Banyak yang mengira Arab Saudi jadi negara yang pertama mencetak Al-Qur'an. Sebab, negara ini identik dengan umat Islam karena adanya Ka'bah sebagai kiblat seluruh muslim dunia.
Padahal, Arab Saudi bukan negara yang mencetak Al-Qur'an pertama kali. Al-Qur'an sendiri jadi kitab akhir zaman yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW.
Dikutip dari buku 49 Teladan dalam Al-Qur'an yang disusun Ririn Rahayu Astutiningrum, menurut sejarah yang ada Al-Qur'an diturunkan secara keseluruhan di Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah. Lalu, diturunkan kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa turunnya Al-Qur'an disebut Nuzulul Qur'an. Waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur'an yaitu ketika Rasulullah SAW sedang uzlah di Gua Hira Bukit Jabal Nur pada 17 Ramadan 610 Masehi.
Ketika itu, Rasulullah SAW berusia 40 tahun. Surah pertama yang diturunkan pada waktu itu adalah surah Al Alaq ayat 1-5. Turunnya Al-Qur'an sekaligus menjadi awal kenabian Rasulullah SAW.
Kali pertama diturunkannya Al-Qur'an tidak berbentuk mushaf atau buku seperti yang kita jumpai di era kini. Dahulu, ayat-ayat suci tersebut diturunkan secara lisan lewat Malaikat Jibril ke Nabi Muhammad SAW.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, ayat-ayat yang turun dihafal oleh para sahabat serta ditulis secara terpisah di media sederhana seperti pelepah kurma, lempengan batu, kulit binatang hingga tulang.
Lantas, siapa negara yang pertama kali mencetak Al-Qur'an jika bukan Arab Saudi?
Italia Jadi Negara yang Mencetak Al-Qur'an Pertama Kali
Dilansir dari Jurnal Studi Keislaman berjudul The Industrialization of the Qur'an in Indonesia Volume 4 Nomor 1 April 2018 susunan Ahmad Saifudin, sejatinya mesin cetak baru ditemukan pada 1436 atau 840 H oleh penemu asal Jerman, yaitu Johannes Guttenberg.
Penemuan mesin cetak itu jadi awal baru dalam penyebaran ilmu, budaya dan peradaban. Italia jadi negara pertama yang mencetak Al-Qur'an.
Pada 1537-1538, Paganino dan Alessandro Paganini mencetak Al-Qur'an pertama kali di Venesia, Italia (sarjana Islam menyebut kota ini dengan nama Al-Bunduqiyyah). Salah satu dari versi cetakan pertama itu ditemukan Angela Novo di perpustakaan seorang pendeta di Bunduqiyah. Tetapi, mushaf hasil cetakan itu tidak bertahan lama karena dimusnahkan pihak gereja setempat.
Munculnya Berbagai Macam Cetakan Al-Qur'an dari Banyak Negara
Seiring berjalannya waktu, muncul banyak macam cetakan Al-Qur'an dari berbagai negara. Misalnya di Hamburg, Jerman, Al-Qur'an dicetak oleh Abraham Hinckelmann pada 1694 M. Abraham bahkan menambahkan kata pengantar dalam bahasa Latin.
Lalu empat tahun kemudian, mushaf Al-Qur'an kembali dicetak ke dalam bahasa Arab dan terjemahan Latin yang mengandung penolakan atas Islam oleh Ludovico Maracci. Pada 1787 M, di Santa Pittsburg juga muncul percetakan Al-Qur'an yang dipimpin Maulaya 'Usman.
Kemudian pada 1838 M, Al-Qur'an dicetak oleh negara Islam yaitu Iran. Beberapa mushaf yang muncul kala itu ditulis dengan tidak menggunakan rasm usmani (cara penulisan Al-Qur'an yang dibakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan) secara murni.
Kondisi itu berlanjut hingga 1890 M/1308 H, saat sebuah percetakan bernama Al-Matba'ah Al-Bahiyyah milik Syekh Muhammad Abu Zaid berdiri di Kairo, Mesir. Percetakan ini mencetak sebuah mushaf dan ditulis oleh seorang ulama qira'at yaitu Syekh Ridwan bin Muhammad yang lebih dikenal sebagai Al-Mikhallalati.
Dalam mushaf ini, beliau berkomitmen untuk menggunakan rasm usmani dan memberikan tanda waqaf. Di samping itu, beliau juga menuliskan pengantar yang memuat penjelasan tentang sejarah penulisan Al-Qur'an yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Mikhallalati.
Berlanjut pada tahun 1947, untuk pertama kali Al-Qur'an dicetak dengan teknik cetak offset yang canggih dan dengan memakai huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa seorang kaligrafer terkemuka, Badiuzzaman Said Nursi.
Kemudian, sejak 1976, Al-Qur'an dicetak dalam berbagai ukuran dan jumlah yang banyak oleh percetakan yang dikelola pengikut Said Nursi di Berlin, Jerman. Pencetakan mushaf di Arab Saudi baru dimulai pada tahun 1949, ditandai dengan munculnya mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf Makkah Al-Mukarramah, dicetak oleh Syarikah Mushaf Makkah Al-Mukarramah.
Perusahaan tersebut mendatangkan sebuah mesin cetak dari Amerika Serikat untuk mencetak mushaf dalam berbagai ukuran. Selain itu, mereka juga telah bekerja sama dengan seorang ahli khat ternama, Ustaz Muhammad Tahir Al-Kurdi, untuk menulis mushaf yang sesuai dengan kaidah rasm usmani.
Mushaf tersebut mendapatkan sambutan yang hangat dan baik di Saudi maupun di luar Saudi. Pada 1979, muncul pula mushaf edisi baru yang dicetak di kota Jeddah. Hingga pada 1984, bertepatan dengan Muharram 1405 H, pemerintah Kerajaan Arab Saudi resmi membuka sebuah percetakan Al-Qur'an terbesar di dunia, tepatnya di kota Madinah Al-Munawwarah.
