Hamas mengumumkan terpilihnya Khalil al-Hayya sebagai kepala biro politik baru. Khalil al-Hayya mengisi jabatan yang sebelumnya dipimpin Yahya Sinwar yang tewas dalam serangan Israel di Gaza dua tahun lalu.
"Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengumumkan terpilihnya saudara mujahid Khalil al-Hayya sebagai kepala biro politik gerakan tersebut, menggantikan pemimpin yang gugur, Yahya Al-Sinwar," kata Hamas dalam sebuah pernyataan dikutip dari Saudi Gazette, Selasa (21/7/2026).
Keputusan ini diambil setelah al-Hayya memenangkan pemilihan internal dalam putaran kedua melawan mantan pemimpin politik Hamas, Khaled Meshaal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Profil Khalil al-Hayya
Nama Khalil al-Hayya tak asing lagi dalam deretan aktivis Palestina. Dia adalah anggota lama kepemimpinan politik Hamas yang memainkan peran kunci dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel. Al-Hayya juga merupakan sosok yang mengelola hubungan baik Hamas dengan Iran, sekutu regionalnya.
Dilansir Al Jazeera, Khalil al-Hayya lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960. Dia tumbuh dalam bayang-bayang trauma Perang Arab-Israel 1967 dan pendudukan Israel setelahnya.
Kesadaran politik Khalil al-Hayya mulai terbentuk sejak kecil. Dia menyaksikan penggerebekan militer di rumah keluarganya di Gaza dan penangkapan keluarganya. Sebuah pertemuan penting dengan pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, pada Maret 1980 membawanya masuk dalam aktivisme terorganisir.
Khalil al-Hayya menempuh studi Islam dan memperoleh gelar sarjana dari Universitas Islam Gaza pada 1983. Dia melanjutkan pendidikannya dan mendapat gelar master dari Universitas Yordania pada 1986 dan gelar doktor dalam ilmu hadits dari Sudan pada 1997. Dia juga tergabung dalam Asosiasi Cendekiawan Palestina.
Sebagai anggota pendiri Hamas pada 1987, Khalil al-Hayya berulang kali keluar masuk penjara Israel selama pemberontakan Palestina yang dikenal sebagai Intifada pertama. Selama masa penahanan, dia mengalami penyiksaan berat.
Khalil al-Hayya resmi terjun ke dunia politik pada 2006. Dia mengamankan kursi di Dewan Legislatif Palestina dan memimpin blok parlemen Hamas.
Perjalanan politiknya tidaklah mudah. Khalil al-Hayya berulang kali harus menghadapi upaya pembunuhan yang dilakukan Israel dan kehilangan keluarga besarnya. Serangan udara Israel pada Mei 2007 di rumah al-Hayya menewaskan tujuh kerabatnya, termasuk dua saudara laki-lakinya. Setahun berikutnya, dia kehilangan putranya Hamza yang tergabung dalam Brigade Qassam.
Serangan Israel pada tahun-tahun berikutnya menewaskan anggota keluarganya yang lain, termasuk putra sulung, istri, dan tiga anak mereka. Khalil al-Hayya sendiri selamat dalam serangan di Doha, Qatar pada September 2025.
Kehilangan banyak anggota keluarga dalam rentetan konflik berkepanjangan tak menyurutkan semangat dan posisinya sebagai tokoh sentral politik Hamas.

Komentar Terbanyak
Konflik Iran-AS Memanas, Gus Yahya Serukan Perdamaian
Orang Miskin Masuk Surga 500 Tahun Lebih Dulu Sebelum Orang Kaya
Kisah Nabi Musa Protes ke Nabi Adam Sebabkan Manusia Hidup di Bumi