Puasa Senin dan Kamis merupakan salah satu ibadah sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Kedua hari tersebut memiliki keutamaan tersendiri karena Rasulullah SAW rutin mengerjakannya.
Dikutip dari buku Pengantar Ilmu Fikih: Memahami Landasan dan Kaidah Hukum Islam karya Hj. Euis Nurasiah Jamil, S.Ag, MA, ada banyak dalil yang menjelaskan anjuran pelaksanaan puasa sunnah Senin Kamis ini. Dalam hadits dari 'Aisyah RA, beliau mengatakan,
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rasulullah SAW biasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis." (HR. An Nasai dan Ibnu Majah)
Dalam hadits lain dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
"Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa." (HR. Tirmidzi)
Meskipun Rasulullah SAW sering melaksanakan puasa pada hari Senin dan Kamis, tidak terdapat dalil yang mensyaratkan kedua puasa tersebut harus dilakukan secara berpasangan.
Mengapa Rasulullah Memilih Hari Senin dan Kamis?
Zainul Arifin dalam bukunya yang berjudul Puasa Wajib dan Sunah yang Paling Dianjurkan, menerangkan hari Senin memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari kelahirannya sekaligus hari pertama beliau menerima wahyu.
Dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang puasa Senin, "Itulah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, dan hari diturunkannya wahyu kepadaku." (HR. Muslim).
Karena itu, berpuasa pada hari Senin menjadi salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Tidak hanya hari Senin, hari Kamis juga memiliki keutamaan yang besar. Dalam beberapa hadits dijelaskan bahwa pada hari tersebut amal manusia diangkat kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW memilih berpuasa ketika amal beliau diperlihatkan sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah dan berharap amal diterima dalam keadaan terbaik.
Usamah bin Zaid berkata, "Aku berkata pada Rasul SAW, "Wahai Rasulullah, engkau terlihat berpuasa sampai-sampai dikira tidak ada waktu bagimu untuk tidak puasa. Engkau juga terlihat tidak puasa, sampai-sampai dikira engkau tidak pernah puasa. Kecuali dua hari yang engkau bertemu dengannya dan berpuasa ketika itu."
Nabi SAW bertanya, "Apa dua hari tersebut?" Usamah menjawab, "Senin dan Kamis." Lalu beliau bersabda, "Dua hari tersebut adalah waktu dihadapkannya amalan pada Rabb semesta alam (pada Allah). Aku sangat suka ketika amalanku dihadapkan sedang aku dalam keadaan berpuasa." (HR. An Nasai dan Ahmad)
Hukum Puasa Kamis Tanpa Puasa Senin
Merujuk buku Mengapa Harus Puasa Senin-Kamis? karya Asrar Mabrur Faza dijelaskan, tidak ada kewajiban mengiringi puasa hari Senin dengan puasa hari Kamis, atau sebaliknya. Keduanya merupakan hari ketika amal-amal hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Allah.
Oleh sebab itu, afdhalnya puasa Senin diikuti dengan puasa pada hari Kamis.
Dilansir dari laman Ponpes Darunnajah, Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan:
لا بأس يفرد الاثنين أو الخميس، فالمنهي عن إفراده الجمعة لقول النبي صلى الله عليه وسلم: "لا تخصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ولا يومها بصيام من بين الأيام" رواه مسلم
Artinya: Tidak masalah puasa Senin saja atau Kamis saja. Karena yang dilarang adalah puasa hari Jumat saja, berdasarkan sabda Nabi SAW, "Janganlah kalian khususkan malam Jumat dengan shalat tahajud sementara di malam-malam lain tidak, dan jangan khususkan hari Jumat dengan puasa, sementara di hari-hari lainnya tidak puasa." (HR. Muslim)
Selanjutnya beliau kembali menegaskan,
أما الاثنين لا بأس تفرد الاثنين تفرد الخميس تفرد الأربع لا بأس، هذا إنما خص بالجمعة
"Adapun hari senin, tidak masalah Senin saja atau Kamis saja, puasa empat hari saja tidak masalah. Larangan ini hanya khusus untuk puasa hari Jumat saja."
(dvs/lus)
