Az-Zubair bin Al-Awwam, Pengikut Rasul Penglima Islam

Az-Zubair bin Al-Awwam, Pengikut Rasul Penglima Islam

Hanif Hawari - detikHikmah
Selasa, 13 Jan 2026 05:00 WIB
Az-Zubair bin Al-Awwam, Pengikut Rasul Penglima Islam
Ilustrasi Az-Zubair bin Al-Awwam (Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30)
Jakarta -

Az-Zubair bin Al-'Awwam adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk dalam kelompok as-Sabiqun al-Awwalun, yaitu sepuluh orang pertama yang memeluk Islam. Beliau merupakan putra dari Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah SAW, sehingga memiliki hubungan darah yang dekat dengan Nabi.

Az-Zubair juga termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW, sebuah kehormatan besar yang menunjukkan kedekatan dan keutamaannya di sisi Allah. Nasab lengkapnya adalah Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah, yang menghubungkannya dengan garis keturunan Quraisy yang mulia.

Secara fisik, Az-Zubair memiliki postur tinggi sehingga ketika berkendara, kakinya terseret di tanah. Beliau memiliki jenggot dan cambuk tipis dengan rambut yang tebal, dan seumuran dengan sahabat terkenal seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, serta Saad bin Abi Waqqash.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Az-Zubair bin Al-Awwam Panglima Gagah Perkasa

Diceritakan dalam buku 10 Orang yang Pertama Masuk Islam oleh Rhea Ilham Nurjanah, Az-Zubair bin Al-Awwam adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk as-Sabiqun al-Awwalun, yaitu sepuluh orang pertama memeluk Islam. Beliau juga termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan merupakan sepupu Rasulullah dari garis ibunya, Shafiyyah binti Abdul Muthalib.

Sejak kecil, Az-Zubair dikenal dekat dengan pamannya, Naufal bin Khuwailid, yang awalnya sangat menyayanginya. Namun, ketika Az-Zubair memeluk Islam, pamannya berubah sikap dan menyiksanya dengan kejam.

ADVERTISEMENT

Naufal memasukkan Az-Zubair ke dalam kurungan yang dipenuhi asap tebal dari api yang menyala. Tujuannya adalah membuat Az-Zubair kepanasan, sesak napas, dan akhirnya murtad serta kembali menyembah berhala.

Meskipun tubuhnya masih muda dan belum sekuat lelaki dewasa, iman Az-Zubair sangat teguh. Ia menolak syarat pamannya dan tetap mempertahankan agamanya meski siksaan itu sangat berat.

Suatu kali, kaum musyrikin Mekah menyiksa Az-Zubair dengan memukuli dadanya berulang kali hingga terluka parah. Untuk membantu penyembuhan luka tersebut, Rasulullah SAW mengizinkannya memakai pakaian sutra hingga sembuh, meskipun sutra biasanya dilarang bagi laki-laki.

Az-Zubair termasuk kelompok pertama yang berhijrah ke Habasyah atas perintah Rasulullah SAW untuk menghindari penyiksaan. Setelah itu, ia kembali ke Mekah dan kemudian berhijrah ke Madinah bersama istrinya, Asma binti Abu Bakar, yang sedang mengandung.

Di Madinah, Az-Zubair menjalani kehidupan sehari-hari sebagai pedagang sambil berdakwah kepada siapa saja yang ditemuinya. Ketika perintah jihad turun, ia langsung terjun ke medan perang dan ikut serta dalam Perang Badar, Uhud, serta banyak pertempuran lainnya.

Tubuh Az-Zubair dipenuhi bekas luka akibat sering bertempur di barisan depan. Ia dikenal sebagai pejuang yang sangat berani dan selalu berada di garis paling depan dalam setiap pertempuran.

Pada Perang Uhud, Az-Zubair maju menjawab tantangan duel dari Thalhah bin Thalhah Al-Abdari, pembawa panji pasukan musuh. Ia berhasil membunuh lawannya, sehingga Rasulullah SAW berseru "Allahu Akbar" dan semangat kaum Muslimin semakin membara.

Setelah Perang Uhud berakhir, Az-Zubair bersama Abu Bakar ditugaskan mengejar pasukan Quraisy yang mundur ke Mekah. Tindakan ini membuat musuh mengira kekuatan Muslimin masih besar, sehingga mereka tidak berani kembali menyerang.

Az-Zubair sangat mencintai syahid dan selalu berniat mati di jalan Allah setiap kali berperang. Berbeda dengan Thalhah bin Ubaidillah yang menamai anak-anaknya dengan nama para nabi, Az-Zubair menamai anak-anaknya dengan nama para sahabat yang telah syahid agar mereka termotivasi menjadi syahid pula.

Az-Zubair menjadi panglima perang yang tangguh dan memimpin pasukan dalam beberapa pertempuran besar seperti Perang Yarmuk dan Perang Hunain. Berkat kepemimpinannya, kaum Muslimin sering meraih kemenangan besar melawan musuh-musuh Islam.

Meskipun selalu mendambakan syahid di medan perang, Allah mentakdirkan Az-Zubair wafat bukan dalam pertempuran. Ia dibunuh secara diam-diam dari belakang saat sedang salat oleh Amr bin Jurmuz pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.




(hnh/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads