Puasa sunnah adalah salah satu amalan ibadah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada umat Islam. Meski bernilai ibadah, puasa sunnah tidak dapat dilakukan sewaktu-waktu lantaran terdapat syariat yang membatasinya.
Kesahihan puasa sunnah ditentukan oleh syariat, salah satunya adalah keharusan menunaikan dalam waktu-waktu yang diperbolehkan. Oleh karena itu, hendaknya umat Islam memahami hari-hari tertentu yang dilarang berpuasa sunnah agar amalan ditunaikan sesuai syariat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syarat Sah Puasa Sunnah
Layaknya puasa wajib, puasa sunnah juga memiliki syarat yang harus dipenuhi agar puasa bernilai sah dan tidak berujung sia-sia. Menukil dari buku Inden Surga pada Hari Senin dan Kamis oleh Ridhoul Wahidi, berikut adalah syarat-syarat sah puasa:
- Beragama Islam
- Mumayyiz (mampu membedakan baik dan buruk)
- Suci dari haid dan nifas
- Dilakukan dalam waktu yang ditentukan
Lantas, hari apa saja yang tidak boleh melakukan puasa sunnah?
Hari-Hari Tertentu yang Tidak Boleh Puasa Sunnah
Merangkum dari buku 125 Masalah Puasa karya Muhammad Anis Sumaji, berikut adalah hari-hari tertentu yang diharamkan untuk berpuasa sunnah:
1. Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha
Larangan menunaikan ibadah puasa sunnah pada dua hari raya ini berasal dari Rasulullah SAW.
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامٍ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى.
Artinya: "Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari, Hari Raya Fitri dan Hari Saya Adha." (HR Muttafaq 'alaih)
2. Hari Tasyrik
Hari tasyrik adalah tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah, ketika umat Islam masih dalam suasana perayaan Hari Raya Idul Adha, sehingga diharamkan untuk berpuasa. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى
Artinya: "Sesungguhnya hari itu (tasyrik) adalah hari makan, minum, dan zikir kepada Allah." (HR Muslim)
3. Puasa Khusus pada Hari Jumat
Puasa yang hanya dilakukan satu hari pada hari Jumat haram hukumnya apabila tidak didahului dengan hari sebelum atau sesudahnya. Apabila terbiasa puasa Daud (sehari berpuasa, sehari tidak) dan jadwal berpuasa jatuh pada hari Jumat, maka hukumnya boleh.
Mengenai larangan ini, sebagian ulama tidak menyebut haram secara mutlak, melainkan hanya makruh.
4. Puasa pada Hari Syak
Hari syak (ragu) merujuk pada hari yang diragukan, yakni tanggal 30 Syakban ketika hilal (bulan sabit penentu Ramadan) belum terlihat jelas, sehingga orang tidak yakin apakah esok harinya telah masuk bulan Ramadan atau belum. Beberapa ulama melarang umat Islam berpuasa pada hari syak, tetapi ada juga ulama yang hanya memakruhkan.
5. Puasa Terus-menerus
Diharamkan bagi seseorang berpuasa setiap hari dan terus-menerus, meski dalam keadaan sanggup menunaikan dan tidak berpengaruh kepada kondisi tubuhnya. Secara syar'i, puasa terus-menerus dilarang oleh Islam. Bagi umat Islam yang ingin menunaikan ibadah puasa yang banyak, Rasulullah SAW menganjurkan untuk melakukan puasa Daud, yakni sehari puasa dan hari berikutnya tidak berpuasa.
6. Puasa Ketika Haid atau Nifas
Perempuan yang sedang haid atau dalam masa nifas haram untuk berpuasa karena kondisi tubuhnya sedang dalam keadaan tidak suci dari hadas besar, sehingga dosa jika dilakukan. Apabila terjadi pada Ramadan, perempuan tersebut harus menggantinya di hari lain.
7. Puasa Sunnah bagi Perempuan Tanpa Izin Suaminya
Seorang istri yang hendak menunaikan puasa sunnah harus meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya. Apabila diizinkan, maka boleh. Sebaliknya, jika tidak diizinkan maka haram dilakukan.
Baca juga: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh September 2026 |
