istana justru melunturkan nilai spiritual sang putri. Ia pun memberikan analogi yang luar biasa: bahwa rezeki akan mengejar manusia sekuat kematian mengejar nyawa, bahkan jika seseorang berusaha lari darinya.




(hnh/kri)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads