Manuskrip Langka Ungkap Upaya Orientalis Barat Kaji Peradaban Islam

Manuskrip Langka Ungkap Upaya Orientalis Barat Kaji Peradaban Islam

Kristina - detikHikmah
Senin, 03 Agu 2026 11:00 WIB
Manuskrip langka catatan Ibnu Batutah terjemahan bahasa Inggris yang diakuisisi Perpustakaan Umum King Abdulaziz di Riyadh.
Manuskrip langka catatan Ibnu Batutah terjemahan bahasa Inggris yang diakuisisi Perpustakaan Umum King Abdulaziz di Riyadh. Foto: Saudi Press Agency (SPA)
Jakarta -

Sebuah manuskrip langka mengungkap keterlibatan awal para orientalis Barat dalam mengkaji warisan peradaban Islam. Manuskrip ini berisi komentar sejarah dan geografis catatan perjalanan pelancong muslim, Ibnu Batutah.

Dilansir SPA, salinan manuskrip langka tahun 1829 dari terjemahan bahasa Inggris cetakan pertama perjalanan Ibnu Batutah telah diakuisisi Perpustakaan Umum King Abdulaziz di Riyadh. Karya setebal 294 halaman itu ditulis oleh orientalis Inggris Samuel Lee dari University of Cambridge.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Manuskrip ringkas itu berisi komentar sejarah dan geografis yang luas serta referensi ke teks-teks Arab klasik. Teks aslinya ditulis oleh ulama besar Andalusia, Ibnu Juzayy al-Kalbi, pada 1355 atas perintah Sultan Abu Inan al-Marini. Catatan ini merinci perjalanan Ibnu Batutah melintasi Afrika, Timur Tengah, Andalusia, dan Asia selama 30 tahun.

Catatan perjalanan Ibnu Batutah menjadi salah satu manuskrip penting yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

ADVERTISEMENT

Sosok Ibnu Batutah

Ibnu Batutah adalah ahli geografi muslim asal Maroko yang hidup pada Abad Pertengahan. Dunia mengenalnya karena perjalanan lintas benua dari Asia hingga Eropa. Dia dijuluki "Pangeran Para Pelancong Muslim".

Pemilik nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Lawati at-Tanji bin Batutah itu lahir dari keluarga kalangan ulama bidang fikih, seperti disebutkan dalam buku Ibnu Batutah karya Rizem Aizid. Dia menempuh pendidikan di madrasah Sunni bermazhab Maliki.

Ibnu Batutah adalah sosok yang gemar membaca dan belajar ilmu agama. Ia kemudian dikenal karena kepandaiannya dalam bidang agama. Namun, bukan menjadi hakim syariat (qadhi) meneruskan tradisi keluarganya, Ibnu Batutah justru memilih jalan untuk berpetualang.

Ibnu Batutah mulai keliling dunia pada usia 22 tahun. Dia menghabiskan waktu sekitar 30 tahun menempuh perjalanan 120.700 kilometer. Perjalanannya diawali ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Menurut catatan Ibnu Batutah, dia bertolak ke Makkah pada 2 Rajab 725 H. Perjalanan dilakukan seorang diri dengan tekad kuat dan kerinduan mendalam pada Tanah Suci.

"Aku bertekad meninggalkan orang-orang yang kucintai, laki-laki maupun perempuan. Kutinggalkan negeriku, laksana burung meninggalkan sarangnya. Waktu itu, kedua orang tuaku masih hidup, dan aku berusia 22 tahun. Meninggalkan mereka berdua adalah suatu beban berat yang melelahkan," tulis Ibnu Batutah dalam Rihlah Ibnu Bathuthah yang diterjemahkan Muhammad Muchson Anasy.

Perjalanan Ibnu Batutah berlanjut ke dunia Islam, melintasi Afrika, Timur Tengah, hingga Asia. Dia juga menapakkan kaki di wilayah Eropa yang kala itu masih Andalusia (Spanyol).



(kri/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads