Perang Pertama Rasulullah Berakhir Tanpa Pertempuran

Perang Pertama Rasulullah Berakhir Tanpa Pertempuran

Hanif Hawari - detikHikmah
Rabu, 22 Jul 2026 05:00 WIB
Ilustrasi Perang Uhud
Ilustrasi perang pertama Rasulullah SAW (Foto: freepik/Freepik)
Jakarta -

Dalam sejarah peradaban Islam, fase awal perpindahan umat Islam ke Madinah diwarnai oleh berbagai strategi diplomatik dan militer untuk mempertahankan kedaulatan komunitas muslim yang baru tumbuh. Salah satu peristiwa bersejarah yang menjadi tonggak awal pergerakan militer kaum muslimin adalah Perang Al-Abwa, yang juga dikenal luas sebagai Perang Waddan.

Meskipun menyandang status sebagai perang, peristiwa ini mencatatkan fakta unik. Ia berakhir damai tanpa adanya pertumpahan darah.

Perang Waddan berkecamuk pada bulan Safar tahun ke-2 Hijriah. Secara geografis, ajang konfrontasi ini tidak berlangsung tepat di dalam Kota Madinah, melainkan berlokasi di kawasan Gunung Waddan-sebuah wilayah strategis yang membentang sekitar 250 kilometer di sebelah tenggara Madinah. Penamaan Al-Abwa sendiri melekat pada peristiwa ini lantaran letak Gunung Waddan yang berdampingan langsung dengan Desa Abwa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa ini menandai debut pergerakan taktis pasukan muslim di bawah komando langsung Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Ishaq, latar belakang dinyalakannya manuver militer ini berawal dari niat Rasulullah SAW untuk menghadang serta memblokade rute kafilah dagang kaum kafir Quraisy yang tengah melintasi kawasan Waddan.

Selain menyasar rombongan Quraisy, gerakan ini juga memperhitungkan keberadaan Bani Dzamrah bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah yang bermukim di sekitar wilayah tersebut. Dalam pergerakan taktis ini, panah kepemimpinan Madinah untuk sementara waktu dipercayakan kepada Sa'ad bin Ubadah, sementara paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthallib RA, dipercaya memegang bendera putih sebagai simbol kepemimpinan armada pasukan.

ADVERTISEMENT

Perang Pertama dalam Islam

Keabsahan Perang Waddan sebagai ekspedisi militer pertama yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW didukung oleh barisan ulama dan ahli sejarah Islam klasik.

Ibnu Sa'd dalam catatan karyanya mengidentifikasi peristiwa di bulan Safar tahun 2 H ini sebagai peperangan pertama yang tercatat dalam kronik sejarah Islam.

Ibnu Hisyam, dilansir dari karya terkemukanya, Sirah Nabawiyah (dikompilasi oleh Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam Al-Muafiri), secara tegas menyatakan "Perang Waddan adalah perang pertama yang dilakukan Rasulullah SAW."

Sisi menarik dari ekspedisi ini terletak pada komposisi pasukannya. Rasulullah SAW hanya membawa 70 orang prajurit, yang seluruhnya terdiri dari kalangan kaum Muhajirin (kaum muslimin yang bermigrasi dari Makkah), tanpa melibatkan kaum Anshar.

Ketika rombongan pasukan muslim tiba di kawasan Waddan, bentrokan fisik secara masif tidak pernah terjadi. Pihak Bani Dzamrah-yang diwakili oleh pemimpin utamanya saat itu, Makhsyi bin Amr Adzamri-memilih jalan diplomasi.

Makhsyi menemui Rasulullah SAW untuk mengajukan pactum atau perjanjian perdamaian. Dalam kesepakatan tertulis tersebut, kedua belah pihak berjanji untuk:

  • Tidak saling menyerang atau memerangi satu sama lain.
  • Pihak Bani Dzamrah membulatkan komitmen untuk tidak memberikan bantuan atau bersekutu dengan pihak musuh dalam menghadapi kaum muslimin.

Menurut perincian Ibnu Ishaq, usai naskah perjanjian damai ini disepakati, Rasulullah SAW bersama 70 prajuritnya balik kanan menuju Madinah tanpa mendapat perlawanan berarti dari musuh. Keseluruhan masa ekspedisi ini-mulai dari keberangkatan, proses diplomasi di Waddan, hingga kepulangan-memakan waktu 15 hari 15 malam. Sekembalinya dari lokasi, Nabi menetap di Madinah hingga pengujung Safar dan memasuki awal Rabiul Awal.

Kendati pertempuran terbuka berhasil dielakkan, terdapat catatan khusus terkait insiden kecil di lapangan. Menambahkan keterangan dari Ibnu Ishaq, Ibnu Hajar yang mengutip dari kitab Al-Maghazi karya Abu Al-Aswad mencatat bahwa sempat terjadi kontak saling melempar panah antara pasukan muslim dan rombongan Quraisy.

Dalam peristiwa gesekan kecil tersebut, sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash melepaskan satu bidikan panah ke arah musuh. Aksi ini mengukuhkan posisi beliau dalam catatan sejarah sebagai sosok manusia pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah (fii sabilillah).

Secara eskalasi, Perang Waddan dikategorikan sebagai peperangan berskala kecil yang bertumpu pada gertakan taktis dan penggalangan pakta pertahanan.

Pengalaman dari Perang Waddan ini menjadi fondasi penting bagi kematangan taktik militer umat Islam sebelum akhirnya berhadapan dengan perang yang lebih besar yaitu Perang Badar.

Terjadi tidak lama setelahnya pada 17 Ramadan, Perang Badar mencatatkan kemenangan spektakuler pertama bagi umat Islam. Meskipun kalah jauh dari segi kuantitas personel dan kelengkapan persenjataan, pasukan muslim berhasil menumbangkan kekuatan Quraisy-menewaskan 70 tentara musuh serta menawan 70 orang lainnya-sekaligus memancangkan panji kejayaan Islam di Tanah Arab.

Wallahu a'lam.



(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads