Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) bergerak cepat menyusun perencanaan program kerja dan anggaran usai pembentukan struktur barunya. Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said mengungkapkan penguatan instansi baru ini bertumpu pada tiga fungsi utama pesantren di Indonesia.
Lantas, apa saja tiga peran utama pesantren tersebut?
"Penguatan Ditjen Pesantren harus bertumpu pada tiga fungsi utama pesantren, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan. Karena itu, penataan organisasi dan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun fondasi kelembagaan baru tersebut," kata Basnang Said di Jakarta, dikutip dari laman Kemenag, Kamis (17/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, Basnang Said resmi dilantik oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai Dirjen Pesantren pada Selasa (15/9/2026). Pelantikan ini menandai dimulainya operasional Ditjen Pesantren sebagai satuan kerja baru setingkat Eselon I dalam struktur organisasi Kemenag.
Sebagai unit Eselon I baru, Basnang menegaskan Ditjen Pesantren harus mampu menunjukkan hasil kerja dan capaian nyata dalam 100 hari pertama kepemimpinannya.
"Dalam 100 hari pertama, Direktorat Jenderal Pesantren harus mampu menunjukkan capaian yang bermakna bagi pesantren. Sebelum tahun 2027, capaian itu harus bisa kita tunjukkan kepada Menteri Agama," tegasnya.
Ia menyebut Ditjen Pesantren akan fokus pada percepatan sejumlah program strategis nasional. Di antaranya digitalisasi pesantren, perbaikan sanitasi, hingga penanganan dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pesantren.
"Ditjen Pesantren sudah resmi terbentuk. Tanggung jawab pelaksanaannya sekarang kita emban bersama," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Inspektur II Inspektorat Jenderal Kemenag, Mohamad Ali Irfan, menekankan pentingnya penajaman perencanaan berbasis data tunggal, fungsi, serta output yang jelas agar tidak terjadi duplikasi program.
"Penajaman KRO/RO bukan sekadar perbaikan administratif, melainkan fondasi agar setiap rupiah anggaran dapat dilacak manfaatnya," ujar Ali Irfan.
Ia menerangkan arsitektur program Ditjen Pesantren bertumpu pada empat fokus utama, yakni pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan manajemen.
Sementara itu, Kepala Biro Keuangan dan BMN Setjen Kemenag Ahmad Hidayatullah mengingatkan pentingnya persiapan matang selama proses transisi, terutama terkait pengalihan fungsi perencanaan dan anggaran dari Ditjen Pendidikan Islam.
"Perencanaan jangan dipikirkan terlalu makro. Fokus dulu pada dua atau tiga hal yang dapat segera diselesaikan, yaitu perencanaan, anggaran, dan perangkat keuangan," saran Ahmad.
Ahmad menekankan kesiapan SDM dalam memahami sistem perencanaan, pengelolaan keuangan SAKTI, serta pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) agar Ditjen Pesantren bisa langsung beroperasi maksimal saat DIPA diterbitkan.
