MUI Dorong Pemanfaatan AI agar Dakwah Lebih Efektif di Era Digital

MUI Dorong Pemanfaatan AI agar Dakwah Lebih Efektif di Era Digital

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Kamis, 30 Jul 2026 16:15 WIB
Businessman using smartphone for digital chatbot, A.I., robot application, conversation assistant, AI Artificial Intelligence concept, digital chatbot on virtual screen.
Ilustrasi AI. Foto: iStock
Jakarta -

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat turut mengubah cara dakwah Islam di era digital. Menyikapi kondisi tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemanfaatan AI guna mendukung dakwah sekaligus meningkatkan literasi Islam.

Wakil Ketua Bidang Riset Digital Komisi Infokomdigi MUI Ismail Fahmi mengatakan perkembangan AI telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Oleh karena itu, lembaga keagamaan perlu menyesuaikan strategi dakwah dengan memanfaatkan teknologi tersebut secara bijak dan bertanggung jawab.

"Yang perlu kita pikirkan adalah seperti apa dakwah kita ketika masyarakat semakin cerdas dengan bantuan teknologi. AI jangan dilawan, tetapi juga jangan sampai menguasai manusia. Yang tepat adalah manusia bekerja bersama AI," ujar Ismail Fahmi, seperti dikutip dari laman MUI Digital, Kamis (30/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ismail menilai AI mampu memangkas waktu yang dibutuhkan dalam produksi konten dakwah. Rekaman ceramah, misalnya, dapat diolah menjadi video berdurasi singkat sehingga penyebaran materi dakwah menjadi lebih efisien.

Meski begitu, ia mengingatkan AI hanya berfungsi sebagai alat bantu. Seluruh konten yang dihasilkan tetap harus ditinjau oleh manusia untuk memastikan informasi, kutipan, dan penjelasan yang disampaikan akurat serta sesuai dengan ajaran Islam.

ADVERTISEMENT

"AI dapat membantu mempercepat proses, misalnya memotong rekaman ceramah menjadi konten pendek yang siap dipublikasikan. Namun, sebelum dipublikasikan, manusialah yang harus memastikan isi dan pesannya benar. Tanggung jawab tetap berada pada manusia," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Ketua MUI Bidang Infokomdigi KH Masduki Baidlowi. Ia menilai kemajuan AI seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dikuasai agar dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam yang moderat (wasathiyah) kepada masyarakat luas.

"AI ini adalah alat efektif; jika kita kuasai, kita bisa mengarahkan konten-konten digital untuk menyebarkan pesan Islam yang moderat, membawa rasa aman, dan merawat tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama Nusantara," ujar Kiai Masduki.

Generasi Muda Diminta Tidak Bergantung pada AI

Meski menawarkan berbagai kemudahan, Ismail mengingatkan agar masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada AI, terutama generasi muda. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis tetap harus menjadi bekal utama sehingga AI hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan proses berpikir manusia.

"Generasi muda harus memiliki kemampuan berpikir kritis. Jangan menyerahkan semuanya kepada AI. Gunakan AI untuk mendukung pekerjaan, belajar, dan berdakwah, bukan menggantikan proses berpikir," ujarnya.

Ia juga menyoroti cara kerja algoritma AI yang tidak memiliki kemampuan untuk membedakan informasi benar dan keliru. Menurutnya, sistem tersebut cenderung memprioritaskan konten yang berpotensi menarik perhatian banyak orang, sehingga hasil yang ditampilkan tidak selalu mencerminkan kebenaran.

"Algoritma tidak membedakan mana yang benar dan mana yang salah, yang penting baginya adalah apa yang berpotensi viral. Karena itu, regulasi dari pemerintah dan penguatan etika dari lembaga keagamaan menjadi sangat penting agar AI dimanfaatkan untuk menyebarkan konten yang benar, edukatif, dan sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Hadis," tandasnya.



(inf/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads