Di antara salat sunnah yang dianjurkan dalam Islam, salat Syuruq (salat Isyraq) dan salat Dhuha kerap dianggap sama oleh sebagian Muslim.
Salat Syuruq dan Dhuha sama-sama dikerjakan pada pagi hari. Meski demikian, keduanya memiliki ketentuan berbeda, terutama dari segi waktu pelaksanaan dan hukum salatnya.
Para ulama menjelaskan batas waktu serta ketentuan masing-masing salat sunnah tersebut. Lantas, apa perbedaan salat Syuruq dan Dhuha? Berikut penjelasan mengenai waktu, hukum, dalil keutamaan, dan ganjaran bagi yang mengerjakannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan Salat Syuruq dan Dhuha dari Waktu Pelaksanaan
Meskipun sama-sama dilaksanakan sebelum waktu Zuhur, kedua salat sunnah ini memiliki rentang waktu yang dianjurkan. Berikut batas waktu pelaksanaannya:
Waktu Salat Syuruq
Sebagaimana dipaparkan Subandi dalam buku Membuka Tirai Amalan sekitar Ramadhan, salat Syuruq dikerjakan setelah matahari terbit dan naik setinggi satu tombak. Waktu tersebut diperkirakan sekitar 10-15 menit setelah matahari terbit.
Waktu pelaksanaan salat Syuruq dijelaskan dalam firman Allah SWT pada Surah Sad ayat 18:
اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهٗ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِشْرَاقِۙ
"Sesungguhnya Kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi."
Rangkaian ibadah ini diawali dengan salat Subuh berjamaah di masjid, kemudian dilanjutkan dengan berzikir atau beristigfar di tempat salat hingga matahari terbit. Setelah itu, rangkaian tersebut ditutup dengan salat dua rakaat. Waktu pelaksanaan salat Syuruq tergolong singkat.
Namun, salat Syuruq tidak boleh dikerjakan terlalu awal atau tepat saat matahari terbit. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi SAW mengenai waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat:
"Janganlah kalian memilih untuk mengerjakan salat pada saat terbit matahari dan jangan pula ketika matahari tenggelam, karena matahari terbit di antara dua tanduk setan." (HR. Bukhari)
Waktu Salat Dhuha
Masih mengutip sumber yang sama, salat Dhuha memiliki rentang waktu yang jauh lebih panjang. Salat ini dapat dikerjakan sekitar 15 menit setelah matahari terbit hingga menjelang masuk waktu Zuhur, yakni ketika matahari tepat berada di tengah langit atau saat zawal.
Dalam rentang waktu tersebut, salat Dhuha memiliki beberapa pembagian waktu. Berdasarkan ulasan Ahmad Farid dalam buku The Power of Tahajud, waktu pelaksanaan salat Dhuha terbagi menjadi tiga. Waktu pertama disebut juga sebagai waktu pelaksanaan salat Syuruq atau awal waktu Dhuha.
Waktu kedua merupakan waktu yang paling utama untuk melaksanakan salat Dhuha, yaitu ketika matahari mulai terasa menyengat. Waktu ini dikenal dengan istilah awwabin.
Nabi SAW bersabda, "Salatnya orang-orang awwabin (kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari." (HR. Muslim)
Jika diperkirakan, waktu ini biasanya sekitar pukul 08.30-9.30 (tergantung lokasi). Adapun waktu salat Dhuha terakhir yang dianjurkan, yaitu 10-15 menit sebelum Zuhur.
Perbedaan Salat Syuruq dan Dhuha dari Hukum dan Keutamaan
Hukum melaksanakan salat Syuruq dan salat Dhuha adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Yasir Husain dalam bukunya Setia (Selagi Engkau Taat dan Ingat Allah) menjelaskan bahwa sebagian ulama memandang salat Syuruq atau Isyraq sebagai bagian dari awal waktu salat Dhuha yang dikerjakan dengan syarat tertentu.
Jumlah Rakaat
Salat Syuruq secara khusus dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Syaikh Sulaiman al-Jamal dalam Hasyiyah al-Jamal menjelaskan bahwa salat Syuruq yang dilakukan lebih dari dua rakaat dihukumi tidak sah.
Sementara itu, salat Dhuha paling sedikit dilaksanakan dua rakaat dan dapat ditunaikan hingga empat, delapan, atau 12 rakaat sesuai kemampuan.
Keutamaan Pahala
Keutamaan salat Syuruq sangat istimewa. Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang mengerjakan salat Subuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan salat dua rakaat (Syuruq), maka ia memperoleh pahala haji dan umrah." Beliau pun bersabda, "Pahala yang sempurna, sempurna, dan sempurna." (HR. Tirmidzi)
Adapun salat Dhuha memiliki keutamaan berupa pahala sedekah bagi setiap persendian. Rasulullah SAW bersabda:
"Pada pagi hari, diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap bacaan tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap bacaan tahlil (La ilaha illallah) adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga adalah sedekah. Begitu pula amar ma'ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Semua itu dapat dicukupi (diganti) dengan melaksanakan salat Dhuha sebanyak dua rakaat." (HR Muslim)
(inf/inf)
