Teknologi Canggih di Balik Terjaganya Suhu Masjidil Haram Meski Cuaca Terik

Teknologi Canggih di Balik Terjaganya Suhu Masjidil Haram Meski Cuaca Terik

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Senin, 14 Sep 2026 13:15 WIB
Wajah baru Masjidil Haram, Makkah usai perluasan ketiga. Foto diambil selama musim haji 2026.
Masjidil Haram. Foto: Rachmatunnisa/detikcom
Jakarta -

Suhu di dalam Masjidil Haram, Makkah tetap terjaga antara 22 hingga 24 derajat celsius. Di balik terjaganya suhu ini ada teknologi canggih yang disebut Arab Saudi.

Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi terus mengoperasikan sistem terintegrasi yang memadukan solusi rekayasa dan teknologi modern. Tujuannya sendiri untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan sejuk bagi pengunjung Dua Masjid Suci sepanjang tahun, walaupun suhu udara di wilayah Kerajaan tergolong tinggi atau panas.

Dilansir dari Ajel.sa, otoritas tersebut terus mengoperasikan sistem pendingin terpadu yang bekerja dari pelataran luar hingga ruang-ruang salat. Sistem itu tak hanya mengandalkan pendingin udara melainkan juga memadukan kipas kabut, material lantai khusus, teknologi pengaturan suhu, hingga sistem pemantauan dan pemeliharaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Upaya untuk menekan suhu telah dimulai sejak jemaah berada di luar masjid. Kipas kabut atau mist fans diletakkan di pelataran untuk membantu mendinginkan udara serta mengurangi sensasi panas, utamanya pada siang hari.

ADVERTISEMENT

Sistem itu dirancang untuk mendukung mobilitas jemaah yang terus bergerak melalui berbagai jalur antara pintu masuk, pelataran, hingga area salat. Selain teknologi penyemprot kabut, pemilihan material lantai juga jadi bagian penting dari sistem pengendalian panas.

Pelataran berwarna putih menggunakan marmer Thassos. Material tersebut memiliki pori-pori halus yang mampu menyerap kelembapan pada malam hari dan secara bertahap melepaskannya ketika suhu meningkat pada siang hari.

Karakteristik itu membantu membatasi penyerapan panas dari sinar matahari sehingga permukaan pelataran lebih nyaman dilalui jemaah, utamanya saat siang hari.

Uniknya lagi, ketika jemaah memasuki Masjidil Haram maka sistem pendinginan beralih ke teknologi pendingin udara terpusat. Total kapasitas pendinginannya mencapai sekitar 155.000 ton refrigerasi.

Udara sejuk kemudian didistribusikan ke berbagai bagian masjid untuk menjaga suhu ruangan tetap berada pada kisaran 22 hingga 24 derajat celcius sepanjang hari. Sistem itu bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi jemaah yang salat atau melakukan ibadah lainnya di Masjidil Haram.

Besarnya kapasitas itu jadi bagian penting pengelolaan fasilitas di masjid yang harus melayani pergerakan jemaah secara terus-menerus sepanjang tahun.



(aeb/lus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads