Pengukuhan PBNU 2026-2031 Digelar di Pesantren Al-Hamid Jakarta

Pengukuhan PBNU 2026-2031 Digelar di Pesantren Al-Hamid Jakarta

Hanif Hawari - detikHikmah
Jumat, 16 Okt 2026 13:20 WIB
Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) (Foto: Hanif Hawari/detikHikmah)
Jakarta -

Pengukuhan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 bakal digelar pada Sabtu (24/10/2026). Acara akan berlangsung di Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur.

Sebelum prosesi pengukuhan berlangsung, jajaran pengurus baru PBNU terlebih dahulu akan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Perdana pada Jumat (23/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Ketua Umum PBNU H Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyebutkan bahwa persiapan rangkaian acara tersebut sedang dimatangkan. Untuk lokasi rakor perdana, pihak PBNU masih merampungkan opsi tempat di Jakarta.

"Untuk pelantikan, nanti tempatnya di (Pesantren) Al-Hamid, di Cilangkap, di Jakarta Timur, di tempat Gus Lukman. Di sana nanti pelantikannya tanggal 24 pagi, hari Sabtu. Sementara rakornya ini lagi kita cari tempatnya, mungkin di salah satu hotel di Jakarta," kata Gus Ipul di Gedung PBNU, Jakarta, dikutip dari laman NU, Jumat (16/10/2026).

ADVERTISEMENT

Gus Ipul menjelaskan, forum rakor perdana diproyeksikan sebagai ajang penyelarasan program kerja antar pengurus demi mengawal dan menyukseskan amanat hasil Muktamar NU.

"Kita bersyukur semua pengurus punya semangat yang sama, semangat untuk mendampingi, mendukung, membantu Rais Aam dan Ketua Umum melaksanakan hasil-hasil muktamar," tegasnya.

Terkait kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dalam agenda pengukuhan tersebut, Gus Ipul mengungkapkan belum ada keputusan resmi karena masih menunggu petunjuk pimpinan tertinggi PBNU.

"Belum sampai ke sana, itu nanti semua menunggu arahan dari Rais Aam dan Ketua Umum," tambahnya.

Dalam kesempatan sama, Katib Aam PBNU Prof Mohammad Nuh menerangkan bahwa rakor pada Jumat mendatang bakal diisi agenda pemaparan program dari masing-masing wakil ketua umum.

"Jadi Jumat (23 Oktober), rapat koordinasi saja. Setiap wakil ketua umum sudah menyiapkan programnya apa saja," jelas M Nuh.

Menariknya, para pengurus PBNU direncanakan akan mengenakan sarung selama agenda berlangsung. M Nuh menegaskan, penggunaan sarung bukan sekadar soal penampilan, melainkan simbol kuat identitas kesantrian serta komitmen merawat tradisi pesantren.

"Menunjukkan kesantrian. Bagian dari ngeman-ngeman atau ngopen-ngopen tradisilah," pungkas M Nuh.



(hnh/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads