Peristiwa Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam Sejarah Islam

Peristiwa Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam Sejarah Islam

Aulia Retno Utami - detikHikmah
Kamis, 13 Agu 2026 05:45 WIB
Ilustrasi kisah Nabi
Ilustrasi Peristiwa Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Foto: Getty Images/iStockphoto/rudall30
Jakarta -

Kelahiran Nabi Muhammad SAW didahului oleh sejumlah peristiwa penting yang dicatat dalam sejarah. Rangkaian tersebut dimulai dari kisah kepemimpinan kakek Rasulullah, penebusan ayah Rasulullah yang hendak disembelih, hingga gagalnya pasukan gajah utusan Abrahah yang hendak menyerang Ka'bah.

Peristiwa-peristiwa ini yang kemudian menjadi catatan penting yang melatarbelakangi kisah menjelang kelahiran Rasulullah SAW.

Nazar Abdul Muthalib dan Penebusan Abdullah

Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah karya Syeikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, jejak peristiwa ini bermula ketika Abdul Muthalib, kakek Rasulullah yang kala itu memimpin Baitul-Haram mendapatkan petunjuk melalui mimpi. Awal mulanya, Abdul Muthalib bermimpi mendapatkan perintah untuk menggali sumur Zamzam dan mencari tempatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka ia segera melaksanakan perintah dalam mimpi itu, kemudian ia menemukan berbagai benda berharga yang dulu pernah dipendam oleh kaum Jurhum ketika mereka masih menguasai Makkah. Benda-benda tersebut berupa beberapa pedang, baju perang, dan dua pangkal pelana yang semuanya terbuat dari emas.

Abdul Muthalib lantas menjadikan pedang-pedang itu sebagai pintu Ka'bah dan memasang dua buah pangkal pelana di pintunya.

ADVERTISEMENT

Ketika Abdul Muthalib berhasil menemukan kembali sumur Zamzam, kaum Quraisy berniat ikut mengelolanya. Lantas Abdul Muthalib menyangkalnya dan berkata, "Tidak bisa. Ini adalah urusan yang secara khusus ada di tanganku."

Abdul Muthalib tidak menyerah sampai ia membuat nazar kepada Allah SWT apabila ia dikaruniai sepuluh anak laki-laki, maka ia akan mengorbankan (menyembelih) salah satu di antara mereka di hadapan Ka'bah.

Tiba hari di mana Abdul Muthalib harus menunaikan nazarnya, ia memberitahukan nazar tersebut kepada mereka dan mereka semua patuh. Abdul Muthalib kemudian menulis nama sepuluh anak laki-lakinya pada anak panah untuk diundi. Setelah anak panah tersebut dikocok, undian diserahkan kepada patung Hubal dan nama Abdullah yang keluar.

Ketika Abdul Muthalib menuntun Abdullah untuk disembelih di depan Ka'bah, kaum Quraisy mencegahnya dan akhirnya disepakati agar Abdul Muthalib mengundi Abdullah dengan sepuluh ekor unta. Apabila yang keluar nama Abdullah, maka ia harus menambah sepuluh ekor unta hingga Allah SWT rida.

Setiap kali diundi, nama Abdullah tetap keluar sehingga Abdul Muthalib terus menambah jumlah unta hingga mencapai seratus ekor. Maka dengan itu, seratus ekor unta tersebut disembelih sebagai pengganti atau tebusan Abdullah.

Sebelumnya, tebusan untuk pembunuhan yang berlaku di kalangan Quraisy dan masyarakat Arab berjumlah sepuluh ekor unta. Namun setelah kejadian ini, jumlahnya bertambah menjadi seratus ekor unta.

Peristiwa Abrahah dan Pasukan Gajah

Abrahah Ash-Shabbah Al-Habsi, penguasa Yaman yang berada di bawah kekuasaan Najasy, membangun sebuah gereja yang sangat besar di Shan'a. Hal tersebut lantaran ia melihat bangsa Arab yang melaksanakan haji di Ka'bah. Abrahah berniat mengalihkan pusat kegiatan haji di Ka'bah menjadi bertempat di gereja yang ia bangun.

Rencana Abrahah kemudian didengar oleh seseorang Bani Kinanah yang akhirnya mengendap-endap masuk ke gereja dan mengotori pusat kiblatnya. Melihat perbuatan ini, Abrahah murka dan mengutus 60 ribu prajurit yang menunggangi gajah untuk menghancurkan Ka'bah.

Setibanya di Wadi Muhassir, letaknya di antara Muzdalifah dan Mina, tiba-tiba gajah tersebut tiba-tiba menderum dan tak mau bangkit menuju Ka'bah. Gajah tersebut mau bangkit ketika diarahkan ke selatan, utara, timur, atau barat, yakni arah yang berlawanan dengan Ka'bah. Namun ketika dialihkan kembali ke arah Ka'bah, gajah itu menderum.

Dalam kondisi tersebut, Allah mengirimkan burung-burung Ababil yang kemudian menjatuhkan batu-batu dari tanah yang terbakar kepada pasukan tersebut, sehingga mereka menyerupai daun-daun yang dimakan ulat.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram, sekitar 50 atau 55 hari sebelum kelahiran Rasulullah SAW.



(inf/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads