Kiai Sepuh NU Adakan Pertemuan Jelang Muktamar Ke-35, Ini yang Dibahas

Kiai Sepuh NU Adakan Pertemuan Jelang Muktamar Ke-35, Ini yang Dibahas

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 20 Agu 2026 18:34 WIB
Pertemuan kiai sepuh NU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026.)
Kiai Sepuh NU gelar pertemuan jelang Muktamar ke-35 NU, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026). Foto: Hanif Hawari/detikcom
Jakarta -

Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) menggelar Forum Silaturahmi Para Kiai di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Pertemuan yang berlangsung pada Kamis (20/8/2026) ini digelar untuk merespons dinamika yang berkembang menjelang perhelatan Muktamar ke-35 NU.

Sejumlah tokoh senior tampak hadir secara langsung di Gedung PBNU, di antaranya KH Ma'ruf Amin, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Ali Akbar Marbun, KH Muadz Thohir, KH Ahmad Haris Shodaqoh, KH Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Muhyiddin Ishaq, dan KH Muhibbul Aman Aly.

Selain kehadiran fisik, forum silaturahmi ini juga diikuti secara daring melalui Zoom oleh para ulama sepuh lainnya, yakni KH Said Aqil Siroj, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Anwar Manshur, KH Zuhri Zaini, KH Idris Hamid, serta KH Nuruzzahri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai pertemuan, Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin mengungkapkan bahwa silaturahmi tersebut didorong oleh rasa keprihatinan para ulama sepuh terhadap munculnya isu-isu mengkhawatirkan jelang Muktamar.

ADVERTISEMENT

"Pertemuan ini didorong oleh rasa keprihatinan adanya dinamika yang berkembang menjelang Muktamar. Adanya isu-isu yang sangat mengkhawatirkan karena ditandai cara-cara yang tidak terpuji untuk upaya-upaya dalam Muktamar yang akan datang itu," ujar Kiai Ma'ruf.

Wakil Presiden RI periode 2019-2024 tersebut menjelaskan alasan dilaksanakannya pertemuan di Gedung PBNU. Hal itu bertujuan untuk menyampaikan seruan moral demi kemaslahatan organisasi, tanpa ditunggangi oleh kepentingan kelompok tertentu.

"Dipilihnya tempat ini supaya kita memang akan membuat seruan moral. Tidak untuk kepentingan siapa-siapa, kecuali untuk kepentingan Nahdlatul Ulama. Supaya Muktamar ini memang Muktamarnya para ulama, sehingga jangan dicederai oleh hal-hal yang tidak terpuji, tidak sesuai dengan akhlaknya para ulama," tegasnya.

Salah satu poin utama yang disoroti dalam pertemuan para kiai sepuh ini adalah masalah Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Menurut Kiai Ma'ruf, Ahwa merupakan sistem penentuan pucuk pimpinan NU yang sejatinya merepresentasikan ulama-ulama terbaik.

"Yang utamanya itu masalah Ahwa. Ahwa itu adalah representasi para ulama untuk memilih Rais Aam yang lahir mestinya dari hati nurani dan memilih orang yang terbaik," terangnya.

Ia mengingatkan agar penentuan Ahwa benar-benar murni berdasarkan kapasitas dan integritas para ulama, serta steril dari kepentingan pragmatis.

"Representasi ulama yang terbaik, yang punya selain kapasitas juga integritas. Jadi benar-benar ulamanya itu tidak merupakan satu paket pesanan, apalagi kalau di situ ada diikuti dengan masalah transaksi atau mobilisasi ataupun juga ada upaya-upaya hal-hal yang tidak terpuji lainnya," kata Kiai Ma'ruf.



(hnh/lus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads