Perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW yang panjang tidak pernah luput dari penolakan, cemoohan, hingga penyerangan fisik dari kaum kafir. Mereka dengan berani mengejek dan mencelakai Rasulullah SAW tanpa belas kasihan.
Penolakan dan tekanan keras mulai terjadi sejak Rasulullah SAW dakwah secara terang-terangan di Makkah. Selama 10 tahun, beliau menghadapi ujian sangat berat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan Fisik dan Fitnah dari Abu Lahab dan Istrinya
Pada tahun keempat setelah beliau diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW memulai dakwah secara terang-terangan. Saat ini pula Rasulullah SAW mulai mendapat cobaan dan tantangan berupa tekanan dan penyiksaan dari kaum Quraisy agar beliau menghentikan dakwahnya.
Disebutkan dalam Sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Lahab memulai aksi penyerangan terhadap Rasulullah SAW. Terdapat beberapa hadits yang meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah berada di Shafa, Abu Lahab melempari Rasulullah SAW dengan batu. Bahkan pada suatu musim haji, Abu Lahab menguntit Rasulullah SAW, ia tak segan melempar batu hingga menyebabkan kedua tumit Rasulullah SAW berdarah.
Tidak hanya itu, istri Abu Lahab, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah, turut melakukan serangan fisik terhadap Rasulullah SAW. Ia memasang duri di jalan yang dilalui Rasulullah SAW dan di pintu rumah beliau pada suatu malam. Ummu Jamil merupakan wanita yang berkuasa, lidah dan mulutnya penuh bualan dan tipu muslihat, suka menyebarkan fitnah, dan menyalakan api peperangan untuk melawan Nabi Muhammad SAW.
Tatkala turun Surah Al-Lahab mengenai dirinya dan suaminya, Abu Lahab bergegas mencari Rasulullah SAW yang saat itu sedang duduk di masjid di dekat Ka'bah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia datang membawa segenggam batu yang hendak ia lempar ke Rasulullah SAW. Namun, Allah SWT telah menutupi pandangannya, sehingga ia hanya mampu melihat Abu Bakar saja.
Perbuatan Keji Saudara dan Tetangga Rasulullah SAW
Masih merujuk sumber sebelumnya, disebutkan oleh Ibnu Ishaq, orang-orang yang biasanya menyakiti Rasulullah SAW ketika dalam rumah adalah Abu Lahab, Al-Hakam bin Abul Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abu Mu'ith, Adi bin Hamra' Ats-Tsaqafi, Ibnul Ashda' Al-Hudzali, yang semuanya adalah tetangga beliau.
Mereka melempari Rasulullah SAW dengan isi perut domba dan kotoran ketika saat sedang salat. Mereka juga meludahi wajah Rasulullah SAW tatkala beliau sedang membaca Al-Qur'an.
Cobaan Selepas Paman dan Istri Meninggal
Disebutkan dalam buku Cekal dan Tabah: Kisah-kisah Dakwah Nabi Muhammad di Mekah oleh Arrief Salleh Rosman, pada Rajab tahun ke-10 kenabian, Abu Talib wafat. Lalu, pada bulan Ramadan di tahun yang sama, istri Rasulullah SAW, Khadijah berpulang pula.
Semenjak Abu Talib wafat, kaum Quraisy semakin berani mengganggu dan menyakiti Rasulullah SAW.
Suatu hari, seorang laki-laki kaum Quraisy melempari Rasulullah SAW dengan tanah lumpur. Setibanya di rumah, anak perempuan Rasulullah SAW membantu membersihkan wajah Rasulullah SAW seraya menangis melihat perlakuan kaum Quraisy terhadap ayahnya.
Memulai Dakwah ke Taif
Akhirnya Nabi Muhammad SAW bertekad pergi ke Taif pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian bersama anak angkat yang menjadi sahabat setianya, Zaid bin Harisah. Setibanya di Taif, Rasulullah SAW bertemu tiga orang terpandang, yakni Abdu Yalil bin Amru, Habib bin Amru, dan Mas'ud bin Amru. Namun, ketiga pemimpin tersebut menolak kehadiran Rasulullah SAW dan menceritakan kepada rakyat-rakyatnya mengenai kisah Rasulullah SAW yang diusir dan dihina oleh kaumnya, kaum Quraisy.
Kehadirannya ditolak, Rasulullah SAW memutuskan kembali ke Makkah. Tatkala dalam perjalanan kembali ke Makkah, rakyat Taif berbaris di kiri dan kanan jalan, semuanya menghina dan mencerca Rasulullah SAW sembari melempari batu hingga kaki beliau berdarah.
(kri/kri)

Komentar Terbanyak
Kenapa Tape Halal Padahal Mengandung Alkohol?
7 Fenomena Sains yang Dijelaskan dalam Al-Qur'an
Bintang Ahmad Muncul di Langit Madinah Saat Kelahiran Nabi Muhammad SAW