Kisah Abdullah bin Salam merupakan salah satu cerita inspiratif dalam sejarah Islam dengan perjalanan hidayah para sahabat Nabi. Abdullah bin Salam adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan Anshar Madinah yang dikenal karena kejujuran dan kedalaman ilmunya.
Nama aslinya adalah al-Hushain bin Salam bin al-Harits, yang kemudian diberi nama Abdullah oleh Nabi Muhammad SAW setelah memeluk Islam. Abdullah bin Salam dikenal sebagai sahabat Nabi yang sebelumnya merupakan seorang pendeta Yahudi, hingga akhirnya menemukan kebenaran Islam melalui akhlak dan risalah Rasulullah SAW.
Kisah Abdullah bin Salam Memeluk Islam
Diceritakan dalam buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hassan, Abdullah bin Salam berasal dari keturunan Nabi Yusuf dan dikenal sebagai salah satu pemimpin agama Yahudi terkemuka di Madinah sebelum Islam datang. Ia memiliki kedudukan tinggi sebagai rabbi yang dihormati karena keluasan ilmunya terhadap kitab Taurat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak lama, Abdullah bin Salam mendalami Taurat dan mengajarkannya kepada kaumnya di sinagog. Dalam pengkajiannya, ia menemukan banyak isyarat tentang akan datangnya seorang nabi terakhir yang menyempurnakan risalah para nabi sebelumnya.
Ketika mendengar kabar tentang munculnya Nabi Muhammad SAW di Makkah, hati Abdullah bin Salam mulai terusik. Ia merasa ciri-ciri nabi tersebut sangat sesuai dengan keterangan yang selama ini ia pelajari dalam Taurat.
Abdullah kemudian mengumpulkan berbagai informasi tentang Nabi Muhammad SAW, mulai dari nama, silsilah, akhlak, hingga tempat dan waktu kemunculannya. Semua data itu ia bandingkan dengan nash Taurat, dan hasilnya semakin menguatkan keyakinannya akan kebenaran kenabian Muhammad SAW.
Saat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, Abdullah bin Salam berkesempatan melihat dan mendengar langsung beliau. Dari pertemuan pertama, ia merasakan kejujuran dan cahaya kebenaran yang membuatnya yakin bahwa Muhammad adalah nabi yang dijanjikan.
Akhirnya, Abdullah bin Salam memutuskan untuk memeluk Islam secara terang-terangan dan mengucapkan syahadat di hadapan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW kemudian memberinya nama baru, yaitu Abdullah, sebagai bentuk penghormatan dan penerimaan dalam Islam.
Setelah masuk Islam, Abdullah bin Salam mengajak kaumnya dari kalangan Yahudi untuk beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Namun ajakan itu ditolak, dan ia justru dituduh sebagai pembohong serta dicela karena meninggalkan agama sebelumnya.
Meski menghadapi penolakan dan cemoohan, Abdullah bin Salam tetap teguh dalam keimanannya. Ia dikenal sebagai sahabat Nabi yang jujur, berilmu, dan menjadi teladan tentang keberanian mengikuti kebenaran meskipun harus berhadapan dengan kaumnya sendiri.
Cara Abdullah bin Salam Menguji Kenabian Muhammad
Dikisahkan dalam buku Terjemah Siyar A'lam an-Nubala oleh Imam Dzahabi, ketika Abdullah bin Salam pertama kali mendengar kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah, ia datang untuk menyambut dan mendengarkan langsung ucapan beliau.
Kalimat yang pertama kali ia dengar adalah, "Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, jalinlah silaturahmi, dan sholatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat," yang langsung menyentuh hatinya.
Setelah itu, Abdullah bin Salam mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk menguji kebenaran kenabiannya. Ia berkata secara langsung, "Aku akan bertanya kepadamu tentang tiga hal yang tak seorang pun tahu kecuali seorang nabi."
Abdullah kemudian mengajukan pertanyaannya dengan rinci, "Apakah tanda-tanda pertama dari Hari Akhir? Makanan pertama apa yang dimakan orang di surga? Mengapa seorang anak mirip ayahnya dan mengapa saudaranya mirip pamannya?" Pertanyaan-pertanyaan ini ia pilih karena bersumber dari pengetahuan kitab suci yang tidak diketahui orang awam.
Nabi Muhammad SAAW menjawab dengan tenang, "Jibril baru saja memberitahuku tentang jawaban-jawabannya." Mendengar itu, Abdullah berkata, "Dia (Jibril), dari seluruh malaikat-malaikat adalah musuh kaum Yahudi."
Rasulullah SAW lalu menjelaskan jawabannya secara lengkap, "Tanda pertama Hari Akhir adalah akan ada api yang menyatukan orang-orang dari Timur dan Barat." Beliau melanjutkan, "Makanan pertama orang di surga adalah hati ikan, dan tentang anak yang mirip orang tuanya, jika seorang pria mencapai orgasme lebih dahulu maka anaknya mirip dirinya, dan jika istrinya lebih dahulu maka anaknya mirip sang istri."
Mendengar jawaban yang tepat dan sesuai dengan apa yang ia ketahui dalam Taurat, Abdullah bin Salam pun yakin. Ujian tersebut menjadi bukti baginya bahwa Muhammad adalah nabi yang benar-benar menerima wahyu dari Allah, sehingga ia mantap memeluk Islam.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Prabowo Deal Produk AS Bebas Masuk RI Tanpa Sertifikasi Halal, MUI Kritik Keras
Waketum MUI Soroti Kesepakatan Dagang RI-AS: Ini Perjanjian atau Penjajahan?
Waspada! Kurma Israel Dijual dengan Nama Berbeda