Saat menunaikan salat, pikiran dan raga dituntut untuk hadir sepenuhnya dan fokus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, sering kali godaan setan masuk melalui celah-celah sempit agar manusia lalai mencapai kesempurnaan ibadah, misalnya melalui pandangan yang tidak fokus ketika salat.
Mengenai hal ini, Rasulullah SAW telah menganjurkan bagi setiap umatnya untuk menjaga pandangan ketika salat. Berikut penjelasannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pandangan Mata Saat Salat untuk Menjaga Kekhusyukan
Umat Islam dianjurkan menundukkan kepala dan mengarahkan matanya ke tempat sujud atau sajadah ketika salat. Hal ini dilakukan untuk menjaga kekhusyukan salat.
Sebagaimana hadits riwayat yang disebutkan dalam buku Al Islam dan Kemuhammadiyahan II (Ibadah & Akhlak) oleh Anwar Sadat dkk:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ " إِذَا صَلَّى رَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَنَزَلَتْفِ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَقٍ فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ
Artinya: Dari Abu Hurairah RA (diriwayatkan) bahwa Rasulullah SAW apabila melaksanakan salat matanya memandang ke langit, maka turunlah ayat, (Artinya) yaitu orang yang khusyuk dalam salatnya, kemudian Nabi Muhammad SAW menundukkan kepalanya." (HR al-Hakim)
Menukil dari buku (Ngopi) Ngobrol Perkara Iman karya M Habib Sholeh, pandangan mata yang dianjurkan ketika berdiri diarahkan ke tempat sujud. Sementara ketika tasyahud atau duduk, pandangan diarahkan ke jari telunjuk yang sedang menunjuk ke arah kiblat, sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Larangan Menatap Langit Saat Salat
Sebagian umat Islam mungkin pernah menengadahkan pandangan ke arah langit ketika salat secara sengaja maupun tidak. Namun, menurut penjelasan dalam buku Fiqih Sunnah Jilid 1 karya Sayyid Sabiq, perilaku ini dilarang secara tegas oleh Rasulullah SAW.
Tercatat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
لَيَنْتَهِينَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ، أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ
Artinya: "Hendaklah orang-orang tidak mengarahkan penglihatan mereka ke langit saat menunaikan salat, atau (kalau tidak) penglihatan mereka dilenyapkan." (HR Ahmad, Muslim, dan Nasa'i)
Anjuran Menjaga Pandangan Saat Salat
Selain menghadap ke langit, umat Islam juga dianjurkan tidak melayangkan pandangan ke sisi kanan dan kirinya tanpa keperluan mendesak. Dikatakan, lirikan pandangan ke arah samping ketika salat menandakan masuknya godaan setan yang memecah kekhusyukan umat Islam dalam beribadah.
Mengenai perilaku memalingkan pandangan ketika salat, Rasulullah SAW bersabda:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، قَالَ حَدَّثَنَا أَشْعَثُ بْنُ سُلَيْمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ الاِلْتِفَاتِ فِي الصَّلاَةِ فَقَالَ " هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ
Artinya: "Aisyah berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang memalingkan pandangan dalam salat. Beliau menjawab, 'Itu adalah cara mencuri yang diambil oleh setan dari salat seorang hamba'." (HR Bukhari)
Dalam buku Fikih Wanita & Keluarga, Syekh Ahmad Jad juga menyebut perilaku memalingkan pandangan saat salat menyebabkan Allah SWT turut memalingkan pandangan dari hamba-Nya.
Dari Ibnu Al-Musayyib, ia berkata, Abu Dzar pernah mengatakan, "Rasulullah bersabda: "Allah senantiasa menghadap seorang hamba selama ia tidak berpaling. Apabila orang tersebut berpaling, Dia berpaling darinya."
