Benarkah Pesawat Dilarang Terbang di Atas Ka'bah? Ini Fakta Sebenarnya

Benarkah Pesawat Dilarang Terbang di Atas Ka'bah? Ini Fakta Sebenarnya

Devi Setya - detikHikmah
Jumat, 07 Agu 2026 09:30 WIB
Airplane flying under blue sky and white cloud
Foto: Getty Images/iStockphoto/npstockphoto
Jakarta -

Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, merupakan kiblat umat Islam di seluruh dunia sekaligus bangunan paling suci dalam Islam. Tak heran, banyak informasi beredar di media sosial yang mengaitkan Ka'bah dengan berbagai fenomena ilmiah.

Salah satu klaim yang kerap muncul adalah bahwa pesawat tidak bisa atau dilarang terbang di atas Ka'bah karena adanya medan magnet yang sangat kuat.

Klaim tersebut telah berulang kali beredar di berbagai platform media sosial dalam beragam bahasa. Bahkan, sebagian unggahan menyebut tidak ada bandara di Makkah karena pesawat mustahil melintasi wilayah udara Ka'bah akibat daya tarik magnet yang luar biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, benarkah pesawat dilarang terbang di atas Ka'bah karena alasan ilmiah? Berikut penjelasan berdasarkan keterangan otoritas penerbangan, ahli geofisika, hingga penelitian ilmiah.

ADVERTISEMENT

Makkah Memang Termasuk Zona Larangan Terbang

Faktanya, wilayah udara Makkah memang termasuk zona larangan terbang (no-fly zone) yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi. Namun, kebijakan tersebut bukan disebabkan oleh adanya medan magnet, melainkan karena alasan keamanan dan penghormatan terhadap tempat suci.

Dilansir dari Fact Check AFP, Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi (General Authority of Civil Aviation/GACA) mengatur pembatasan penerbangan di sekitar Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Dalam ketentuannya disebutkan, "Tidak ada yang boleh mengoperasikan pesawat di atas atau di sekitar wilayah yang akan dikunjungi atau dilalui oleh Penjaga Dua Masjid Suci, atau tokoh penting lainnya, kecuali sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Presiden dan diumumkan melalui Pemberitahuan kepada Penerbang (NOTAM)."

Artinya, larangan tersebut merupakan kebijakan ruang udara yang dibuat pemerintah Arab Saudi untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kekhusyukan ibadah para jemaah.

Benarkah Ada Medan Magnet yang Menghalangi Pesawat?

Dilansir dari Alestiklal, sejumlah ahli geofisika menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan adanya anomali magnetik di Makkah yang mampu menghalangi pesawat terbang.

Julien Aubert, peneliti senior di Institut Fisika Bumi Paris (IPGP), menjelaskan bahwa medan magnet bumi berasal dari inti bumi, bukan dari Kota Makkah.

Sementara itu, peneliti geomagnetisme Vincent Lesur mengatakan bahwa walaupun di berbagai wilayah bumi terdapat anomali magnetik, para ilmuwan tidak pernah menemukan fenomena khusus di Makkah. Bahkan apabila terdapat gangguan magnetik sekalipun, hal itu tidak membuat pesawat tidak dapat melintas.

Menurut Aubert, gangguan magnetik paling jauh hanya dapat memengaruhi kompas, sedangkan pesawat modern menggunakan sistem navigasi berbasis satelit dan geolokasi yang jauh lebih canggih.

Mengapa Pesawat Dilarang Melintas di Atas Makkah?

Para ahli penerbangan menjelaskan bahwa larangan tersebut berkaitan dengan penghormatan terhadap kota suci dan kenyamanan umat Islam yang sedang beribadah.

Serikat Pilot Maskapai Penerbangan Nasional Prancis (SNPL) menyebut larangan terbang diterapkan oleh otoritas Saudi karena alasan penghormatan terhadap Ka'bah.

Selain itu, Makkah merupakan kota yang hanya boleh dimasuki umat Islam. Kebijakan pembatasan wilayah udara juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesucian kawasan tersebut.

Isu lain yang sering dikaitkan dengan Ka'bah adalah anggapan bahwa Makkah merupakan pusat bumi.

Sejumlah konferensi ilmiah dan keagamaan memang pernah membahas posisi geografis Makkah. Salah satunya penelitian Prof. Hussein Kamal El-Din dari Universitas Kairo yang mengembangkan peta untuk membantu menentukan arah kiblat dari berbagai belahan dunia.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Makkah memiliki posisi yang sangat sentral terhadap sebaran daratan. Namun, para peneliti menegaskan bahwa temuan itu tidak berarti Makkah adalah pusat geografis bumi secara harfiah, melainkan menunjukkan posisi yang relatif sentral berdasarkan metode pemetaan tertentu.

Ada pula penelitian yang menghubungkan posisi Ka'bah dengan konsep golden ratio atau rasio emas.

Dalam sebuah pengukuran menggunakan Google Earth, jarak Ka'bah ke Kutub Selatan dan Kutub Utara menghasilkan perbandingan yang mendekati angka 1,618, yaitu nilai golden ratio.

Namun demikian, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa Ka'bah merupakan pusat bumi. Bahkan disebutkan bahwa pusat geometris daratan dunia berdasarkan pengukuran ilmiah berada di wilayah Çorum, Turki.

Alasan Tidak Ada Bandara di Makkah

Tidak adanya bandara di Kota Makkah juga sering dikaitkan dengan isu medan magnet.

Padahal, alasannya jauh lebih sederhana.

Pemerintah Arab Saudi memang tidak membangun bandara di Makkah karena kota tersebut merupakan kawasan suci yang diprioritaskan untuk kegiatan ibadah. Seluruh penerbangan haji dan umrah dilayani melalui bandara di luar kota, seperti Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, kemudian jemaah melanjutkan perjalanan darat menuju Makkah.

Seorang pilot Arab Saudi, Hassan Al-Ghamdi, menjelaskan bahwa kondisi geografis Makkah yang dikelilingi pegunungan juga menjadi pertimbangan. Selain itu, penerbangan di atas Masjidil Haram dikhawatirkan mengganggu kenyamanan jutaan jemaah yang sedang beribadah.

Ia juga membantah anggapan bahwa terdapat medan magnet atau fenomena atmosfer yang membuat pesawat tidak dapat melintas di atas Ka'bah.



(dvs/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads