Ini Dia Sahabat Nabi yang Paling Pemalu dan Kisahnya

Ini Dia Sahabat Nabi yang Paling Pemalu dan Kisahnya

Kholida Qothrunnada - detikHikmah
Jumat, 25 Apr 2025 05:45 WIB
Ini Dia Sahabat Nabi yang Paling Pemalu dan Kisahnya
Ilustrasi. Foto: Getty Images/iStockphoto/Diamond Dogs
Jakarta -

Sahabat Nabi yang memiliki sifat pemalu adalah Utsman bin Affan. Selain pemalu,soosk Khulafa Ar-Rasyidun ini juga dikenal dermawan, kaya, dan tampan.

Mengutip buku Biografi Utsman bin Affan oleh Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi disebutkan silsilah Utsman bin Affan. Namanya adalah Utsman bin Afan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf.

Hadits tentang Sifat Pemalu Utsman bin Affan

Sosok sahabat Nabi Muhammad yang paling pemalu adalah Utsman bin Affan. Dalam hadits riwayat dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam agama Allah adalah Umar, yang paling jujur dan malu adalah Utsman, yang paling tahu halal dan haram adalah Mu'adz bin Jabal, yang paling ahli qira'ah adalah Ubay, dan yang paling mengetahui faraidh (ilmu tentang warisan) adalah Zaid bin Tsabit. Tiap-tiap umat ada orang yang terpercayanya dan orang yang terpercaya umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarah."

Karena sifat pemalunya itu, Rasulullah SAW dan para malaikat pun menyatakan bahwa beliau malu kepada Utsman.

ADVERTISEMENT

Suatu kisah Abu Bakar As-Siddiq datang ke rumah Rasulullah SAW, beliau bersikap biasa saja. Umar bin Khattab pun datang kepada Rasulullah SAW, tetapi beliau juga tetap bersikap biasa saja dan langsung mempersilahkan mereka untuk masuk. Namun ketika Utsman bin Affan datang, ia langsung membenarkan dulu letak jubahnya karena malu kepada Utsman.

Namun saat Utsman bin Affan datang, Rasulullah SAW nampak memberikan perhatian khusus. Beliau langsung membenarkan duduk dan membenarkan jubah beliau karena malu kepada Utsman.

Kisah tersebut pernah diriwayatkan oleh Aisyah RA:

ØšŲŽŲ†Ų’ ØšŲŽØ§ØĻŲØ´ŲŽØŠ Ų‚Ø§Ų„ØĒ: ŲƒŲŽØ§Ų†ŲŽ ØąŲŽØŗŲŲˆŲ„Ų Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡Ų ØĩŲŽŲ„Ų‘ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų„Ų‘ŲŽŲ‡Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„Ų‘ŲŽŲ…ŲŽ Ų…ŲØĩŲ’ØˇŲŽØŦØšŲ‹Ø§ ؁ؐ؊ Ø¨ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŲŠØŒ ŲƒŲŽØ§Ø´ŲŲŲŽØ§ ØšŲŽŲ†Ų’ ŲŲŽØŽŲØ°ŲŽŲŠŲ’Ų‡ŲØŒ ØŖŲŽŲˆŲ’ ØŗŲŽØ§Ų‚ŲŽŲŠŲ’Ų‡ŲØŒ ŲŲŽØ§ØŗŲ’ØĒŲŽØŖØ°ŲŲ†ŲŽ ØŖŲŽØ¨ŲŲˆ Ø¨ŲŽŲƒŲ’ØąŲ ŲŲŽØŖØ°ŲŲ†ŲŽ Ų„ŲŽŲ‡ŲØŒ ŲˆŲŽŲ‡ŲŲˆŲŽ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ ØĒŲŲ„Ų’ŲƒŲŽ Ø§Ų„Ø­Ø§Ų„ØŒ ŲŲŽØĒŲŽØ­ŲŽØ¯Ų‘ŲŽØĢŲŽ ØĢŲŲ…Ų‘ŲŽ Ø§ØŗŲ’ØĒŲŽØŖŲ’Ø°ŲŽŲ†ŲŽ ØšŲŲ…ŲŽØąŲØŒ ŲŲŽØŖŲŽØ°ŲŲ†ŲŽ Ų„ŲŽŲ‡ŲØŒ ŲˆŲŽŲ‡ŲŲˆŲŽ ŲƒŲŽØ°Ų„ŲŲƒŲŽØŒ ŲŲŽØĒŲŽØ­ŲŽØ¯Ų‘ŲŽØĢŲŽØŒ ØĢŲŲ…Ų‘ŲŽ Ø§ØŗŲ’ØĒŲŽØŖŲ’Ø°ŲŽŲ†ŲŽ ØšŲØĢŲ’Ų…ŲŽØ§Ų†ŲØŒ ŲŲŽØŦŲŽŲ„ŲŽØŗŲŽ ØąŲŽØŗŲŲˆŲ„Ų Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØĩŲ„Ų‘ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų„Ų‡Ų ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ŲˆŲŽØŗŲŽŲ„Ų‘ŲŽŲ…ŲŽØŒ ŲˆŲŽØŗŲŽŲˆŲ‘ŲŽŲ‰ ØĢŲŲŠŲŽØ§Ø¨ŲŽŲ‡Ų - Ų‚ŲŽØ§Ų„ŲŽ Ų…ŲØ­ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ¯ŲŒ: ŲˆŲ„Ø§ ØŖŲ‚ŲˆŲ„Ų Ø°ŲŽŲ„ŲŲƒŲŽ ؁ؐ؊ ŲŠŲŽŲˆŲ’Ų…Ų ŲˆŲŽØ§Ø­ŲØ¯Ų ŲŲŽØ¯ŲŽØŽŲŽŲ„ŲŽ ŲŲŽØĒŲŽØ­ŲŽØ¯Ų‘ŲŽØĢŲŽØŒ ŲŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų‘ŲŽØ§ ØŽŲŽØąŲŽØŦŲŽ Ų‚Ø§Ų„ØĒŲ’ ØšŲŽØ§ØĻŲØ´ŲŽØŠ Ø¯ŲŽØŽŲŽŲ„ŲŽ ØŖŲŽØ¨ŲŲˆ Ø¨ŲŽŲƒŲ’ØąŲ ŲŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ØĒŲŽŲ‡Ų’ØĒŲŽØ´ŲŽ Ų„ŲŽŲ‡Ų ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ØĒŲØ¨ŲŽØ§Ų„ŲŲ‡ŲØŒ ØĢŲŲ…Ų‘ŲŽ Ø¯ŲŽØŽŲŽŲ„ŲŽ ØšŲŲ…ŲŽØąŲ ŲŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ØĒŲŽŲ‡Ų’ØĒŲŽØ´ŲŽ Ų„ŲŽŲ‡Ų ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ØĒŲØ¨ŲŽØ§Ų„ŲŲ‡ŲØŒ ØĢŲŲ…Ų‘ŲŽ Ø¯ŲŽØŽŲŽŲ„ŲŽ ØšŲØĢŲ’Ų…ŲŽØ§Ų†Ų ŲŲŽØŦŲŽŲ„ŲŽØŗŲ’ØĒŲŽ ŲˆŲŽØŗŲŽŲˆŲ‘ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŽ ØĢŲŲŠŲŽØ§Ø¨ŲŽŲƒŲŽ ŲŲŽŲ‚ŲŽØ§Ų„ŲŽ : ØŖŲŽŲ„Ø§ ØŖŲŽØŗŲ’ØĒŲŽØ­ŲŲŠ ؅ؐ؆ؒ ØąŲŽØŦŲŲ„Ų ØĒŲŽØŗŲ’ØĒŲŽØ­ŲŲŠ Ų…ŲŲ†Ų’Ų‡Ų Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽŲ„ŲŽØ§ØĻŲŲƒŲŽØŠŲ.

Artinya: "Dari Aisyah, dia berkata, 'Suatu ketika Rasulullah SAW, berbaring di rumahku dalam keadaan tersingkap dua paha atau dua betis beliau. Kemudian Abu Bakar meminta izin menemui beliau. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau masih dalam keadaan sebagaimana adanya. Lalu Abu Bakar bercakap- cakap dengan beliau. Kemudian Umar datang meminta izin untuk masuk. Beliau mengizinkannya masuk, sementara beliau tetap demikian keadaannya. Mereka pun berbincang-bincang. Kemudian Utsman datang minta izin untuk menemui beliau. Beliau langsung duduk dan membenahi pakaian beliau. Utsman pun masuk dan berbincang-bincang. Ketika Utsman pulang, Aisyah berkata, 'Abu Bakar masuk menemui engkau, tapi engkau tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya. Begitu pula ketika Umar masuk menemui engkau. Engkau juga tidak bersiap menyambut dan tidak mempedulikannya. Ketika Utsman masuk, engkau segera duduk dan membenahi pakaian engkau.' Rasulullah SAW menjawab, 'Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya?'" (HR. Muslim).

Dalam buku Kisah Hidup Utsman ibn Affan oleh Mustafa Murrad, diterangkan juga bahwa di kalangan sahabat Rasulullah, Utsman jadi salah satu orang yang paling banyak tahu mengenai Al-Qur'an dan hadits sekaligus termasuk salah satu penghafal Al-Qur'an.

Mengutip buku Rasulullah SAW: The Untold Story karya Ali Abdullah, Utsman menjadi sahabat pilihan Rasulullah SAW, maka dari itu di antara para sahabat yang dijamin masuk Surga.

Itu tadi ulasan mengenai akhlak dan cerita Nabi SAW mengenai Utsman bin Affan. Semoga akhlak kita akan senantiasa baik dan terpelihara sebagaimana akhlak Utsman bin Affan.




(khq/khq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads