Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan merupakan tradisi yang masih dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia. Tradisi ini dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar.
Di sejumlah daerah, Rebo Wekasan juga disebut Rebo Kasan atau Rebo Pungkasan. Tradisi ini banyak dikenal oleh masyarakat Jawa, Sunda, Madura dan beberapa daerah lain di Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat, Rebo Wekasan menjadi waktu untuk memperbanyak doa, zikir, sedekah hingga silaturahmi. Tradisi tersebut umumnya dimaknai sebagai ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah dan ujian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di balik tradisi tersebut terdapat sejarah dan perdebatan mengenai asal-usul keyakinan bahwa Rabu terakhir bulan Safar merupakan waktu turunnya banyak bala atau musibah. Lantas, dari mana sebenarnya Rebo Wekasan berasal?
Apa Itu Rebo Wekasan?
Dikutip dari buku Muhammadiyah Bukan NU Juga Bukan Wahabi Tapi Abduhisme karya Gus Ibnu Yusuf, secara sederhana, Rebo Wekasan adalah sebutan untuk hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Kata "Rebo" berarti Rabu, sedangkan "wekasan" dalam bahasa Jawa berkaitan dengan makna terakhir atau penghujung.
Dengan demikian, Rebo Wekasan tidak menunjuk pada tanggal Hijriah yang selalu sama setiap tahun. Sebab, kalender Hijriah mengikuti peredaran bulan sehingga posisi Rabu terakhir Safar akan berbeda jika dikonversikan ke kalender Masehi.
Melansir laman NU Online, sejarah Rebo Wekasan antara lain tidak dapat dilepaskan dari proses islamisasi Jawa yang berlangsung sejak berabad-abad lalu.
Pada masa islamisasi Jawa, para pendakwah berusaha menyampaikan ajaran Islam dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satu kelompok ulama yang dikenal menggunakan pendekatan tersebut adalah Wali Songo.
Alih-alih menghilangkan seluruh tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat, nilai-nilai Islam diperkenalkan melalui simbol, bahasa, dan budaya yang telah dikenal masyarakat setempat.
Pendekatan tersebut membuat pesan keislaman lebih mudah diterima. Sejumlah tradisi lokal kemudian mendapatkan pemaknaan baru dengan memasukkan nilai-nilai tauhid, doa, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Kemudian seiring berkembangnya Islam di berbagai wilayah Jawa, tradisi Rebo Wekasan kemudian memiliki cerita yang berbeda-beda di tingkat masyarakat.
Di sejumlah daerah, Rebo Wekasan dikaitkan dengan tokoh agama lokal. Salah satunya adalah kisah Kyai Faqih Usman, yang juga dikenal dengan sebutan Kyai Faqih Usman Wonokromo atau Kyai Faqih Usman Welit.
Tokoh yang hidup pada abad ke-18 tersebut dikenal dalam cerita masyarakat sebagai seorang ulama yang mampu membantu menyembuhkan penyakit melalui doa dan pembacaan ayat-ayat suci.
Kisah mengenai tokoh lokal seperti ini kemudian menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Cerita tersebut diwariskan dari generasi ke generasi dan ikut membentuk cara masyarakat memahami tradisi Rebo Wekasan.
Dengan demikian, tradisi tersebut tidak hanya memiliki dimensi keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah sosial dan kebudayaan masyarakat di daerah.
Rebo Wekasan juga memiliki kaitan dengan keterangan yang berkembang dalam sebagian literatur ulama tasawuf klasik.
Dalam sejumlah keterangan, Rabu terakhir bulan Safar disebut sebagai waktu ketika berbagai bala atau musibah "turun" ke dunia. Salah satu ulama yang disebut dalam pembahasan mengenai hal tersebut adalah Syekh Abdul Hamid Quds.
Ia menuliskan angka 320.000 bala yang dikaitkan dengan Rabu terakhir bulan Safar.
Keterangan tersebut kemudian berkembang dalam pemahaman masyarakat dan menjadi salah satu alasan munculnya berbagai kegiatan keagamaan pada Rebo Wekasan.
Namun, angka tersebut tidak harus dipahami secara harfiah sebagai jumlah musibah yang benar-benar terjadi pada satu hari. Dalam konteks tertentu, angka itu dapat dipahami sebagai simbol atau peringatan bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari berbagai bahaya dan ujian.
Tradisi Doa dan Amal Saleh
Pemaknaan tersebut kemudian melahirkan berbagai kegiatan yang biasa dilakukan masyarakat saat Rebo Wekasan.
Sebagian masyarakat mengisinya dengan doa bersama, membaca Al-Qur'an, zikir, sholawat, pengajian, sedekah, hingga makan bersama.
Ada pula daerah yang memiliki tradisi khas tersendiri untuk menyambut Rabu terakhir bulan Safar. Bentuk kegiatannya dapat berbeda karena berkembang mengikuti budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.
Jika dilihat dari sisi sosial, berbagai kegiatan tersebut dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga. Masyarakat berkumpul, saling berbagi makanan, bersedekah, dan mengingatkan satu sama lain untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Islam Tidak Mengenal Hari Sial
Meski Rebo Wekasan memiliki sejarah dan tradisi yang panjang, umat Islam tetap perlu memahami bahwa tidak ada hari atau bulan yang secara mutlak membawa kesialan.
Reyvan Maulid dalam bukunya yang berjudul Kumpulan Khotbah Jumat Sepanjang Tahun Hijriyah menjelaskan bahwa Islam melarang keyakinan terhadap tathayyur, yakni anggapan bahwa sesuatu, termasuk waktu, tempat, benda, atau tanda tertentu, dapat menjadi pertanda kesialan.
Dalam hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Tidak ada tathayyur (kesialan), tidak ada adwa (penyakit menular tanpa izin Allah), dan tidak ada Safar (bulan sial)."
Musibah maupun keselamatan pada akhirnya berada dalam ketentuan Allah SWT. Manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar, berdoa, dan bertawakal.
Wallahu a'lam.
(dvs/kri)
