- 1. Khutbah Meneladani Ketundukan Nabi Ibrahim: Makna Pengorbanan Sejati bagi Muslim Modern
- 2. Khutbah Memburu Pahala Berkurban
- 3. Khutbah Idul Adha dan Kepedulian Sosial
- 4. Khutbah Ibadah Kurban Dan Spirit Menghilangkan Egoisme Demi Kemaslahatan Umat
- 5. Khutbah Spirit Idul Adha Dalam Mendidik Generasi Muda
- 6. Khutbah Spirit Berkurban Sebagai Fondasi Keluarga Tangguh
Contoh teks khutbah Idul Adha menyentuh hati banyak dicari menjelang Hari Raya Kurban sebagai referensi bagi khatib dalam menyampaikan pesan keislaman kepada jemaah.
Khutbah Idul Adha umumnya berisi tentang ketakwaan, keikhlasan, pengorbanan, dan keteladanan Nabi Ibrahim AS serta Nabi Ismail AS.
Contoh teks khutbah Idul Adha menyentuh hati juga dapat menjadi sarana untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya kepedulian sosial dan semangat berbagi melalui ibadah kurban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, isi khutbah biasanya disusun dengan bahasa yang menyentuh, mudah dipahami, dan penuh hikmah.
1. Khutbah Meneladani Ketundukan Nabi Ibrahim: Makna Pengorbanan Sejati bagi Muslim Modern
KHUTBAH PERTAMA
الله أَكْبَرُ ٩ لا إله إلا الله الله أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحَمْد
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. وَمَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullāh,
Marilah kita mengucapkan syukur ke hadirat Allah SWT. Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya.
Sholawat serta salam marilah kita panjatkan kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Karena beliaulah yang telah membawa kita dari kegelapan menuju cahaya terang benderang Addinul Islam.
Dalam kesempatan ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi sendiri dan juga kepada jemaah sekalian agar tetap senantiasa memelihara serta meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Pada pagi yang mulia ini, jutaan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tengah merayakan salah satu syiar terbesar dalam Islam: Idul Adha, hari raya pengorbanan, hari raya ketundukan, hari raya di mana kita kembali meneguhkan makna sejati dari ketaatan kepada Allah Ta'ala.
Hari ini bukan sekadar hari memotong hewan kurban, tetapi hari untuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ismā'il 'alayhimā as-salām, dua sosok yang menorehkan teladan agung tentang kepatuhan total kepada Allah, tanpa syarat, tanpa ragu. Terdapat 3 hal utama yang dapat kita perhatikan, yaitu:
Jemaah Salat Idul Adha yang dimuliakan Allah,
Yang Pertama, Ketundukan yang Melampaui Logika Manusia
Kisah ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya Ismā'il merupakan salah satu ujian terbesar dalam sejarah manusia. Allah berfirman:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu." (QS. Aş-Şaffāt: 102)
Sebuah perintah yang berat secara emosional, sulit secara logika, tetapi jelas secara iman.
Lalu Ismā'il memberikan jawaban yang kekal dalam sejarah:
أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ، سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Aş-Şaffāt: 102)
Inilah puncak ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Yang Kedua, Pelajaran Besar dari Kisah Agung Ini
1. Pengorbanan adalah ujian cinta kepada Allah. Nabi Ibrāhīm membuktikan bahwa cintanya kepada Allah SWT mengalahkan cintanya kepada anak yang telah lama ia dambakan.
2. Keikhlasan menumbuhkan kekuatan untuk taat. Ismail dengan tenang menerima perintah yang amat berat, karena ia yakin bahwa ketaatan tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
3. Kurban bukan sekadar penyembelihan hewan. Ibnu 'Abidin dalam Radd al-Muhtar menjelaskan:
قَالَ ابْنُ عَابِدِينَ: «إِنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ إِظْهَارُ التَّعَظِيمِ لِشَعَائِرِ اللَّهِ، وَالتَّقَرُّبُ إِلَيْهِ بِإِرَاقَةِ الدَّمِ»
Ibnu 'Abidin berkata: "Tujuan dari kurban adalah menampakkan pengagungan terhadap syiar-syiar Allah dan mendekat kepada-Nya dengan mengalirkan darah kurban."
4. Hikmah kurban melampaui daging dan darah. Seperti dijelaskan dalam Tafsir al-Qurtubi:
قَالَ الْقُرْطُبِيُّ : «لَيْسَ الْمَقْصُوْدُ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ اللَّحْمَ، وَلَكِنَّ الْمَقْصُوْدَ إِصْلَاحُ الْقُلُوْبِ وَتَخْلِيْصُهَا مِنَ الشُّرِّ»
Al-Qurtubi berkata: "Tujuan kurban bukan pada dagingnya, tetapi pada perbaikan hati dan pembersihannya dari sifat kikir."
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِالْقُرْءَانِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA
الله أَكْبَرُ x7 لا إله إلا الله الله أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحمد
الْحَمْدُ لِلَّهِ، حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ . وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْبَشَرِ.
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Pada hari raya nan suci ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah, memperbanyak amal saleh, serta memohon ampunan atas dosa-dosa kita.
Doa dan Harapan pada Hari Agung
Ya Allah, jadikanlah kurban kami sebagai bukti ketundukan kami kepada-Mu.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari sifat tamak, riya', ujub, dan sombong.
Ya Allah, kuatkanlah kami untuk mengikuti teladan Nabi Ibrāhīm dan Nabi Ismā'il dalam keikhlasan dan ketaatan.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
2. Khutbah Memburu Pahala Berkurban
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهِ فَلا مُضِلَّ لَهُ, وَمِنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ, أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلَّى وَسَلَّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كثيرا.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ, أَوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
اما بعد:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ الله, وَخَيْرِ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بدعة وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ في النار.
Jemaah rahimakumullah
Puja dan puji hanya tertuju kepada Allah Rabbul Jalil. Dengan pancaran kasih sayang-Nya, kembali kita bersimpuh sujud, menghambakan diri, sebagai refleksi kesyukuran kita kepada-Nya.
Sholawat dan taslim semoga tercurah selalu keharibaan, kekasih kita, Muhammad SAW, figur yang rekam jejak kehidupannya, laksana samudera biru nan luas terbentang, tak pernah bosan mata memandang dan tak pernah jenuh pula hati mengaguminya, karena sosok beliau adalah pesona keindahan sepanjang masa.
Jemaah yang berbahagia,
Jika ikan membutuhkan air demi kelangsungan hidupnya, maka manusia membutuhkan iman dan takwa, guna menapaki terjalnya kehidupan dunia dan menuju akhirat. Oleh karena itu, marilah terus dan senantiasa kita gandakan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Takwa yang secara terminologi dijabarkan oleh para ulama, imtisalu awamirillah wajtinabu nawāhillah, yakni menjalankan semua titah dan perintah Allah SWT dan meninggalkan segala bentuk larangan-Nya. Pastikan, dengan keimanan dan ketakwaan yang sejati, mahligai surgawi dapat kita raih.
Jemaah yang dirahmati Allah SWT,
Tanpa terasa, saat ini, kita tengah berada pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijjah. Sepuluh hari yang sarat dengan kebaikan, kebaikan yang bobot nilainya, begitu utama di sisi Allah SWT. Allah jelaskan dalam firman-Nya:
وَالْفَجْرِ, وَلَيَالٍ عَشْرِ, وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
Artinya: Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. (QS. al-Fajr: 1-3)
Bahkan dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Tidak ada amal pada hari-hari, yang lebih utama daripada amal di sepuluh hari ini, sahabat bertanya, tidak pula jihad wahai Rasulullah? Nabi SAW menjawab: tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang berangkat menghadapi musuh dengan jiwa dan hartanya lalu dia tidak pulang dengan sesuatu (dari keduanya atau mati syahid). (HR. Bukhari)
Jemaah rahimakumullah
Salah satu ibadah utama di hari-hari ini adalah ibadah haji di tanah suci, Makkah Al-Mukarramah, sebagaimana yang sedang dilakukan oleh sebagian saudara-saudara kita dari berbagai penjuru dunia.
Sejuta doa dan harapan kita rintihkan, semoga ibadah haji mereka diberkahi dan sekembalinya mereka dari rumah Allah yang suci itu, dengan menggenggam predikat haji mabrur. Amin yâ ilahil âlamîn.
Jemaah yang berbahagia
Satu hal yang mesti dipahami bahwa tidak ada satu agama pun, di dunia ini, yang memiliki konsep ibadah seindah dan seagung konsep ibadah haji dalam Islam. Di dalamnya mengandung seribu makna dan tersimpan sejuta hikmah.
Perjalanan suci ibadah haji ini, mesti dijaga kesuciannya dengan sebaik-baiknya. Jangan dikotori, jangan dinodai dengan sifat-sifat buruk dan tercela. Buang sejauh-jauhnya, sifat sombong, kibr dan ujub yang bersemayam dalam hati.
Karena ketika terdapat biji kesombongan, yang dibawa mengiringi perjalanan suci ini, maka pastikan kesombongan itu akan hancur berkeping-keping, ketika matanya memandang rumah Allah yang suci, air matanya berderai, hatinya runtuh tak kuasa membendung sentuhan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
Karenanya, tidak ada bekal berharga yang harus kita bawa dalam perjalanan suci ini, melainkan bekal takwa kepada Allah SWT. Allah tegaskan dalam Al-Qur'an:
... وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى....
Artinya: "...Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..."(QS. Al-Baqarah: 197)
Jemaah yang dirahmati Allah SWT.
Selain ibadah haji yang difardhukan, kaum muslimin juga di bulan ini, diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban bagi yang memiliki kesanggupan, sebagai perwujudan rasa syukur dan sebagai bentuk ketundukan total kepada syariat Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat al-Kautsar:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya: "Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah" (QS. al-Kautsar:2)
Syaikh Abdullah Ali Bassam mengatakan: "Sebagian ulama tafsir mengatakan, yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan kurban setelah salat 'ied"
Hal esensial yang mesti digarisbawahi dalam berkurban adalah memurnikan niat, semata karena Allah SWT dan menyadari sungguh bahwa berkurban merupakan manifestasi kesyukuran kita atas segala nikmat yang telah Allah beri. Bukan karena tujuan-tujuan tertentu atau karena maksud lain, yang dapat mencederai nilai dan pahala berkurban itu sendiri.
Ibadah kurban mempunyai keutamaan yang spesial, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits-hadits nabawi, di antara fadilah berkurban, yang pertama adalah mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda kepada putrinya, Fatimah: "Wahai Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah: "sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Rabb alam semesta" (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)
Yang kedua adalah sarana memperoleh keridhaan dari Allah SWT. Allah tegaskan dalam al-Qur'an:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
Artinya: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu." (QS. Al-Hajj:37)
Dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat 'ied kami" (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Fadilah berkurban yang ketiga adalah amalan yang paling dicintai Allah pada hari Raya Idul Adha
Hadirin yang berbahagia...
Ketika menafsirkan firman Allah dalam surat al-Kautsar ayat: 2, Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawanya, menjelaskan: "Adalah Allah SWT memerintahkan Nabi SAW, untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung, yaitu salat dan menyembelih kurban sebagai indikator sikap taqarrub, tawadhu', merasa butuh kepada Allah, baik sangka, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada janji, perintah serta keutamaan dari-Nya"
Dikuatkan pula dengan hadits Rasulullah SAW:
Artinya: "Tidak ada satu amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban" (HR. Tirmidzi dan Hakim)
Selanjutnya fadilah yang keempat adalah hewan kurban akan menjadi saksi pada hari kiamat
Jemaah yang berbahagia
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah sebelum mengalir di tanah.
Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)
Ikhwani fiddin rahimakumullah
Tiada harapan dan impian dari ibadah haji dan kurban yang kita berikan, melainkan apa yang telah kita kerjakan ini, diberkahi dan diterima di sisi Allah SWT sebagai simpanan amal baik kita. Akhirnya, semoga Allah sucikan dan ikhlaskan hati kita dalam beribadah kepada-Nya, Allah ampuni dosa kita, dosa orangtua, dosa leluhur dan pemimpin-pemimpin kita, Allah bimbing masyarakat kita, menjadi masyarakat yang taat dan dekat dengan-Nya dan semoga Allah SWT mengembalikan kita ke hadirat-Nya dalam keadaan husnul khatimah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيم وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَاسْتَغْفِرُواهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ
3. Khutbah Idul Adha dan Kepedulian Sosial
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَحْتَارُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ الْوَاحِدُ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ، وَأَشهد أن لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ إِنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ الْمُتَقِينَ وَقُدْوَةُ الْأَبْرَارِ اللَّهُمَّ صَلَ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ، صَلَاةً دَائِمَةً مَّا تَعَاقَبَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا إِخْوَةَ الْإِسْلَامِ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَ الْقَائِلِ فِي مُحْكُم كِتَابِهِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ، فَصَلَ لِرَبَّكَ وَالْحَرُ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ.
Jemaah rahimakumullah
Bersyukur kepada Allah SWT dengan berucap alhamdulillahi rabbil 'alamin, hari ini kita masih dalam suasana Idul Adha yang dapat disebut pula dengan istilah Idul Kurban, Idul Nahr, dan Idul Akbar.
Hari raya Idul Adha menekankan kepada kita semua semangat hidup sosial dan berkorban. Setelah menyatakan rasa syukur, juga kita munajatkan permohonan kepada Allah SWT, semoga segala aktivitas ibadah ini meraih tujuan yang sebenar-benarnya, yaitu menjadi bertambahnya kedekatan kita dengan Allah SWT dan dekat dengan petunjuk dan ridha Nya sebagai hasil dari pada ibadah kurban yang akan dilaksanakan.
Tercapainya suasana dzikrillah 'mengingat Allah', hasil dari pada ibadah salat kita sehari-hari. Mendapatkan maghfirah, 'ampunan', rahmah 'kasih sayang', dan hidayah 'petunjuk' dari Allah SWT, buah dari kesabaran atas musibah yang telah menimpa.
Sebagaimana disebutkan dalam surah al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
"Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu...."
Jemaah rahimakumullah
Bila diri mengaku ber"iman", bukanlah semata-mata hanya ungkapan yang terucap dari bibir semata, tetapi keimanan yang sebenar-benarnya adalah merupakan suatu keyakinan yang memenuhi seluruh isi lubuk hati sanubari kita, dari sanalah akan muncul jejak atau kesan-kesannya, sebagaimana semerbak aroma keharuman yang ditebarkan oleh sekuntum bunga mawar.
Allah SWT berfirman:
وَلَكِن َّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِمَنَ وَزَيْنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْمُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الأَشْدُونَ فَضَلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ.
"Tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Hujurat: 7-8).
Diantara salah satu bukti keimanan kita kepada Allah SWT adalah dengan bersedekah, sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad SAW:
الصَّدَقَةُ بُرْهَان (رواه مسلم)
"Dan sedekah itu adalah bukti (keimanan) yang nyata". (H.R. Muslim)
Jemaah rahimakumullah
Ibadah sedekah memiliki banyak fadhilah (keutamaan), terlebih bila sedekah itu diberikan di waktu, tempat dan keadaan yang utama seperti bersedekah di bulan suci Ramadhan, diberikan kepada fakir miskin, diberikan pada 10 hari bulan Dzulhijjah dan saat urusan yang penting seperti untuk orang yang sedang menderita sakit.
Demikian dalam Tuhfatul Muhtaj li Syarhil Minhaj. Maka dengan begitu keimanan seseorang akan semakin harum semerbak mewangi dengan bekas-bekas dan kesan-kesan yang ditorehkannya.
Al-Imam Abu Bakr ar-Razi, menjelaskan bahwa iman dalam hati seorang mukmin adalah seumpama sebatang pohon yang mempunyai tujuh dahan.
Satu dahan mencapai hatinya, sedang buahnya adalah kehendak yang benar; satu dahan mencapai lidahnya, sedangkan buahnya adalah perkataan yang benar; satu dahan mencapai kedua belah kakinya, sedang buahnya berjalan menuju salat berjemaah; satu dahan mencapai kedua belah tangannya, sedangkan buahnya adalah memberikan sedekah; satu dahan mencapai kedua belah matanya, sedang buahnya adalah memandang kepada pelajaran-pelajaran; satu dahan mencapai perutnya, sedang buahnya ialah memakan yang halal dan meninggalkan barang yang meragukan; dan satu dahan lagi mencapai jiwanya, sedangkan buahnya ialah meninggalkan dan mengendalikan keinginan-keinginan nafsu syahwatnya.
Jemaah rahimakumullah
Seluruh ibadah lah yang disyariatkan Allah SWT bertujuan untuk menanamkan keutamaan, kebaikan, akhlak mulia, dan mengikis sifat kezaliman dan kerusakan. Ibadah salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (QS. Al-Ankabut: 45).
Ibadah puasa menanamkan ketakwaan dalam diri muslim (QS. Al-Baqarah: 183), ibadah zakat dapat membersihkan hati dari sifat kikir (QS. at-Taubah: 103) dan ibadah kurban menyebabkan bertambahnya kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya Allah SWT, sebagaimana dalam QS. al-Kautsar:1-2:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَالْحَرْ.
"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah)."
Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى شِرَاءِ الأَضْحِيَّةِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَ مُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَ رُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَ إِذَا تَكَلَّمَ فِي شِرَائِهَا كَانَ كَلَامُهُ تَسْبِيْحًا وَ إِذَا نَقْدَ لَمِنْهَا كَانَ لَهُ بِكُلِّ دِرْهَمٍ سَبْعُمِائَةٍ حَسَنَة وَ إِذَا طَرَحَها عَلَى الْأَرْضِ يُرِيدُ ذَبْحَهَا اسْتَغْفَرَ لَهُ كُلُّ خَلْقٍ مِنْ مَوْضِعِهَا إِلَى الْأَرْضِ السَّابِعَةِ وَ إِذا أهرَقَ دَمَّهَا خَلَقَ اللهُ بِكُلِّ قَطْرَة مِن دَمَّهَا عَشْرَةً مِنَ الْمَلَائِكَةِ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
"Siapa keluar dari rumahnya pergi untuk membeli hewan korban maka akan dihitung bagi orang tersebut setiap dari langkah kakinya sepuluh kebaikan, dan dihilangkan atasnya sepuluh kejelekan, dan diangkat (diberi) atasnya sepuluh derajat.
Dan ketika terjadi transaksi pembelian maka setiap ucapannya dihitung sebagai tasbih, dan ketika akad pembelian berlangsung maka setiap dirham (satu rupiah) disamakan dengan tujuh puluh kebaikan, dan ketika hewan tersebut diletakkan (dibaringkan) di atas bumi untuk dipotong maka setiap makhluk yang ada di bumi sampai lapis ketujuh akan memohonkan ampun atas orang tersebut, dan ketika darah dari hewan tersebut telah dialirkan maka Allah SWT menjadikan setiap tetes dari darah tersebut sepuluh malaikat yang selalu memohonkan ampun sampai hari kiamat." (HR. Ahmad).
Jemaah rahimakumullah
Sedangkan ibadah haji dimaksudkan agar memperbanyak mengingat Allah SWT dan agar dapat menyaksikan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang sudah dianugerahkan kepada mereka (QS. al-Hajj: 27-28). Ibadah haji juga bertujuan mengokohkan ketakwaan, menjauhi rafats, fusuq, dan jidal.
فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجَّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمُهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ.
"Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (perkataan kotor), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal." (QS. al-Baqarah: 197).
Jemaah rahimakumullah
Maha suci Allah SWT yang telah memberikan hikmah terhadap segala perintah yang diberikan dan seluruh larangan yang tetapkan.
Benar-benar harus kita akui bahwa tidak ada syariat Allah SWT yang merugikan ummat manusia, semuanya menguntungkan, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam atsar yang ada di bawah ini:
فَرَضَ اللَّهُ الْإِيمَانَ تَطْهِيراً مِنَ الشِّرْكِ، وَالصَّلاَةَ تَنْزِيهاً عَنِ الْكِبَرِ ، وَالزَّكَاةَ تَسْبِيباً لِلرِّزْقِ، وَالصَّيَامَ ابْتِلاءُ الإخلاص الخَلْقِ، وَالْحَجَّ تَقْرِبَةً لِلدِّينِ وَالْجِهَادَ عِزّاً لِلْإِسْلَامِ، وَالْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ مَصْلَحَةً لِلْعَوَامِ، وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ رَدْعاً لِلسُّفَهَاءِ، وَصِلَةَ الرَّحِمِ مَنْمَاةً لِلْعَدَدِ، وَالْقِصَاصَ حَقْناً لِلدِّمَاءِ، وَإِقَامَةَ الْحُدُودِ إِعْظَاماً لِلْمَحَارِمِ، وَتَرْكَ شُرْبِ الْخَمْرِ تَحْصِيناً لِلْعَقْلِ، وَمُجَانَبَةَ السَّرِقَةِ إيجاباً لِلْعِفَّةِ، وَتَرْكَ الزِّنَى تَحْصِينَا لِلنَّسَبِ، وَتَرْكَ اللوَاطِ تَكْثِيراً لِلنَّسْلِ، وَالشَّهَادَةَ اسْتِهَاراً عَلَى الْمُجَاحَدَاتِ وَتَرْكَ الْكَذِبِ تَشْرِيفاً لِلصِّدْقِ، وَالسَّلَامَ أَمَانَا مِنَ الْمَخَاوِفِ، وَالْإِمَانَةَ نِظَاماً لِلْأُمَّةِ، وَالطَّاعَةَ تَعْظِيماً لِلْإِمَامَةِ..
"Allah mewajibkan iman untuk membersihkan hati dari syirik, mewajibkan salat untuk mensucikan diri dari takabbur, mewajibkan zakat untuk menjadi sebab datangnya rezeki bagi manusia, mewajibkan puasa untuk menguji keikhlasan manusia, mewajibkan haji untuk mendekatkan umat Islam antara satu dengan lainnya, mewajibkan jihad untuk kebesaran Islam, mewajibkan amar ma'ruf untuk kemaslahatan orang awam, mewajibkan nahyu 'anil munkar untuk menghardik orang-orang yang kurang akal, mewajibkan silaturrahmi untuk menambah bilangan, mewajibkan qishas untuk pemeliharaan darah, menegakkan hukum-hukum pidana untuk membuktikan besar keburukan barang-barang yang diharamkan itu, mewajibkan kita untuk menjauhkan diri dari minuman yang memabukkan untuk memelihara akal, mewajibkan kita menjauhkan diri dari pencurian untuk mewujudkan pemeliharaan diri, mewajibkan kita menjauhi zina untuk memelihara keturunan, meninggalkan liwath untuk membanyakkan keturunan, mewajibkan pensaksian untuk memperlihatkan mana yang benar, dan mewajibkan kita menjauhi dusta untuk memuliakan kebenaran, dan mewajibkan perdamaian untuk memelihara manusia dari ketakutan dan mewajibkan kita memelihara amanah untuk menjaga keseragaman hidup dan mewajibkan taat untuk memberi nilai yang tinggi kepada pemimpin negara."
Semoga kita mendapatkan hikmah dari semua ibadah yang sudah, sedang dan akan kita lakukan, utamanya ibadah haji, ibadah kurban dan ibadah-ibadah lainnya yang ada di bulan Zulhijah ini, Amin Ya Rabbal Alamiin.
Semoga khutbah ini bisa memberikan manfaat dan maslahat untuk peningkatan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT Amiin ya Mujibassa'ilin
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفْعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنَي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ..
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُوْرِنَا ، اللهُمَّ وَفَقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَبْعِدُ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِينَ وَقَرِبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
4. Khutbah Ibadah Kurban Dan Spirit Menghilangkan Egoisme Demi Kemaslahatan Umat
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ المُخَوْفِ مَكْرُهُ المَألُوفِ ذِكْرُهُ، الكَشِيفِ سِتْرهُ، الجَلِيلِ قَدْرُهُ، المَقْبُولِ أَمْرُهُ، المَعْرُوفِ بِرُّهُ، العَنِيْفِ زَجْرُهُ، الَّذِي ضَوَّا قُلُوْبَ الخَائِفِينَ بِمَصَابِيحِ أُنْسِهِ ، وَبَوْا هِمَمَ العَارِفِينَ مَقَاصِدِ الْعِزِ مِنْ قُدْسِهِ، فَهُوَ الشَّاكِرُ عَلَى مَا لَهُ الشَّكْرُ عَلَيْهِ، وَالقَادِرُ الَّذِي لَا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلَّا إِلَيْهِ ، أَحْمَدُهُ عَلَى حُسْنِ نَظْرِهِ، وَأُسَلِّمُ لِقَضَائِهِ وَقَدْرِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَحْمَنُ الدُّنْيَا وَرَحِيمُ الآخِرَة العَزِيزُ الَّذِي يَغْلَبُ وَلَا يُغْلَبُ ذُو القُوَّةِ القَاهِرَةِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ حِيْنَ ضَرَبَ الكُفْرُ بِجِرَانِهِ، وَنَدَبَ الضَّلَالُ إِلَى شَيْطَانِهِ، وَجَمَعَ الشَّرْكُ فِي عِنَانِهِ، وَتَمَادَى الجَاهِلُ فِي طُغْيَانِهِ، وَاسْتَبَدَّ الكَافِرُ بِعِبَادَةِ أَوْثَانِهِ، فَأَدَلَّ اللهُ رِجْزَ شَيْطَانِهَا بِعِزّ سُلْطَانِهِ، وَأَنَارَ ظُلَمَ بُهْتَائِهَا بِنُوْرِ بُرْهَانِهِ، وَأَقَرَّ الحَقَّ عَلَى قَوَاعِدِ أَرْكَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَعْوَانِهِ، الْمُوْفِينَ بِعَقْدِ ذِمَّتَهِ وَإِثْمَانِهِ، صَلَاةٌ يُحِلُّهُمْ بها دَارَ أَمَانِهِ، وَمَوَاطِنَ رِضْوَانِهِ.
أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ كَمَا قَالَهُ فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُسْلِمُونَ، وَقَالَ أَيْضًا: فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَابَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّبِرِينَ
Jemaah yang berbahagia
Puji beriring syukur semata-mata hanya untuk Allah SWT, tempat segala doa dipinta dan segala harapan digantungkan. Salam beriring sholawat untuk Rasul pilihan Allah, Muhammad SAW, semoga kita beroleh syafa'at beliau di akhirat kelak. Amin ya Rabbal 'alamin.
Selanjutnya, izinkan khatib berwasiat kepada diri sendiri juga kepada jemaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan sebenar-benar takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Karena sebaik-baik orang yang hidup di dunia dan di akhirat adalah orang yang bertakwa dan seburuk-buruk orang yang hidup di dunia terlebih nanti di akhirat adalah orang yang tidak ada ketakwaan di dalam dirinya.
Salah satu bentuk ketakwaan kita kepada Allah SWT adalah selalu berusaha menjalankan syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, termasuk di dalamnya syariat berkurban.
Meskipun menurut jumhur ulama, berkurban bukan termasuk ibadah yang masuk kategori wajib, akan tetapi berkurban menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan atau sunnah mu'akkad.
Kata kurban berasal dari bahasa ibrani qorban, artinya persembahan, atau dari bahasa Syiria kurbana, yang artinya adalah pengorbanan. Tapi di dalam bahasa arab berasal dari qaraba yang berarti cara atau jalan untuk mendekat kepada Allah SWT atau salah satu bentuk ketaatan kita kepada-Nya.
Sehingga tindakan orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sering kita sebut sebagai taqarrab. Maka secara istilah -meskipun kurban artinya adalah persembahan-makna sebenarnya adalah jalan untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT
Jadi aktivitas kita berkurban hakikatnya adalah jalan kita untuk mendekat kepada Allah SWT.
Jemaah rahimakumullah
Bila kita melihat tarikh tasyri' dari ibadah kurban, maka kurban adalah salah satu ibadah syar'un man qoblana atau syariat yang sudah dijalankan sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW lebih tepatnya adalah syariat pada zaman Nabi Ibrahim AS.
Bahkan ada yang berpendapat syariat yang dilaksanakan pada zaman Nabi Adam AS. Sebagaimana dijelaskan dengan kutipan ayat al-Qur'an yang khatib sebutkan sebelumnya, bahwa asal mula dari ibadah kurban ini adalah pengorbanan mulia dari seorang Nabi Mulia Ibrahim AS. yang rela mengorbankan putra yang dicintainya.
Dalam kitab Tarikh ath-Thabari, Ibnu Ishaq r.a. meriwayatkan bahwa saat Nabi Ibrahim AS mendapatkan perintah untuk mengorbankan anaknya, beliau memerintahkan anaknya untuk mengambil pisau dan tali serta mengajaknya ke Syi'ib dengan alasan untuk mencari kayu bakar.
Di tengah perjalanan, datanglah iblis yang menyamar sebagai seorang laki-laki dan berkata, "Wahai orang tua, ke mana engkau akan pergi?" Ibrahim menjawab, "Aku ingin pergi mencari kayu bakar ke Syi'ib".
Iblis kemudian berkata, "Demi Allah sesungguhnya aku telah melihat setan datang kepadamu serta menyuruhmu untuk mengorbankan anakmu, kemudian engkau benar-benar ingin menyembelihnya".
Mendengar perkataan tersebut Nabi Ibrahim AS menyadari bahwa laki-laki ini sejatinya adalah Iblis, kemudian beliau berkata, "Sesungguhnya dirimu tidak akan mendapatkan apapun dariku, pergilah wahai musuh Allah, demi Allah aku akan tetap meneruskan perjalananku ini untuk melaksanakan perintahNya."
Mendengar jawaban yang tegas dari Nabi Ibrahim AS, Iblis pun merasa putus asa, tetapi kemudian dia mulai menggoda putranya yakni Nabi Ismail AS. Iblis bertanya kepada Nabi Ismail, "Hai anak kecil, tahukah engkau mau dibawa kemana oleh ayahmu?" Ismail menjawab, "Ayahku menyuruhku untuk mencari kayu bakar di Syi'ib. "
Iblis kemudian mengatakan: "Sungguh demi Allah, ayahmu tidaklah membawamu melainkan hendak menyembelihmu." Ismail pun kemudian bertanya, "Mengapa demikian?" Iblis memberikan jawaban, "Allah SWT telah memerintahkan kepada ayahmu untuk melakukannya."
Mendengar itu, Nabi Ismail pun menjawab, "Kalau memang demikian, maka aku akan tunduk dan patuh terhadap perintah Allah SWT." Mendengar jawaban tegas dari ayah dan anak tersebut iblis pun kembali putus asa, sehingga kemudian berpikir untuk menggoda ibu dari Ismail, sayyidah Hajar yang ada di rumah.
Iblis bertanya kepada Sayyidah Hajar, "Hai ibu Ismail, tahukah engkau kepada Ibrahim mengajak Ismail? Sayyidah Hajar menjawab, "Mereka pergi mencari kayu bakar." Iblis pun kemudian berkata, "Tidak, sesungguhnya Ibrahim hendak menyembelih Ismail."
Mendengar perkataan iblis tersebut, Sayyidah Hajar mengingkari seraya berkata, "Tidak mungkin, sungguh Ibrahim sangat mencintai Ismail." Kemudian iblis melanjutkan, "Sesungguhnya Ibrahim menyangka Tuhannya telah memerintahkan hal itu."
Sayyidah Hajar dengan lantang menjawab, "Jika Tuhannya yang memberikan perintah maka aku akan tunduk serta patuh terhadap perintah tersebut. "
Setelah mendengar jawaban yang lebih tegas dari ibu Ismail pulanglah sang iblis dengan penuh kemarahan karena telah gagal menggoda Nabi Ibrahim dan keluarganya. Kemudian setelah Ibrahim dan Ismail sampai di Syi'ib, Nabi Ibrahim AS berkata,
يبنى إنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
"Wahai anakku, sesungguhnya aku telah melihat di dalam mimpiku aku menyembelihmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan menjadi jawabanmu?
Nabi Ismail AS menjawab,
يَأْبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّبِرِينَ
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang sudah Allah perintahkan kepadamu, insya Allah aku termasuk orang-orang yang bersabar."
Maka, prosesi penyembelihan pun dilaksanakan. Pisau tajam menempel di leher Ismail. Dalam suasana hening dan syahdu, doa dipanjatkan dan sesaat kemudian ditariklah pisau tajam itu.
Tetapi, leher ismail tidak terpotong. Karena, sebelum pisau melukai Ismail, Allah telah menggantinya dengan seekor domba. Domba itulah yang terpotong dan Ismail selamat.
Jemaah rahimakumullah
Kisah yang mengerikan tapi gagal menjadi tragedi itu diceritakan Allah dalam kitab suci tiga agama samawi, Yahudi, Nasrani dan Islam. Tidak semua peristiwa bersejarah terpilih dan terkisah dalam kitab suci. Allah menceritakan kisahnya karena mengandung pelajaran yang sangat mendalam, sehingga umat manusia dapat mengambil saripati hikmahnya.
Ibrahim berhasil lolos dari ujian maha berat tersebut dan sejarah suci ini berakhir dengan penggantian sosok Ismail dengan seekor hewan, pertanyaannya adalah mengapa akhirnya Ismail tidak jadi di sembelih atau dikorbankan?
Di sini, seakan Allah SWT hendak memberi pelajaran kepada kita semua agar jangan sampai kita tega mengorbankan manusia demi egoisme kita. Jangan menzhalimi dan memfasilitasi kezaliman terhadap seseorang karena sebuah jabatan, kedudukan dan harta.
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang mulia dan terhormat yang tidak boleh dikorbankan oleh keserakahan manusia lainnya, tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama.
Tetapi, mengapa Ibrahim mau menyembelih anak yang sangat disayanginya? Pertama, karena ia yakin perintah itu datang dari Allah. Yang kedua, karena Ibrahim tidak egois dan takabur, ia merasa tidak memiliki Ismail secara mutlak walau Ismail anak kandungnya.
Ismail diciptakan Allah, dan anak itu dititipkan sebagai amanah Allah untuk dididik menjadi orang yang berbudi dan bertakwa. Karena anak merupakan titipan Allah, pemiliknya yang hakiki adalah yang mencipta Ismail, yaitu Allah.
Apabila Ismail dikehendaki Allah untuk disembelih, maka sebagai orang yang bertakwa, Ibrahim tentu rela menyerahkannya kepada Allah.
Demikian pula Ismail, ia mau dipotong lehernya karena ia merasa bahwa dirinya adalah milik Allah. Ismail tidak merasa memiliki dirinya sendiri, maka apapun yang dikehendaki Allah, ia harus pasrah dengan setulus hati.
Lebih dari itu, ia mempunyai rasa cinta yang mendalam kepada sang pencipta, lebih dari mencintai dirinya sendiri. Kepasrahan yang total seperti itu diperoleh berkat pendidikan yang ditanamkan sang ayah.
Memasrahkan diri secara total kepada Allah, patuh kepada orang tua, imam dan pemimpin, sudah menjadi karakter hidup Ismail sejak kecil.
Jemaah rahimakumullah
Sikap pasrah seperti itulah yang disebut sebagai makna "Islam" dalam arti yang hakiki. Untuk sampai di level seperti itu tentu tidaklah mudah. Tetapi apabila seseorang telah melakukan ikhtiar duniawi dan ukhrawi dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, membersihkan hatinya dari aneka macam kotoran.
Dengan banyak tadzakur dan tafakur akan kebesaran Allah, maka walau tidak sampai setaraf dengan Ibrahim dan Ismail yang sama-sama utusan Allah, namun totalitas penyerahan seperti itu dalam ukuran manusia biasa, bisa juga tercapai.
Dalam ibadah kurban itu ada ruh atau semangat yang perlu terus kita kembangkan di luar Idul Adha untuk mencapai derajat muslim hakiki, yaitu semangat memberi, semangat membantu, dan semangat berbagi.
Intinya adalah semangat menggembirakan dan membahagiakan orang lain. Jika kita mencicipi sebuah hidangan istimewa secara sendirian, maka yang kita rasakan adalah kelezatan.
Namun, ketika kita berbagi dengan teman kita, maka yang kita rasakan adalah kenikmatan. Yang jauh lebih indah dari itu adalah, jika kita bisa berbagi makanan tersebut dengan orang yang tidak mampu, maka yang kita rasakan adalah kebahagiaan.
Mengapa demikian? Karena bahagia itu sederhana, bahagia itu adalah bahagia melihat orang lain bahagia. Senang melihat orang lain senang. Gembira melihat orang lain gembira. Senang menyenangkan, gembira menggembirakan dan bahagia membahagiakan. Firman Allah:
.... لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ :
"Sungguh engkau tidak akan mencapai kebaikan yang hakiki sebelum engkau sanggup berinfak dari harta yang kamu cintai (QS. Ali Imran : 92)
Tidak semua orang mampu melaksanakan ibadah kurban, karena orang yang mau berkurban memiliki tiga kategori.
Pertama, orang yang pemberani. Kedua, orang yang kuat, Ketiga, para pecinta. Kurban adalah sesuatu yang tidak enak, sesuatu yang tidak kita inginkan, seharusnya milikku ya milikku, sebisa mungkin aku nikmati sendiri untuk keinginanku sendiri, aku ingin nyaman, aku ingin aman, aku ingin enak adalah salah satu fitrah orang hidup.
Perintah kurban ini menyuruh kita apa yang kita miliki, apa yang kita sukai kita bagikan ke orang lain, ini adalah sesuatu yang hakekatnya tidak enak, tidak menyenangkan.
Oleh karena itu orang yang mau berkorban adalah orang yang berani kehilangan sesuatu yang kita sayangi, sesuatu yang kita nikmati itu tidak mudah, hanya orang-orang berani yang mampu melakukannya.
Kalau orangnya tidak pemberani maka dia akan berat untuk berkurban. Ini tidak hanya berkurban pada hari raya berkurban tapi dalam konteks berkurban apapun.
Orang yang mau berkurban adalah orang yang kuat, kuat menahan sakitnya kehilangan sesuatu.
Kehilangan sesuatu itu bisa sangat menyakitkan, sakitnya kenyamananan kita yang terusik, sakitnya kita memberikan sesuatu yang mana itu adalah hak kita, maka berkurban adalah cirinya orang-orang yang kuat.
Yang ketiga orang yang berkurban adalah mereka yang mencintai. Ketika orang itu mencintai orang lain dia rela melakukan apapun yang berat, rela kehilangan apapun demi orang yang dicintai.
Ini adalah termasuk salah satu teori termudah, bagaimana kita tanpa diminta rela memberi, rela mengorbankan apapun demi orang yang kita cintai.
Dari tiga kategori orang yang mampu berkorban ini, sebenarnya di balik itu ada perintah agar kita jadi orang yang berani, kuat dan mencintai. Siap kehilangan, siap berbagi, siap memberi untuk orang lain.
Untuk itu jadilah manusia yang kuat, jadilah manusia yang pemberani, dan jadilah manusia yang mencintai. Kalau kita punya tiga kualitas ini insya Allah tujuan kurban akan tercapai, karena tujuan dari kurban adalah membentuk kita menjadi orang yang berani, kuat dan yang mencintai.
Karena yang mampu berkurban hanya tiga orang itu. Ini adalah salah satu hikmah tasyrik dari perintah kurban.
Jemaah rahimakumullah
Mengakhiri khutbah ini, marilah kita lestarikan semangat berkurban, semangat memberi dan semangat berbagi dengan amal nyata. Kembangkan rasa bahagia dalam jiwa dan ciptakan ketenangan dalam masyarakat.
Karena dengan menjaga semangat berkurban, akan menjamin kedekatan dengan umat manusia dan kedekatan dengan sang pencipta. Sebaliknya sifat egoisme, kikir, takabur dan serakah menjauhkan kita dari manusia dan menjauhkan kita dari sang pencipta..
أَيُّها الناس وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ، إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الخَلَائِقِ وَالبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيحِ الغُرَرِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِي الْعَظِيمِ اتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُورِنَا، اللهُمَّ وَفَقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ . اللَّهُمَّ أَبْعِدُ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِينَ وَقَرَبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
5. Khutbah Spirit Idul Adha Dalam Mendidik Generasi Muda
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ المُبِين. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الأمين، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، إِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Melalui mimbar yang mulia ini, izinkan khatib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan kepada para jemaah pada umumnya untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan berusaha semampunya melaksanakan perintah-perintah-Nya dan berusaha menjauhi segala larangan-Nya, karena takwalah yang menjadi pembeda kualitas dan status kehambaan kita di hadapan-Nya.
Ma'asyiral muslimin jemaah rahimakumullah
Syukur al-hamdulillah, hari raya Idul Adha merupakan salah satu hari besar yang diperingati oleh umat muslim seluruh dunia. Hari dimana umat Islam diperintahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengorbankan hewan-hewan terpilihnya untuk disembelih dan dibagikan kepada sesama, yakni pada 10 Zulhijah, dilanjutkan tiga hari setelahnya yang disebut hari tasyriq.
Sebagaimana kita ketahui, sejarah berkurban pada Idul Adha diprakarsai oleh Nabi Ibrahim AS beserta putranya Nabi Ismail AS Al-Qur'an mencatat kisah ini pada surah al-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur baligh) bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" la menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Kisah keteguhan dan kesabaran antara bapak dan anak untuk menjalankan perintah Allah SWT tentu sangat menakjubkan.
Bagaimana tidak? Ibrahim yang dalam ceritanya menunggu waktu cukup lama untuk mendapatkan putera, tiba-tiba dengan mudah ikhlas rela mengorbankan anak kesayangannya atas perintah Tuhannya.
Sebaliknya, sebagai seorang anak yang baru mencapai usia baligh, Ismail dengan penuh keteguhan mempersilahkan bapaknya untuk menjalankan perintah Allah sebagaimana dalam mimpinya.
Tentu, sikap kedua nabi pilihan ini penuh dengan hikmah dan keteladanan yang luar biasa. Tidaklah heran jika kemudian Allah SWT mengingatkan kepada kita untuk senantiasa memikirkan, memahami, dan menteladani kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Pada surah al-Mumtahanah ayat 4 disebutkan:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya."
Ma'asyiral muslimin jemaah rahimakumullah
Kisah berkurban yang melibatkan seorang bapak dan anak, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sesungguhnya memberikan pelajaran yang berharga bagi umat Islam dalam mendidik dan mencetak generasi muslim selanjutnya.
Ada beberapa pelajaran yang tersirat dari kisah tersebut: pertama, Nabi Ibrahim memosisikan anaknya sebagai makhluk yang berakal, mampu berfikir dan menimbang, serta berhak berpendapat.
Fandzhur madza tara (bagaimana pendapatmu?) merupakan cara komunikasi Nabi Ibrahim kepada anaknya yang baru baligh. Metode dialog dalam berkomunikasi kepada anak akan menghidupkan daya pikir dan analisis anak yang selanjutnya akan mengasah kecerdasan seorang anak.
Kedua, Nabi Ibrahim memberikan teladan tentang pentingnya berislam dan beriman secara totalitas. Perintah menyembelih merupakan perintah Allah yang langsung diimani dan diyakini oleh Nabi Ibrahim.
Beliau tidak segan untuk menyampaikan dengan jujur perintah yang telah disampaikan oleh Allah SWT melalui mimpinya itu meskipun harus mengorbankan anak kesayangannya.
Totalitas kepasrahan kepada Allah disertai keimanan yang kuat ini menjadi ajaran dan pendidikan yang diwariskan Nabi Ibrahim kepada anak keturunannya. Hal ini tegas tercatat pada QS. al-Baqarah: 132:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِي إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam."
Ma'asyiral muslimin jemaah rahimakumullah
Pelajaran ketiga adalah bahwa perhatian Nabi Ibrahim yang cukup besar dalam melahirkan generasi muslim yang unggul semakin jelas dan nyata. Setelah memberi pendidikan dan keteladanan, Nabi Ibrahim menyempurnakannya dengan terus berdoa kepada Allah SWT agar menjadikan keturunan dan generasi selanjutnya sebagai anak-anak yang saleh; Rabbi habli minasshalihin (Tuhanku, anugerahkanlah saya keturunan yang saleh).
Dari doa ini, kita dapat mempelajari bahwa laku-laku spiritual seperti mendoakan anak penting untuk dilakukan di samping juga memberikan pendidikan dan keteladanan yang terbaik.
Terkait pentingnya melahirkan generasi muda yang saleh ini, dalam Diwan al-Syafi'i, Muhammad bin Idris al-Syafi'i menyatakan:
وَذَاتُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتَّقَى " إِذَا لَمْ يَكُونَا لَا اعْتِبَارَ لِذَانِهِ
Demi Allah, seorang pemuda adalah dengan ilmu dan ketakwaan Bila keduanya tidak ada, maka tiada pengakuan (kemuliaan) bagi dzatnya.
Ma'asyiral muslimin jemaah rahimakumullah
Apa yang ditegaskan oleh Imam al-Syafi'i itu menunjukkan bahwa mendidik generasi muda dengan bekal ilmu dan takwa adalah sebuah keniscayan dan keharusan. Di pundak merekalah tongkat estafet keagamaan diwariskan.
Dengan meneladani metode dan cara-cara yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim, sudah semestinya di momen Idul Adha ini spirit melahirkan dan mendidik generasi muda menjadi tanggung jawab kita semua.
Semoga Allah SWT memberi pertolongan, petunjuk, dan kekuatan kepada kita untuk dapat merealisasikan tugas yang sangat mulia ini. Amin Allahumma Amin!
KHUTBAH KEDUA
بارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِني وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ ، حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ . وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَرِ.
أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيمَا أَمَرَ . وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَرَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَا لِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا . إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ
عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ
وَأَذِلَّ الشَّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحَدِيْنِ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ وَ دَمِرٌ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَاغْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلاء وَالْوَبَاءَ وَالزَّلازِلَ وَالْمِحْنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا انْدُونِيْسِيًّا خَاصَّةً وَسَائِرِ البُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرِّ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُوْرِنَا ، اللَّهُمَّ وَفَقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَبْعِدُ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِينَ
وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَاذْكُرُ واللَّهُ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُّكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
6. Khutbah Spirit Berkurban Sebagai Fondasi Keluarga Tangguh
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الشَّافِعِ فِي الْمَحْشَرِ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَطْهَارِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ المَتَّقُوْنَ وَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ الله تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيم, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قُلْ صَدَقَ اللهُ ، فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Jemaah salat yang dimuliakan Allah SWT
Marilah kita semua meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, meskipun peningkatan itu hanya bisa dilakukan sedikit demi sedikit. Mudah-mudahan kita dianugerahi keistiqamahan di dalamnya, sehingga selain mampu menjadikan kita pribadi lebih baik juga menyelamatkan kita di dunia dan terutama akhirat kelak. Amin.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Sejatinya, semua manusia terikat dengan Allah SWT. Kita adalah makhluk-Nya, dan Allah SWT adalah pencipta kita. Selain iman kepada-Nya, Allah juga mewajibkan kepada kita untuk mengimani adanya para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, para Rasulullah, qadha-qadar Allah, dan terakhir iman kepada hari kiamat.
Spirit menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha hakikatnya adalah cara Allah agar manusia menjaga ikatan pokok dalam hidupnya dengan Allah SWT. Berkurban sebagai penjaga ikatan dengan Allah SWT.
Betapa ruginya seorang manusia jika berani memutuskan hubungan dengan Allah. Karena sesungguhnya, dalam berkurban, bukan daging yang menjadi pokok pertimbangan utama, melainkan ketakwaan.
Mari kita perhatikan firman Allah SWT.
لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَذَيكُمْ ، وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. al-Hajj: 22)
Menurut Tafsir al-Baidlawi, bahwa yang dimaksud dengan sampainya ketakwaan adalah menjadikan seseorang semakin mendekatkan diri kepada Allah serta ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Artinya, yang dinilai oleh Allah adalah upaya kita untuk terus menjalin ikatan sebaik-baiknya dengan Allah, bukan dengan hewan kurbannya atau materinya.
Karena itu, di momen Idul Adha, sejak hari Arafah sampai hari Tasyrik, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir. Hal itu adalah salah satu cara Allah supaya manusia terus dekat dan ingat kepada-Nya.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah
Ibadah kurban juga mengajarkan kepada manusia untuk bisa mencintai harta bendanya dengan niat yang benar. Yakni agar manusia tidak mencintai harta bendanya dengan berlebihan, apalagi melebihi cinta kepada Allah SWT. Karena cinta yang berlebihan, manusia kerap kali dibuat susah oleh upaya mengejar harta benda duniawi.
Sampai-sampai al-Qur'an menggambarkan bahwa memang ada manusia yang terus menumpuk harta dunia, memamerkannya kepada orang-orang sehingga membuat iri, padahal dirinya sudah dekat dengan kematian (QS. at-Takatsur: 1-2).
Karena cintanya itu, manusia sering lupa dan berat untuk memberi kepada sesama, untuk membahagiakan orang-orang fakir dan miskin.
Dalam ibadah kurban, hewan-hewan disembelih sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلانَا
"Siapa yang memiliki kelapangan, sedangkan ia tidak berkurban, janganlah dekat-dekat tempat salat kami." (H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim).
Jemaah yang dirahmati Allah
Semangat untuk dapat melaksanakan ibadah kurban, meski dalam waktu setahun sekali, sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi lahirnya keluarga tangguh.
Tradisi melaksanakan ibadah kurban secara bergiliran bagi anggota keluarga baik yang sudah tiada atau masih bersama, dapat dilihat sebagai upaya keluarga menjaga ikatan lahir dan batin dengan anggotanya.
Hanya keluarga tangguhlah yang mempunyai ikatan lahir-batin sedemikian kuat dengan para anggotanya.
Ikatan kuat ini dicontohkan Rasulullah SAW dalam doa Beliau ketika hendak menyembelih hewan kurban:
بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
"Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah terimalah (kurban ini) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta umat Muhammad." (HR. Muslim).
Imam at-Tirmidzi menukil pendapat bahwa doa Nabi Muhammad SAW juga menyebutkan, ini untuk umatku yang tidak berkurban. Itulah ikatan lahir-batin yang hendak dibangun Rasulullah dengan umatnya yang tidak berkurban karena satu dan lain hal.
Selain ikatan lahir-batin, ibadah kurban juga mengajarkan kekompakan satu keluarga dalam menetapkan tujuan penggunaan harta. Betapa banyak sebuah keluarga hancur lebur hanya karena berbeda tujuan dalam menggunakan harta atau berebut harta.
Suami dan istri, ditambah anak punya keinginan dan pandangan masing-masing dalam membelanjakan harta.
Spirit kurban, dapat menjadi ukuran kekompakkan sebuah keluarga dalam menetapkan tujuan mulia bagi harta yang dimilikinya.
Betapa bangganya seorang anak kepada ayahnya yang menuntun hewan kurban, yang menyembelih hewan kurban, atau kepada ayahnya yang disebut namanya oleh panitia sebagai shahibul kurban.
Ini merupakan cara mendidik generasi yang mempunyai ikatan kuat dengan Allah SWT dan menjadi keluarga tangguh. Semoga kita menjadi keluarga yang tangguh, kompak, dan bangga dalam beribadah kepada Allah SWT Amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أَوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ أَمَرَكُمْ بالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الكَرِيمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحْنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُورِنَا، اللهُمَّ وَفَقَهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبُّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَبْعِدُ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِينَ وَقَرَبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وَلَاةَ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِبْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Jemaah Haji RI Ditangkap di Madinah Usai Videokan Wanita Tanpa Izin
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026