Masih Punya Utang Puasa Ramadan, Kapan Batas Menggantinya?

Masih Punya Utang Puasa Ramadan, Kapan Batas Menggantinya?

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Kamis, 24 Sep 2026 07:15 WIB
Senior Muslim woman preparing food
Ilustrasi puasa qadha Ramadan. Foto: iStock
Jakarta -

Ramadan merupakan bulan yang diwajibkan bagi setiap muslim mukalaf untuk menunaikan ibadah puasa. Namun, syariat Islam memberikan keringanan (rukhshah) bagi orang-orang dengan kondisi tertentu untuk berbuka atau tidak berpuasa. Hari-hari puasa yang ditinggalkan tersebut berstatus sebagai utang.

Utang puasa wajib diganti (diqadha) di luar bulan Ramadan. Kewajiban untuk mengqadha puasa Ramadan tertuang dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 184. Allah SWT berfirman,

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

ADVERTISEMENT

Lantas, kapan batas mengganti utang puasa Ramadan tersebut?

Batas Mengganti Utang Puasa Ramadan

Merujuk uraian dalam Kitab Lengkap dan Praktis Fikih Wanita karya Abdul Syukur Al-Azizi, waktu untuk mengqadha puasa Ramadan terbentang sangat longgar, yakni sepanjang tahun hingga menjelang datangnya bulan Ramadan berikutnya.

Meskipun waktu untuk mengqadha dibebaskan, perlu diperhatikan ada hari-hari yang tidak diperbolehkan untuk puasa. Hari tersebut di antaranya Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta hari-hari tasyrik pada 11-13 Zulhijah.

Batas waktu paling akhir pelaksanaan qadha adalah pada akhir bulan Syakban, tepat sebelum hilal penanda awal bulan Ramadan tahun berikutnya terlihat. Ketentuan ini bersandar pada riwayat shahih dari Sayyidah Aisyah RA yang berkata:

"Dahulu aku memiliki utang puasa Ramadan, dan aku tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Syakban, karena kedudukan Rasulullah SAW (kesibukan melayani beliau)." (HR Bukhari dan Muslim)

Kendati rentang waktunya sangat luas, para ulama menganjurkan untuk membayar utang puasa sesegera mungkin pada Syawal atau bulan-bulan setelahnya. Menunda pelunasan tanpa alasan mendesak hingga tiba Ramadan berikutnya berisiko menimbulkan kelalaian, bahkan dapat dikenai denda fidyah menurut pendapat sebagian ulama mazhab.

Bacaan Niat Qadha Puasa Ramadan

Dijelaskan dalam buku Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa karya Nur Solikhin, niat puasa qadha wajib dilakukan pada malam hari sebelum fajar menyingsing (tabyituniyyah), sebagaimana ketentuan puasa wajib pada umumnya.

Berikut lafal niat qadha puasa Ramadan lengkap beserta latin dan artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta'ālā.

Artinya: "Aku berniat mengqadha puasa fardhu bulan Ramadan esok hari karena Allah Ta'ala."

Dahulukan Qadha atau Puasa Syawal?

Memasuki bulan Syawal, sering kali muncul dilema di kalangan muslim, terutama kaum hawa untuk memikirkan hukum menjalankan puasa sunnah enam hari Syawal sebelum menuntaskan qadha puasa Ramadan.

Berdasarkan penjelasan dalam buku Jihad Literasi Aktivis karya Aminah Al-Faruq, Tanya Jawab Fikih Wanita karya Puja Sindia, serta buku Ramadan Berpendar Maghfirah karya Abdullah Farid, menuntaskan qadha puasa Ramadan jauh lebih utama didahulukan daripada puasa sunnah Syawal.

Menurut hukumnya, utang puasa merupakan wajib, sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. Maka jelas sebagai seorang mukmin yang beriman harus mendahulukan yang wajib di atas yang sunnah. Permasalahan ini juga diterangkan oleh Syekh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin RA dalam kitab Syarhul al-Mumthi'ala Zadil Mustaqni:

"Jika ada seseorang yang memiliki utang puasa Ramadan, lalu ia berpuasa Syawal sebelum mengqadhanya, maka tidak akan mendapatkan pahala setahun penuh. Nabi SAW bersabda 'Barang siapa yang berpuasa Ramadan (sebulan penuh)', berarti jika masih ada puasa yang belum diqadha, maka tidak dapat dikatakan sebulan penuh."



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads