Kisah Abdullah bin Hudzafah yang Menolak Murtad Meski Disiksa Raja Romawi

Kisah Abdullah bin Hudzafah yang Menolak Murtad Meski Disiksa Raja Romawi

Hanif Hawari - detikHikmah
Sabtu, 18 Jul 2026 06:00 WIB
Symbol of the Shia Muslim religion with an Ayatollah who prays and preaches in front of his followers by stretching a finger upwards.
Ilustrasi Abdullah bin Hudzafah (Foto: Getty Images/iStockphoto/Pict Rider)
Jakarta -

Sejarah Islam menyimpan banyak kisah keteladanan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan keteguhan iman dalam menghadapi berbagai ujian. Salah satu di antaranya adalah kisah Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi RA, sahabat Rasulullah SAW yang tetap mempertahankan keislamannya meski diancam, disiksa, hingga dijanjikan harta dan jabatan oleh Raja Romawi.

Keberanian Abdullah bin Hudzafah menjadi bukti bahwa keimanan sejati tidak mudah digoyahkan oleh godaan dunia maupun ancaman kematian. Kisah ini juga mengajarkan pentingnya berkorban demi mempertahankan akidah dan menyelamatkan sesama muslim.

Kisah keteladanan Abdullah bin Hudzafah ini dikisahkan dalam buku Lembaran Kisah Mutiara Hikmah karya Dian Erwanto dan 500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah karya Imam Ibnul Jauzi. Dari kisah tersebut, umat Islam dapat mengambil pelajaran bahwa iman yang kokoh tidak dapat dibeli dengan kekayaan, kekuasaan, maupun ancaman terhadap nyawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ditawan Saat Memimpin Pasukan ke Syam

Perjalanan penuh ujian Abdullah bin Hudzafah bermula ketika ia dipercaya memimpin pasukan kaum muslimin dalam misi pembukaan wilayah Syam. Saat itu, pasukannya berhadapan dengan tentara Romawi di kawasan Palestina.

ADVERTISEMENT

Namun, peperangan tidak berjalan sesuai harapan. Abdullah akhirnya tertawan oleh pasukan Romawi dan dibawa menghadap pemimpin mereka.

Di hadapan Raja Romawi, Abdullah mendapat tawaran untuk meninggalkan Islam dan memeluk agama Nasrani. Sebagai imbalannya, ia dijanjikan kekayaan, kedudukan tinggi, serta berbagai kemewahan dunia.

Meski dihadapkan pada tawaran yang menggiurkan, Abdullah sama sekali tidak tergoda. Ia menolak ajakan tersebut dan memilih tetap memegang teguh keimanannya kepada Allah SWT.

Tetap Teguh Meski Diancam Disiksa

Penolakan Abdullah membuat Raja Romawi murka. Sang raja kemudian memerintahkan agar Abdullah dihukum dengan cara dilemparkan ke dalam kuali berisi minyak yang mendidih.

Ketika hendak dieksekusi, Abdullah tampak menangis. Raja Romawi mengira tangisan itu muncul karena rasa takut menghadapi kematian.

Namun, jawaban Abdullah justru membuat sang raja terdiam.

Ia berkata bahwa dirinya tidak menangis karena takut mati. Yang membuatnya bersedih adalah ia hanya memiliki satu nyawa.

Andai memiliki seratus nyawa, kata Abdullah, ia rela mengorbankan semuanya satu per satu demi mempertahankan agama Allah dan berjuang di jalan-Nya.

Ucapan tersebut menunjukkan betapa kuat keyakinan Abdullah bin Hudzafah. Baginya, mempertahankan akidah jauh lebih berharga dibanding keselamatan diri.

Cium Kepala Raja Demi Bebaskan Tawanan Muslim

Keberanian Abdullah membuat Raja Romawi kagum. Meski demikian, sang raja kembali mengajukan syarat lain.

Ia mengatakan akan membebaskan Abdullah jika bersedia mencium kepalanya.

Abdullah mempertimbangkan tawaran tersebut dengan matang. Ia melihat kesempatan itu bukan sekadar untuk menyelamatkan dirinya, tetapi juga membebaskan puluhan tawanan muslim yang ikut ditahan.

Akhirnya, Abdullah menerima syarat tersebut. Setelah ia mencium kepala Raja Romawi, sang raja menepati janjinya dengan membebaskan Abdullah beserta sekitar 80 tawanan muslim lainnya.

Keputusan Abdullah bukanlah bentuk penghinaan terhadap Islam. Sebaliknya, tindakan itu merupakan strategi untuk menyelamatkan banyak nyawa kaum muslimin tanpa harus mengorbankan akidahnya.

Disambut Khalifah Umar bin Khattab

Sepulang ke Madinah, kisah keteguhan Abdullah bin Hudzafah sampai kepada Khalifah Umar bin Khattab RA.

Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian dan kecerdasannya, Umar mencium kepala Abdullah di hadapan para sahabat.

Tindakan Khalifah Umar menjadi bentuk apresiasi atas pengorbanan Abdullah yang berhasil mempertahankan keimanan sekaligus membebaskan banyak tawanan muslim.

Sejak saat itu, Abdullah semakin dihormati di tengah kaum muslimin. Para sahabat bahkan kerap berseloroh kepadanya dengan mengatakan bahwa ia pernah mencium kepala seorang pemimpin kafir yang gagah dan kuat. Candaan itu menjadi pengingat atas peristiwa besar yang berhasil dilaluinya dengan penuh kebijaksanaan.

Hikmah dari Kisah Abdullah bin Hudzafah

Kisah Abdullah bin Hudzafah mengandung banyak pelajaran yang relevan bagi umat Islam hingga saat ini.

Pertama, keteguhan iman merupakan bekal utama seorang muslim dalam menghadapi berbagai ujian. Abdullah membuktikan bahwa harta, jabatan, maupun ancaman kematian tidak mampu menggoyahkan keyakinannya kepada Allah SWT.

Kedua, kisah ini mengajarkan pentingnya kesetiaan terhadap ajaran Islam. Dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun, Abdullah tidak pernah rela menukar akidahnya dengan kenikmatan dunia.

Ketiga, seorang muslim juga dituntut memiliki kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Kesediaan Abdullah mencium kepala Raja Romawi bukan karena tunduk kepada kekufuran, melainkan sebagai ikhtiar untuk menyelamatkan puluhan tawanan muslim.

Keempat, perjuangan di jalan Allah terkadang menuntut pengorbanan yang besar. Abdullah menunjukkan bahwa kehormatan pribadi dapat dikesampingkan apabila membawa maslahat yang lebih luas bagi umat.

Wallahu a'lam.



(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads