Kisah Abu Musa Al-Asy'ari: Sahabat Nabi dari Yaman

Kisah Abu Musa Al-Asy'ari: Sahabat Nabi dari Yaman

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 08 Jan 2026 05:00 WIB
Kisah Abu Musa Al-Asyari: Sahabat Nabi dari Yaman
Ilustrasi Abu Musa Al-Asy'ari. Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30
Jakarta -

Abu Musa al-Asy'ari, yang bernama asli Abdullah bin Qais al-Asy'ari, merupakan salah seorang sahabat mulia Nabi Muhammad SAW. Dia berasal dari Yaman dan dikenal sebagai figur penting dalam sejarah awal Islam yang penuh keteladanan.

Sejak masih muda, Abu Musa al-Asy'ari telah menolak keras ajaran penyembahan berhala yang merajalela di masyarakatnya. Begitu mendengar kabar tentang diutusnya seorang Nabi di Makkah, ia segera berangkat dengan penuh semangat dan langsung memeluk Islam sebelum peristiwa Hijrah.

Setelah beberapa malam menimba ilmu Al-Qur'an langsung dari Rasulullah SAW di Makkah, Abu Musa al-Asy'ari kembali ke Yaman bersama rombongannya. Di sana, dia aktif berdakwah untuk menyebarkan cahaya Islam kepada kaumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kisah Abu Musa al-Asy'ari Hijrah ke Madinah

Diceritakan dalam buku Biografi 104 Sahabat Nabi oleh Mahmud Al-Mishri, Abu Musa al-Asy'ari tidak datang sendirian ke Madinah, melainkan bersama lebih dari lima puluh orang dari kaumnya di Yaman yang telah memeluk Islam. Di antara mereka terdapat dua saudara kandungnya, yaitu Abu Ruhm dan Abu Burdah, yang turut serta dalam perjalanan hijrah ini.

Mereka berlayar dari Yaman menuju Madinah. Namun, terpaan angin kencang membuat kapal mereka terdampar di Habasyah (Ethiopia). Di sana, mereka bertemu dengan Ja'far bin Abi Thalib dan rombongan Muhajirin yang baru kembali dari Habasyah.

ADVERTISEMENT

Setelah itu, Abu Musa dan pengikutnya melanjutkan perjalanan bersama rombongan Ja'far menuju Madinah. Kedatangan mereka bertepatan dengan selesainya penaklukan Khaibar, sehingga Rasulullah SAW menyambut mereka dengan gembira.

Rasulullah SAW menyebut kelompok mereka sebagai "Asy'ariyyin" dan memuji kelembutan hati serta solidaritas mereka yang tinggi. Beliau bahkan bersabda bahwa mereka termasuk golongannya dan beliau termasuk golongan mereka, menunjukkan kedudukan mulia yang diberikan kepada Abu Musa dan kaumnya di kalangan Muslimin.

Abu Musa Menaklukkan Bizantium dan Persia

Dikutip dari buku Shahih Tarikh ath-Thabari oleh diterjemahkan Abu Ziad, Abu Musa al-Asy'ari terlibat dalam kampanye penaklukan wilayah Syam (Suriah) dari kekuasaan Bizantium Romawi Timur. Dia berada di bawah komando Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai pemimpin utama pasukan Muslim di wilayah tersebut.

Ketika wabah Tha'un Amwas merebak di Damaskus dan sekitarnya pada 638-639 M, Abu Musa tetap menemani Abu Ubaidah di tengah wabah tersebut. Istri Abu Musa tertular wabah sehingga beliau tidak dapat meninggalkan wilayah yang terdampak, namun beliau selamat dari penyakit itu.

Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan evakuasi pasukan Muslim ke daerah yang lebih tinggi seperti Jabiyah untuk menghindari wabah. Abu Ubaidah bin Jarrah wafat dalam perjalanan mengungsi tersebut, sementara Abu Musa selamat dan melanjutkan perannya dalam konsolidasi wilayah Syam.

Kembali mengutip buku Biografi 104 Sahabat Nabi oleh Mahmud Al-Mishr, pada masa Khalifah Umar, Abu Musa diangkat sebagai gubernur Basrah dan Kufah menggantikan Mughirah bin Syu'bah sekitar 17 H. Dari posisi ini, beliau memimpin ekspedisi penaklukan wilayah Persia bagian barat dan tengah.

Pada 23 H, Abu Musa berhasil menaklukkan Ahwaz melalui perjanjian damai tanpa pertempuran besar. Selanjutnya, beliau memimpin pasukan untuk menaklukkan Isfahan dan Qumm di wilayah tengah Persia dengan kemenangan yang signifikan.

Khalifah Umar kemudian memerintahkan Abu Musa untuk memimpin pengepungan Tustar (Shushtar) yang dipimpin oleh Panglima Persia Hormuzan. Pengepungan berlangsung selama beberapa bulan pada 642 M dengan korban jiwa yang banyak dari kedua belah pihak.

Dalam pertempuran sengit di Tustar, sahabat terkenal al-Barra bin Malik gugur syahid setelah membunuh lebih dari seratus musuh. Akhirnya, Abu Musa mendapat informasi tentang saluran air rahasia yang mengarah ke dalam benteng musuh.

Dengan informasi tersebut, pasukan Muslim menyusup melalui saluran air, membuka gerbang dari dalam, dan berhasil menduduki Tustar sepenuhnya. Hormuzan ditangkap dan dikirim ke Madinah, menandai kemenangan besar atas kekuasaan Sassaniyah di wilayah tersebut.




(hnh/kri)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads