Kisah Abu Nawas yang Dikenal Cerdas, Kocak, tapi Religius

Kisah Abu Nawas yang Dikenal Cerdas, Kocak, tapi Religius

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Kamis, 14 Mei 2026 05:00 WIB
Symbol of the Shia Muslim religion with an Ayatollah who prays and preaches in front of his followers by stretching a finger upwards.
Ilustrasi Abu Nawas. Foto: Getty Images/iStockphoto/Pict Rider
Jakarta -

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Abu Nawas? Namanya melegenda sebagai tokoh yang cerdas, kocak, tapi tetap memiliki sisi religius yang mendalam. Ia merupakan salah satu penyair terbesar dalam sejarah sastra Arab klasik.

Perjalanan hidupnya yang penuh warna, mulai dari masa kecil yang sederhana hingga menjadi penyair kesayangan istana, menyimpan banyak pelajaran berharga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Riwayat Singkat Abu Nawas

Dinukil dari buku Abu Nawas: Sufi dan Penyair Ulung yang Jenaka karya Muhammad Ali Fakih, Abu Nawas memiliki nama lengkap Abu Ali al-Hasan bin Hani' al-Hakami, ia merupakan seorang penyair Arab klasik terbesar, multitalenta, dan terkenal.

Abu Nawas merupakan sebuah julukan yang diperolehnya saat remaja di Basrah, Irak Selatan, tempat ia dibesarkan, karena rambutnya yang ikal dan panjang hingga sebahu.

ADVERTISEMENT

Abu Nawas lahir di Provinsi Ahwaz, wilayah Khuzistan, di barat daya Persia, sekitar tahun 757 M. Terdapat banyak perbedaan pendapat terkait tahun kelahirannya. Bahkan ada pendapat yang selisihnya hingga 21 tahun dari 757.

Meski begitu, Abu Nawas berusia 50-an ketika wafat pada 814 atau 815, setelah kematian Khalifah Muhammad al-Amin, putra dari Harun ar-Rasyid. Para pemerhati kemudian sepakat bahwa Abu Nawas wafat pada usia 59 tahun.

Ibu Abu Nawas, Jullaban merupakan keturunan Persia. Sebelum menikah dengan ayah Abu Nawas, Jullaban merupakan seorang budak perempuan yang bekerja sebagai penjahit dan pencuci kain wol. Latar belakang keluarganya miskin, ada yang mengatakan pekerjaan sehari-harinya adalah menjual ukiran bambu dan tidak menguasai bahasa Arab.

Abu Nawas tidak pernah mengenal ayahnya, Hani' bin Abdul Awwal, yang pernah bertugas sebagai tentara pada pemerintahan Khalifah Umayyah terakhir, Marwan II. Hani' memiliki darah Arab, yang berasal dari suku Jizani, Bani Hakam.

Pendidikan dan Kecerdasan Abu Nawas

Masih mengutip dari sumber sebelumnya, tidak lama setelah ayahnya wafat, Abu Nawas kecil dibawa ibunya ke Kota Basrah. Sang ibu menitipkannya kepada seseorang bernama Attar untuk melakukan pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh anak kecil.

Meski Abu Nawas dipekerjakan, tetapi Attar merawat dan membesarkannya dengan baik. Bahkan, Abu Nawas disekolahkan oleh Attar di sekolah Al-Qur'an. Berkat daya serap dan kecerdasan Abu Nawas, ia berhasil menjadi penghafal Al-Qur'an pada usia yang masih belia.

Pengetahuan yang mendalam terhadap Al-Qur'an mewujudkan secara konsisten dalam karakter linguistik puisi-puisi zuhdiyatnya.

Berkat ketampanan dan kecerdasan Abu Nawas, seorang penyair Kufah bernama Abu Usamah Walibah bin al-Hubah al-Asadi tertarik kepadanya dan menjadikannya murid.

Walibah dikenal dengan puisi-puisinya yang homoerotik, tidak bermoral, tetapi sangat fasih, terampil, menggunakan diksi-diksi yang ringan, tajam, dan jenaka. Hal ini juga yang menjadi ciri khas dari puisi Abu Nawas.

Dinukil dari buku Biografi Tokoh Sastra karya Ulinuha Rosyadi, karier Abu Nawas di dunia sastra semakin berkembang pesat setelah kepandaiannya menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya diangkat menjadi penyair istana.

Selain itu, Abu Nawas juga diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya adalah mengubah puisi puji-pujian untuk khalifah. Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidup Abu Nawas benar-benar penuh warna.

Kegemarannya dalam bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi, seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Bahkan nama Abu Nawas tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski dikenal ngocol, ia adalah sosok yang jujur.

Syair Terakhir Abu Nawas yang Masyhur

Dinukil dari buku Menangislah Agar Surga Merindukanmu karya Saiful Hadi El-Sutha, Abu Nawas meninggalkan syair yang menggambarkan penyesalannya akan perbuatan di masa lalu. Berikut penggalan syairnya yang masyhur:

Ya Allah, tidak layak aku masuk ke dalam surga-Mu
Akan tetapi aku juga tiada kuat menerima siksa neraka-Mu
Maka limpahkanlah taubat kepadaku dan ampunilah dosa-dosaku
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa lagi Maha Agung

Kisah Abu Nawas Jalan ke Neraka

Ada banyak kisah tentang kecerdasan dan betapa jenakanya Abu Nawas. Dikutip dari buku Kisah Lucu Kecerdasan Abu Nawas karya Sukma Hadi Wiyanto, suatu ketika Abu Nawas ditanya seseorang, "Kapan kamu mati?"

"Maaf, barangkali Tuan bisa memberikan penjelasan sedikit terkait dengan pertanyaan Tuan tadi," jawab Abu Nawas dengan mimik serius.

"Begini, kalau kamu mati saya mau titip surat buat mendiang ayah saya yang telah mati beberapa tahun yang lalu," sambungnya.

"Terima kasih sebelumnya atas kepercayaan Tuan. Tapi maaf sekali, dengan sangat terpaksa keinginan Tuan tidak bisa kupenuhi," jawab Abu Nawas.

"Kenapa?" tanya Tuan kepada Abu Nawas.

Kemudian Abu Nawas menjawab, "Sebab aku tak tahu jalan ke neraka Jahannam."

Mendadak wajah orang itu merah padam, dan sambil menunduk ia pun segera pergi.

Pertanyaan yang nyelekit dari Tuan kepada Abu Nawas, dijawab lebih nyelekit oleh Abu Nawas, itulah pintarnya Abu Nawas dalam kondisi yang seperti itu bisa membalasnya dengan cerdas dan penuh makna.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads