Kapan Seseorang Dianjurkan Melakukan Ruqyah Mandiri?

Kapan Seseorang Dianjurkan Melakukan Ruqyah Mandiri?

Devi Setya - detikHikmah
Rabu, 12 Agu 2026 07:15 WIB
Ilustrasi berdoa
Foto: Freepik
Jakarta -

Seorang muslim dapat melakukan ruqyah mandiri untuk melindungi dirinya sendiri. Ruqyah merupakan salah satu ikhtiar yang dikenal dalam ajaran Islam untuk memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah SWT.

Ruqyah mandiri dilakukan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an, doa, dan zikir yang sesuai dengan tuntunan syariat. Praktik ini tidak hanya berkaitan dengan gangguan yang diyakini bersifat nonfisik, tetapi juga dapat menjadi bentuk doa kepada Allah SWT ketika seseorang mengalami sakit, merasa takut, atau membutuhkan perlindungan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip buku Memahami Ilmu Tauhid Dan Amalan Ahli Surga karya Muhammad Nauval, ruqyah dalam bahasa Arab artinya meninggikan dan mengangkat. Secara syar'i, ruqyah adalah bacaan yang dirapalkan untuk menyembuhkan demam, kejang-kejang dan penyakit lainnya.

H. Brilly El-Rasheed, S.Pd. dalam bukunya yang berjudul Dzikir Dahsyat Doa Hebat menjelaskan ruqyah adalah membaca ayat Al-Qur'an atau doa-doa dari hadits, dengan niat untuk melindungi diri dari penyakit dalam diri kita, baik fisik maupun non fisik.

ADVERTISEMENT

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan." (HR Muslim)

Rasulullah SAW pernah melakukan ruqyah dan beliau pun pernah di-ruqyah. Demikian juga para sahabat Nabi SAW yang pernah melakukan ruqyah.

Apa Itu Ruqyah Mandiri?

Secara umum, ruqyah adalah bacaan berupa ayat Al-Qur'an, doa, atau zikir yang dibaca untuk memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah SWT.

Sementara ruqyah mandiri berarti seseorang membaca sendiri ayat Al-Qur'an dan doa-doa tersebut untuk dirinya.

Dalam Islam, ruqyah bukanlah praktik yang memberikan kekuatan kepada seseorang secara mandiri. Kesembuhan tetap diyakini berasal dari Allah SWT. Bacaan Al-Qur'an dan doa menjadi bentuk ikhtiar seorang muslim.

Dikutip dari buku Ar-Ruqyah Asy-Syar'iyyah: Terapi Gangguan Jin & Penyakit Hati karya Ustad Arif Rahman, sebelum tidur, Rasulullah SAW biasa meruqyah dirinya sendiri dengan membaca beberapa surat, sebagaimana sabda beliau:

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya: "Nabi Muhammad SAW saat berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan itu ditiup dan dibacakan: 'Qul huwallahu ahad' (surah Al-Ikhlas), 'Qul a'udzu birobbil falaq' (surah Al-Falaq), dan 'Qul a'udzu birobbin naas' (surah An Naas). Setelah itu beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Rasulullah SAW melakukan hal itu sebanyak tiga kali." (HR Bukhari, No. 5017)

Ruqyah mandiri dapat dilakukan kapan saja, terutama ketika seseorang membutuhkan pertolongan, perlindungan, maupun memohon kesembuhan kepada Allah SWT.

Berikut beberapa kondisi ketika seseorang dapat melakukan ruqyah mandiri.

1. Ketika Mengalami Sakit

Ruqyah dapat dilakukan ketika seseorang mengalami sakit sebagai bagian dari ikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan.

Islam mengajarkan umatnya untuk berdoa ketika mengalami penyakit. Selain melakukan pengobatan secara medis, seseorang dapat memohon kepada Allah SWT agar diberikan kesembuhan.

2. Ketika Merasa Takut atau Gelisah

Ruqyah mandiri juga dapat dilakukan sebagai bentuk doa ketika seseorang merasa takut, cemas, atau menghadapi situasi yang membuatnya membutuhkan ketenangan.

Membaca ayat Al-Qur'an dan doa dapat menjadi sarana untuk mengingat Allah SWT.

Namun, seseorang juga perlu memahami bahwa tidak semua rasa takut atau kegelisahan merupakan tanda gangguan tertentu. Perasaan tersebut dapat muncul karena berbagai sebab dan merupakan bagian dari pengalaman manusia.

3. Untuk Memohon Perlindungan dari Keburukan

Ruqyah juga dapat dilakukan sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai keburukan.

Seorang muslim dapat membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan doa perlindungan, baik pada pagi dan petang maupun sebelum tidur.

Di antara bacaan yang dikenal luas sebagai perlindungan adalah Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

Ketiga surat tersebut juga dikenal sebagai Al-Mu'awwidzat, yakni surat-surat yang digunakan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

4. Ketika Hendak Tidur

Ruqyah mandiri juga dapat dilakukan sebelum tidur.

Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan membaca sejumlah surat Al-Qur'an sebelum tidur, kemudian meniupkan ke kedua telapak tangannya dan mengusapkannya ke tubuh.

Di antaranya adalah Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

Cara Ruqyah Mandiri

Ruqyah mandiri tidak harus dilakukan dengan tata cara yang rumit.

Seseorang dapat berwudhu terlebih dahulu, kemudian memilih tempat yang bersih dan tenang. Setelah itu, membaca ayat Al-Qur'an dan doa yang sesuai dengan tuntunan.

Dikutip dari buku Ar-Ruqyah Asy-Syar'iyyah: Terapi Gangguan Jin & Penyakit Hati karya Ustad Arif Rahman, sebelum tidur, Rasulullah SAW biasa meruqyah dirinya sendiri dengan membaca beberapa surat, sebagaimana sabda beliau:

كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya: "Nabi Muhammad SAW saat berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan itu ditiup dan dibacakan: 'Qul huwallahu ahad' (surah Al-Ikhlas), 'Qul a'udzu birobbil falaq' (surah Al-Falaq), dan 'Qul a'udzu birobbin naas' (surah An Naas). Setelah itu beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Rasulullah SAW melakukan hal itu sebanyak tiga kali." (HR Bukhari)

Mengacu hadits tersebut, ayat-ayat Al-Qur'an yang diajarkan dan dianjurkan Rasulullah SAW untuk ruqyah mandiri adalah surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas. Bisa juga ditambah dengan membaca ayat kursi.

Surat al-Fatihah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Arab-Latin: bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Artinya: 1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn

2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

ar-raḥmānir-raḥīm

3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ

māliki yaumid-dīn

4. Yang menguasai di Hari Pembalasan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm

6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn

7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Surat al-Ikhlas

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

Arab-Latin: qul huwallāhu aḥad

Artinya: 1. Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa.

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

allāhuṣ-ṣamad

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

lam yalid wa lam yụlad

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

wa lam yakul lahụ kufuwan aḥad

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".

Surat al-Falaq

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ

Arab-Latin: qul a'ụżu birabbil-falaq

Artinya: 1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

min syarri mā khalaq

2. dari kejahatan makhluk-Nya,

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

wa min syarri gāsiqin iżā waqab

3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ

wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad

4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad

5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".

Surat an-Naas

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ

Arab-Latin: qul a'ụżu birabbin-nās

Artinya: 1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

مَلِكِ ٱلنَّاسِ

malikin-nās

2. Raja manusia.

إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ

ilāhin-nās

3. Sembahan manusia.

مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ

min syarril-waswāsil-khannās

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ

allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās

5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

minal-jinnati wan-nās

6. dari (golongan) jin dan manusia.

Ayat Kursi

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

Arab-Latin: allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm

Artinya: Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.



(dvs/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads