Jadwal Ramadan dan Lebaran 2027 Versi KHGT Muhammadiyah

Jadwal Ramadan dan Lebaran 2027 Versi KHGT Muhammadiyah

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Sabtu, 29 Agu 2026 18:00 WIB
Ilustrasi Puasa Arafah 9 Dzulhijjah
Foto: magnific/Magnific
Jakarta -

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan penanggalan Ramadan dan Lebaran tahun 2027. Penetapan ini mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Dilansir dari situs resmi Muhammadiyah, KHGT jadi inisiatif visioner dari Muhammadiyah untuk menciptakan kalender Islam yang seragam di seluruh dunia. Inisiatif ini tidak hanya merupakan langkah besar dalam bidang keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan akan kepastian dan ketepatan dalam pelaksanaan ibadah yang bersifat global.

Sejak tahun 1932 hingga pertengahan 2024, Muhammadiyah telah dikenal sebagai penganut mazhab Hisab Hakiki Wujudul Hilal dalam menyusun kalender Hijriahnya. Metode ini, meskipun telah memberikan banyak kontribusi, masih bersifat lokal dan terbatas pada wilayah Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah yang muncul, terutama dalam pelaksanaan ibadah yang waktunya terkait dengan lokasi geografis tertentu, seperti puasa Arafah, memunculkan kebutuhan akan kalender yang lebih universal.

KHGT telah digunakan Muhammadiyah sejak 2025 hingga kini. Peresmian KHGT dilakukan di Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, 25 Juni 2025 lalu.

ADVERTISEMENT

Kapan Ramadan dan Lebaran 2027 Versi KHGT Muhammadiyah?

Merujuk pada KHGT Muhammadiyah, berikut jadwal Ramadan dan Lebaran 2027.

  • 1 Ramadan 1448 H bertepatan dengan Senin, 8 Februari 2026.
  • 1 Syawal 1448 H bertepatan dengan Selasa, 9 Maret 2027.

Prediksi Ramadan dan Lebaran 2027 Versi Pemerintah dan NU

Hingga kini, pemerintah maupun Nahdlatul Ulama belum menetapkan secara resmi kapan Ramadan dan Lebaran 2027. Pemerintah lewat Kementerian Agama RI harus melakukan Sidang Isbat terlebih dahulu dengan mempertimbangkan hasil hisab dan rukyat hilal untuk menetapkan kedua tanggal penting tersebut.

Namun, Kemenag RI dan PBNU memprediksi awal puasa Ramadan 2027 juga bertepatan dengan Senin, 8 Februari 2027 atau Selasa, 9 Februari 2027. Pemeritnah dan NU menggunakan metode hisab dan rukyatul hilal. Metode tersebut mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura).

Melalui kritera MABIMS, ketinggian hilal minimal berada pada angka 3 derajat di atas ufuk dengan sudut elongasi minimal 6,4 derajat. Bila pada hari pemantauan ketinggian hilal tidak memenuhi kriteria tersebut, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari atau istikmal sehingga awal puasa berpotensi digeser ke hari berikutnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ijtimak atau konjungsi awal Ramadan 1448 H terjadi pada Sabtu, 6 Februari 2027 pukul 15.56.02 UT atau 22:56:02 WIB. Pada hari tersebut, tinggi hilal di Indonesia saat matahari terbenam adalah -4.52° di Jayapura sampai dengan -3.22° di Tua Pejat.

Karena masih berada di bawah ufuk (di bawah 0°), hilal mustahil terlihat pada proses pemantauan. Mengacu pada data tersebut, tanggal 7 Februari 2027 belum masuk bulan baru. Artinya, awal bulan Ramadan 1448 H kemungkinan baru akan dimulai pada Senin, 8 Februari 2027 dan salat Tarawih pertama diprediksi dilaksanakan pada Minggu malam, 7 Februari 2027.

Apabila bulan Ramadan berlangsung selama 29 hari, maka Hari Raya Idul Fitri 1448 H akan jatuh pada 9 Maret 2027. Namun jika bulan Ramadan genap 30 hari, maka Hari Raya Idul Fitri 1448 H akan jatuh pada 10 Maret 2027.



(aeb/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads