Duka dan ujian berat pernah dialami oleh Rasulullah SAW dalam memperjuangkan syiar agama Islam. Salah satu peristiwa paling memilukan sekaligus penuh hikmah ketabahan dalam sejarah kenabian terjadi di Kota Thaif.
Di kota tersebut, Rasulullah SAW tidak hanya ditolak dengan kata-kata kasar, tetapi juga dilempari batu hingga tubuh beliau terluka. Di tengah kepedihan dan keterasingan fisik serta batin, mengalir sebuah doa yang sangat indah dan menyentuh hati dari lisan Nabi SAW. Bagaimanakah kisah perjalanan beliau ke Taif? Bagaimana bacaan doa Rasulullah di Taif yang menyentuh hati?
Peristiwa Kelam Dakwah di Kota Taif
Merujuk kitab Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarokfuri, peristiwa di Taif terjadi pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian, atau pada awal bulan Juni Tahun 619 M. Setelah wafatnya sang paman, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah RA, tekanan serta intimidasi kaum kafir Quraisy di Makkah semakin merajalela.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rasulullah SAW kemudian berjalan kaki sejauh puluhan kilometer menuju Kota Taif bersama Zaid bin Haritsah RA dengan harapan mendapatkan perlindungan serta sambutan baik. Beliau menemui tiga orang bersaudara dari pemimpin Bani Tsaqif, yaitu Abd Yalail, Mas'ud dan Hubaib, anak-anak Amr bin Umair Ats-Tsaqli.
Sayangnya, para pemuka Taif justru menolak dakwah beliau dengan penghinaan yang sangat kejam. Tak berhenti di situ, mereka mengerahkan rakyat, anak-anak, dan para budak untuk berbaris membentuk barisan lalu melempari Rasulullah SAW dengan batu. Zaid bin Haritsah berusaha pasang badan melindungi Nabi hingga kepalanya terluka, sementara kaki Rasulullah SAW berdarah hingga membasahi sandal beliau.
Teks Bacaan Doa Rasulullah SAW di Taif
Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran penduduk Taif, Rasulullah SAW berteduh di sebuah kebun anggur milik 'Utbah dan Syaibah. Di bawah naungan pohon anggur dalam keadaan tubuh terluka dan lelah luar biasa, beliau memanjatkan doa yang sangat mengharukan:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضُعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيْلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ، وَأَنْتَ رَبِّي
Allahumma ilaika asyku dhu'fa quwwati, wa qillata hilati, wa hawani 'alan-nas, ya arhamar-rahimin, anta rabbul-mustadh'afin, wa anta rabbi.
Artinya: "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan meyakinkanku, keterbatasan daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang tertindas, dan Engkaulah Tuhanku."
إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي؟ أَمْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلاَ أُبَالِي، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي
Ila man takiluni? Ila ba'idin yatajahhamuni? Am ila 'aduwwin mallaktahu amri? In lam yakun bika 'alayya ghadhabun fala ubali, wa lakinna 'afiyataka hiya awsa'u li.
Artinya: "Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku? Kepada orang jauh yang memandangku dengan muka masam? Atau kepada musuh yang Engkau beri kuasa atas urusanku? Sungguh, asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli (atas ujian ini). Namun, keselamatan dan perlindungan dari-Mu tentu lebih lapang bagiku."
أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَكَ، أَوْ يَحِلَّ عَلَيَّ سَخَطُكَ، لَكَ العُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ
A'udzu binuri wajhikalladzi asyraqat lahudh-dhulumat, wa shaluha 'alaihi amrud-dunya wal-akhirah, min an tunzila bi ghadhabaka, aw yahilla 'alayya sakhatuka, lakal-'utba hatta tardha, wa la haula wa la quwwata illa bika.
Artinya: "Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan membenahi seluruh urusan dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau timbulnya kemarahan-Mu atas diriku. Bagi-Mu lah hak untuk menegurku hingga Engkau ridha. Dan tiada daya serta upaya melainkan dengan pertolongan-Mu."
(lus/lus)
