Kisah Ummu Umarah, Sahabat Perempuan yang Melindungi Rasulullah di Medan Perang

Kisah Ummu Umarah, Sahabat Perempuan yang Melindungi Rasulullah di Medan Perang

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 19 Jul 2026 09:00 WIB
Young arabian woman in hijab with sexy blue eyes. Yashmak.
Ilustrasi Ummu Umarah (Foto: Getty Images/iStockphoto/IgorVoloshin)
Jakarta -

Di antara para sahabat Nabi Muhammad SAW, terdapat sosok perempuan yang dikenang karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela Islam. Ia adalah Ummu Umarah.

Ummu Umarah memiliki nama asli Nusaibah binti Ka'ab RA. Ia seorang sahabat dari kalangan Anshar yang rela mempertaruhkan nyawa demi melindungi Rasulullah SAW di tengah berkecamuknya peperangan.

Keberanian Ummu Umarah membuat namanya dikenang sepanjang sejarah Islam. Bahkan, ia mendapat julukan Hamraul Asad atau "Singa Merah", sebuah gelar yang mencerminkan kegigihan dan keberaniannya di medan perang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Ummu Umarah Dijuluki Singa Merah?

Dalam buku Ummi: Sang Ratu Bidadari Surga karya Ambar, dijelaskan bahwa julukan "Singa Merah" disematkan kepada Nusaibah binti Ka'ab karena keberaniannya menghadapi musuh. Ia dikenal sebagai sosok yang tanpa gentar mengangkat senjata ketika kaum muslimin membutuhkan pertolongan.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, buku Saatnya Berevolusi, Tunggu Apa Lagi? karya Nita Puji menjelaskan makna di balik julukan tersebut. Singa melambangkan keberanian, kekuatan, dan ketangguhan, sedangkan warna merah menjadi simbol perjuangan hingga titik darah penghabisan.

Adapun dalam buku Wanita-Wanita dalam Al-Qur'an karya Abdurrahman Umairah, disebutkan bahwa Ummu Umarah merupakan nama lain dari Nusaibah binti Ka'ab, salah seorang perempuan Anshar yang memiliki keimanan luar biasa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Sahabat yang Selalu Berada di Dekat Rasulullah

Keberanian Ummu Umarah bahkan mendapat pujian langsung dari Rasulullah SAW.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda:

"Ketika Perang Uhud, Nusaibah binti Ka'ab ikut berperang dan Rasulullah berkata, 'Tidaklah aku melihat ke sebelah kanan dan ke kiri kecuali aku melihatnya berperang di dekatku.'"

Riwayat tersebut menggambarkan betapa dekatnya posisi Ummu Umarah dengan Rasulullah SAW saat situasi perang berlangsung. Di tengah kepungan musuh, ia tetap berada di sekitar Nabi untuk memberikan perlindungan.

Selain dikenal sebagai pejuang, Ummu Umarah juga merupakan perempuan yang sangat kuat dalam ibadah. Ia dikenal rajin melaksanakan salat malam, tekun beribadah, serta memiliki keyakinan yang sangat kokoh kepada Allah SWT.

Sebagai bagian dari kaum Anshar, keutamaan mereka juga disebutkan dalam Al-Qur'an, tepatnya Surah Al-Hasyr ayat 9.

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

Artinya: "Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung." (QS Al-Hasyr: 9).

Kisah Ummu Umarah Melindungi Rasulullah di Perang Uhud

Kisah heroik Ummu Umarah banyak diabadikan dalam berbagai kitab sejarah Islam. Salah satunya terdapat dalam buku Sejarah Lengkap Rasulullah Jilid 2 karya Ali Muhammad Ash-Shallabi.

Pada awalnya, Nusaibah ikut dalam Perang Uhud bukan sebagai prajurit utama. Ia bersama sejumlah perempuan bertugas menyediakan air minum dan membantu merawat pasukan muslim yang terluka.

Namun keadaan berubah drastis ketika pasukan kaum muslimin mengalami kekacauan setelah sebagian pemanah meninggalkan pos mereka. Banyak sahabat yang gugur, sementara Rasulullah SAW menjadi sasaran utama serangan pasukan Quraisy.

Dalam kondisi darurat itulah Ummu Umarah mengambil pedang dan perisai, lalu berdiri di barisan depan untuk melindungi Rasulullah SAW.

Dhamrah bin Sa'id, cucu Ummu Umarah, meriwayatkan bahwa neneknya turut berada di medan Perang Uhud. Ia juga menuturkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Kedudukan Nusaibah binti Ka'ab hari ini lebih mulia daripada kedudukan si fulan dan si fulan."

Ucapan Rasulullah tersebut menjadi bentuk penghargaan atas jasa besar Ummu Umarah yang mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan beliau.

Mengalami 13 Luka Demi Membela Islam

Dalam peperangan itu, Ummu Umarah bertempur dengan penuh keberanian. Pakaiannya diikat erat agar lebih leluasa bergerak saat menghadapi musuh.

Ia terus mengayunkan pedang dan melindungi Rasulullah SAW meski tubuhnya berkali-kali terkena sabetan senjata.

Menurut riwayat Dhamrah bin Sa'id, ketika Ummu Umarah wafat dan jenazahnya dimandikan, terlihat 13 bekas luka di tubuhnya.

Luka yang paling berat berada di bagian tengkuk akibat sabetan Ibnu Qam'ah, salah seorang prajurit Quraisy.

Luka tersebut bahkan membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk sembuh.

Tetap Berangkat Berperang Meski Luka Belum Sembuh

Belum lama menjalani pengobatan, Rasulullah SAW kembali mengajak kaum muslimin bergerak menuju Hamra' Al-Asad untuk mengejar pasukan Quraisy.

Meski luka di tubuhnya belum pulih sepenuhnya, Ummu Umarah tetap memenuhi panggilan jihad.

Ia hanya membalut lukanya dengan kain sebelum berangkat. Darah masih mengalir dari bekas luka tersebut, tetapi hal itu tidak menyurutkan tekadnya untuk kembali membela Rasulullah SAW dan agama Islam.

Setelah Rasulullah SAW kembali dari Hamra' Al-Asad, beliau mengutus Abdullah bin Ka'ab Al-Mazini, saudara Ummu Umarah, untuk memastikan kondisi sahabat perempuan itu.

Ketika mendapat kabar bahwa Ummu Umarah dalam keadaan baik, Rasulullah SAW merasa sangat gembira.

Hikmah dari Kisah Ummu Umarah

Keberanian Ummu Umarah menjadi salah satu kisah paling menginspirasi dalam sejarah Islam. Ia menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki peran besar dalam perjuangan menegakkan agama, meski tugas utamanya bukan berada di garis depan peperangan.

Ustaz Husain Al-Bakiri menjelaskan bahwa keikutsertaan Ummu Umarah dalam peperangan merupakan kondisi yang bersifat darurat.

Menurutnya, tidak terdapat riwayat sahih lain mengenai perempuan yang bertempur secara langsung bersama laki-laki selain riwayat tentang Nusaibah binti Ka'ab. Saat itu banyak pasukan yang melindungi Rasulullah SAW gugur sehingga siapa pun yang mampu mengangkat senjata berkewajiban mempertahankan beliau, termasuk Ummu Umarah.

Kisah ini menjadi teladan tentang keberanian, keikhlasan, dan pengorbanan seorang muslimah dalam membela agama. Di balik kelembutannya sebagai seorang ibu, Ummu Umarah menunjukkan bahwa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya mampu melahirkan keberanian yang luar biasa ketika agama berada dalam ancaman.

Wallahu a'lam.



(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads