Istighfar mempunyai keutamaan yang sangat luar biasa, di antaranya adalah sebagai sarana untuk menciptakan keamanan bagi penghuni bumi. Sebuah riwayat menyatakan bahwa sesungguhnya Allah menciptakan dua keamanan bagi penduduk bumi.
Hal ini disebutkan dalam buku Amalan Sunah Pilihan Percepatan Rezeki tulisan Ahmad Zacky El-Syafa. Disebutkan bahwa Allah SWT menciptakan dua keamanan bagi penduduk bumi. Yang pertama adalah Rasulullah SAW. Kedua, istighfar.
Kini, Rasulullah SAW telah tiada. Maka yang menjadi sarana untuk menciptakan keamanan di muka bumi tinggallah istighfar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam firman-Nya, surah Al-Anfal ayat 33, dijelaskan bahwa:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 33)
Di samping itu, istighfar merupakan amalan yang dapat mendatangkan banyak pahala. Ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa ketika malaikat naik ke langit dan membawa amal keburukan seorang hamba, tiba-tiba saja mereka mendapatinya keburukan tadi sudah berubah menjadi kebaikan.
Mereka bersujud kepada Allah dan berkata,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa kami tidak mencatat sesuatu melainkan apa yang diperbuatnya saja." Allah berfirman, "Kalian benar, tetapi hamba-Ku ini menyesali kesalahannya dan meminta pertolongan kepada-Ku dengan air matanya. Maka Aku mengampuni dosanya. Aku mendapatinya berbuat dermawan, dan Aku adalah yang Mahamulia di antara orang-orang yang mulia."
Keajaiban istighfar tidak hanya itu saja. Beberapa ayat Al-Qur'an menyebutkan bahwa istighfar ternyata memiliki magnet untuk menarik rezeki.
Dalam sebuah ayat, antara lain dijelaskan bahwa Allah SWT menjanjikan kepada hamba-Nya bahwa siapa saja yang suka membaca istighfar akan diberikan rezeki yang luar biasa, seperti hujan yang lebat lagi menyegarkan serta akan diberikan harta yang melimpah dan anak-anak. Juga diberikan rezeki yang berupa kebun-kebun yang indah dan sungai-sungai yang airnya mengalir.
Simaklah firman Allah SWT berikut ini:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ
Artinya: "Maka Aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS. Nuh: 10-12)
Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkomentar mengenai surah Nuh ayat 10-12,
"Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya, dan kalian senantiasa menaati-Nya, niscaya Dia akan memperbanyak rezeki kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat macam-macam buah-buahan untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu (untuk kalian)."
Apa yang menjadi perintah Allah dalam ayat ini juga pernah diamalkan oleh Umar bin Khattab ketika beliau memohon hujan. Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya'bi,
"Bahwasanya Umar keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, 'Aku mendengar engkau memohon hujan.' Maka beliau menjawab, 'Aku mohon diturunkannya hujan dengan menengadah ke langit, dan dengannya bakal turun air hujan.'" Lalu beliau membaca ayat yakni surah Nuh ayat 10-12 di atas.
Imam al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata,
"Ada seorang laki-laki yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang kesengsaraan (bumi), maka beliau berkata, 'Beristighfarlah kepada Allah!' Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka beliau berkata, 'Beristighfarlah kepada Allah!' Yang lain berkata kepadanya, 'Doakanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!' Maka beliau mengatakan, 'Beristighfarlah kepada Allah!' Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya, maka beliau mengatakan, 'Beristighfarlah kepada Allah!' Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal sama."
(lus/inf)
