Ada Nabi yang Berdakwah Nyaris Seribu Tahun

Ada Nabi yang Berdakwah Nyaris Seribu Tahun

Kristina - detikHikmah
Jumat, 05 Jun 2026 05:00 WIB
Ilustrasi sahabat nabi
Ilustrasi Nabi yang berdakwah hampir seribu tahun. Foto: Gemini/AI
Jakarta -

Umat manusia generasi awal pernah berada dalam kesesatan besar sepeninggalan Nabi Adam AS. Orang-orang tak lagi menyembah Allah, melainkan berhala-berhala yang mereka tuhankan.

Kisah ini terjadi sebelum diutusnya rasul pertama. Di saat kerusakan itu menyebar di bumi dan penyembahan berhala terjadi di segala penjuru, Allah SWT kemudian mengutus Nabi Nuh AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya terjemahan Umar Mujtahid mengatakan Nabi Nuh AS adalah rasul pertama yang diutus Allah SWT di bumi. Hal ini mengacu pada hadits Ibnu Hibban tentang syafaat dalam kitab Shahihain dari Abu Zur'ah bin Amr bin Jarir dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW.

Nabi SAW bersabda, "Mereka (ahli mauqif) datang menemui Adam lalu mengatakan, 'Wahai Adam, engkau ayah manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan sebagian ruh (ciptaan)-Nya padamu, memerintahkan para malaikat sujud padamu, dan menempatkanmu di surga, tidakkah kau memberi syafaat kepada kami (untuk menemui) Rabb-mu 'Azza wa Jalla?' Adam menjawab, 'Hari ini, Rabb-ku sangat marah, belum pernah Ia marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini setelahnya. Jiwaku (yang seharusnya diberi syafaat), jiwaku (yang seharusnya diberi syafaat)..."

ADVERTISEMENT

Nabi Nuh Dakwah Ratusan Tahun

Nabi Nuh AS menyeru kaumnya beribadah kepada Allah SWT, mengakui keesaan-Nya, dan meninggalkan penyembahan berhala, patung, ataupun thagut. Nabi Nuh AS mengajak manusia kembali pada generasi saleh Nabi Adam AS dulu.

Menurut riwayat Ibnu Abbas, Nabi Adam AS dan Nuh AS terpaut sepuluh generasi dan generasi awal ini semuanya memeluk Islam seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Setelah generasi saleh itu berlalu, manusia kemudian menyembah berhala. Praktik ini dipicu sejumlah hal salah satunya bisikan jahat setan.

Nabi Nuh AS berdakwah dengan penuh kesabaran. Dia menyeru kaumnya dengan berbagai cara tanpa mengenal waktu, sesekali diiringi kabar gembira dan kadang dengan ancaman.

"Wahai kaumku, sembahlah Allah (karena) tidak ada tuhan bagi kamu selain Dia." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah) aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (hari Kiamat). (Al A'raf: 59) "agar kamu tidak menyembah (sesuatu) kecuali Allah. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang (siksanya) sangat pedih." (Hud: 26) Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Apakah kamu tidak bertakwa?" (Mukminun: 23)

Seruan Nabi Nuh AS juga dikisahkan dalam sebuah surah yakni Nuh ayat 1-14.

"Wahai kaumku! Sesungguhnya, aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku," sampai pada firman-Nya, "Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian)." (Nuh: 2-14).

Seruan demi seruan itu tak dihiraukan kaum Nabi Nuh AS yang terlanjur larut dalam kesesatan. Mereka justru mendebat setiap perkataan sang rasul. Ini terjadi dalam beberapa generasi. Setiap generasi berlalu, mereka berpesan kepada generasi berikutnya agar tidak beriman kepada Nuh dan harus menentangnya.

Nabi Nuh AS terus berdakwah dengan sabar dan penuh kelembutan selama ratusan tahun. Allah SWT berfirman, "Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, mereka dilanda banjir besar dalam keadaan sebagai orang-orang zalim." (QS Al Ankabut: 14)

Setelah putus asa melihat kaumnya yang terus mendustakannya, Nabi Nuh AS akhirnya memanjatkan doa. Allah SWT pun mengabulkan doa itu dan mengirimkan bencana besar sebagai azab bagi kaum Nuh.

Sebelum azab tiba, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS membuat kapal besar untuk menyelamatkan diri bersama orang-orang saleh nantinya. Panjang kapal Nabi Nuh AS menurut Qatadah mencapai 300 hasta dengan lebar 50 hasta. Sementara Hasan Al-Bashri menyebut panjangnya 600 hasta dengan lebar 300 hasta dan Ibnu Abbas bilang 1.200 hasta dengan lebar 600 hasta. Pendapat lain menyebut panjang kapal mencapai 2.000 hasta. Adapun untuk tingginya, semua mengatakan mencapai 30 hasta.

Kapal Nabi Nuh AS tingkat tiga. Paling bawah untuk hewan dan binatang buas, bagian tengah untuk manusia, dan paling atas untuk burung. Pintu-pintu juga terpasang rapi di sepanjang kapal. Setiap pintu memiliki penutup yang bisa menutupi celah dengan rapat. Hal ini memungkinkan air tak bisa menembus area dalam kapal.

Hingga tibalah azab itu. Seluruh penjuru bumi memancarkan air. Semua yang ada di bumi seakan tersapu, kecuali Nabi Nuh AS dan pengikutnya yang selamat karena masuk kapal besar. Bahkan, istri dan anak-anak Nabi Nuh AS ikut tenggelam karena mereka termasuk orang-orang yang mendustakan dakwah Nabi Nuh AS.

Wallahu a'lam.




(kri/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads