Hewan Kurban Merasa Sakit atau Tidak saat Disembelih?

Hewan Kurban Merasa Sakit atau Tidak saat Disembelih?

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Rabu, 27 Mei 2026 10:00 WIB
Penyembelihan hewan kurban di RPH Surabaya.
Ilustrasi penyembelihan hewan kurban (Foto: Rifki Afifan Pridiasto/detikJatim)
Jakarta -

Penyembelihan hewan kurban memiliki ketentuan tersendiri. Ibadah ini tak bisa dilakukan sembarangan, ada tata cara tertentu yang harus dipahami muslim.

Perintah berkurban disebutkan dalam surah Al Kautsar ayat 2. Allah SWT berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah."

Ketika menyembelih hewan kurban, muslim harus membaca basmalah dan memotong lehernya. Selain itu, hendaknya hewan menghadap kiblat serta menempatkan lambung kirinya di sebelah bawah.

ADVERTISEMENT

Lantas, apakah hewan kurban merasakan sakit ketika disembelih?

Apakah Hewan Kurban Merasa Sakit saat Disembelih?

Dilansir dari buku Menjadi Bijak & Bijaksana yang disusun Ibnu Basyar, sebuah penelitian menunjukkan hewan yang disembelih secara syariat Islam tidak merasakan sakit sama sekali. Penelitian ini dilakukan oleh dua orang staf peternakan dari Hannover University di Jerman.

Prof Wilhelm Schulze dan koleganya Dr Hazim memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan menyembelih hewan seperti apa yang paling tidak sakit. Apakah secara syariat Islam menggunakan pisau tajam atau menyembelih dengan cara barat yaitu dipukul terlebih dulu kepala hewan.

Keduanya merancang penelitian canggih menggunakan sekelompok sapi yang dewasa. Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro Encephalograph (EEG).

EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik rasa sakit untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit ketika disembelih. Jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung ketika darah keluar karena disembelih.

Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG dan ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu, setelah adaptasi dianggap cuku maka separuh sapi disembelih sesuai syariat Islam. Separuh lagi disembelih dengan metode pemingsanan yang diadopsi barat.

Secara Islam, hewan kurban harus disembelih menggunakan pisau tajam dengan memotong tiga saluran pada leher, yaitu saluran makan, napas, serta dua saluran pembuluh darah yang merupakan arteri karotis dan vena jugularis.

Hasil Penelitian Penyembelihan Hewan Secara Syariat Islam dan Metode Barat

Dari hasil penelitian itu, dapat diperoleh kesimpulan penyembelihan hewan secara Islam sebagai berikut:

  • Pada tiga detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus) tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG, hal ini berarti pada tiga detik pertama setelah disembelih tidak ada indikasi rasa sakit.
  • Pada tiga detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut tercatat pula ECG bahwa jantung mulai meningkatkan aktivitasnya.
  • Setelah enam detik pertama ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher, grafik EEG tidak naik, tetapi justru drop (turun) sampai zero level (angka nol). Hal ini diterjemah oleh kedua ahli itu bahwa "No feeling of pain at all!" (tidak ada rasa sakit sama sekali)
  • Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal maka dihasilkan "healthy meat" (daging yang sehat). Jenis daging dari hasil sembelih semacam ini sangat sesuai prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan healthy food.

Adapun hasil penelitain dari penyembelihan dengan metode barat seperti hewan dibuat pingsan terlebih dahulu, dibius, disetrum atau dipukul kepalanya hasilnya sebagai berikut:

  • Setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu sapi tidak bergerak lagi sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dengan mudah disembelih tanpa merunta-runta dan tampaknya tanpa mengalami rasa sakit. Pada saat disembelih darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).
  • Setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul sampai jatuh pingsan)
  • Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah, akibatnya jantung kehilangan kemampuan untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.
  • Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, darah itu pun membeku di dalam urat/ pembuluh darah dalam daging sehingga dihasilkan "unhealthy meat" (daging yang tidak sehat), dengan demikian menjadi tidak layak dikonsumsi oleh manusia.



(aeb/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads