Daging Aqiqah Boleh Dimakan Sendiri atau Harus Dibagikan?

Daging Aqiqah Boleh Dimakan Sendiri atau Harus Dibagikan?

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Selasa, 12 Mei 2026 08:00 WIB
Daging kambing untuk anak
Ilustrasi daging kambing (Foto: Getty Images/iStockphoto/slowmotiongli)
Jakarta -

Setelah bayi muslim lahir ke dunia, kedua orang tuanya disunnahkan memotong hewan aqiqah. Sunnah ini dikerjakan pada hari ketujuh kelahiran sang bayi.

Terkait aqiqah disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

"Setiap anak itu tergadai dengan aqiqahnya, yang disembelih pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur rambutnya dan diberi nama (pada hari ketujuh tersebut)." (HR Bukhari)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari buku Modul Fikih Ibadah oleh Rosidin, aqiqah artinya membelah atau memotong. Kata membelah atau memotong itu merujuk pada rambut bayi.

Ketika aqiqah, hewan ternak yang disembelih adalah kambing. Jumlah kambing untuk aqiqah anak laki-laki dua ekor, sedangkan anak perempuan satu ekor.

ADVERTISEMENT

Biasanya, setelah aqiqah, daging dimasak lalu dibagikan kepada tetangga. Banyak muslim yang mempertanyakan apakah daging aqiqah boleh dimakan sendiri atau harus dibagikan?

Bolehkah Daging Aqiqah Dimakan Sendiri?

Masih dari sumber yang sama, muslim diperbolehkan memakan daging aqiqah anaknya. Artinya, daging juga bisa dikonsumsi untuk keluarga yang menyelenggarakan aqiqah.

Hanya saja, daging aqiqah tidak boleh diperjualbelikan. Larangan ini tak hanya untuk daging, melainkan semua bagian tubuh hewan aqiqah termasuk kulit dan daging. Imam Malik berkata terkait hal ini,

"Demikian ini adalah tradisi kami dalam hal aqiqah. Bahwa siapa yang ingin melakukan aqiqah bagi anaknya, cukup satu kambing, baik anak laki-laki maupun perempuan. Praktik aqiqah ini tidak wajib, melainkan sunnah saja. Praktik ini sudah biasa dilakukan oleh orang-orang kami. Orang yang melakukan aqiqah sama seperti kurban, tidak boleh hewan (cacat), seperti hewan yang buta, yang lemah dan kurus kering, yang patah tulang, dan yang sakit.

Daging (aqiqah) tidak boleh dijual sedikit pun, tidak juga kulitnya. Tulangnya juga (tidak) boleh dipatahkan. Keluarga boleh memakan (daging) aqiqah dan menyedekahkannya. Anak (bayi yang diaqiqah) tidak boleh terkena darah dari hewan tersebut." (Muwaththa Malik)

Apakah Daging Aqiqah Harus Dibagikan?

Menurut buku Inspirasi Nama Bayi Islami Terpopuler susunan TIM IIDN Jogja, daging aqiqah boleh dibagikan ke lingkungan sekitar. Baik itu tetangga, kerabat, muslim ataupun non muslim, kaya ataupun miskin.

Melalui kitab at-Thiflu wa ahkamuhu susunan Ahmad bin Ahmad al-Isawiy dikatakan membagikan daging aqiqah merupakan wujud rasa syukur serta harapan agar yang menerima dagingnya juga mendoakan kebaikan bagi si anak yang baru lahir. Dengan begitu, sifat membagikan daging aqiqah adalah sunnah sebagai wujud rasa syukur.

Sunnah membagikan daging aqiqah adalah sebagian, sementara sebagian lainnya boleh dimakan oleh keluarga, disedekahkan atau dihadiahkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin mengatakan,

"Hendaknya daging aqiqah dimakan sebagiannya. Sebagiannya lagi dihadiahkan dan disedekahkan. Adapun kadar pembagiannya tidaklah ada kadar tertentu. Yang dimakan, yang dihadiahkan dan yang disedekahkan dibagi sesuai kemudahan. Jika ia mau, ia bagikan pada kerabat dan sahabat-sahabatnya. Boleh jadi pembagiannya tersebut di negeri yang sama atau di luar daerahnya. Akan tetapi, mestinya ada jatuh untuk orang miskin dari daging aqiqah tersebut. Tidak mengapa juga daging aqiqah tersebut dimasak (direbus) dan dibagi setelah matang atau dibagi dalam bentuk daging mentah. Seperti itu ada kelapangan." (Fatawa Nur 'ala Ad-Darb, 5: 228)

Daging Aqiqah Lebih Baik Diberikan Mentah atau Dimasak?

Pendakwah Yahya Zainul Ma'arif melalui ceramahnya menjelaskan terkait lebih utama mana memberikan daging aqiqah yang mentah atau sudah dimasak. Meski begitu, tak masalah jika memang dibagikan dalam keadaan mentah.

"Kalau aqiqah dimasak dan masaknya yang manis biar anaknya manis. Kalau kurban diberikan mentah. Tapi bagi-bagi (daging aqiqah) dalam mentah pun boleh," ujar Buya Yahya --sapaan akrabnya-- dalam YouTube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapat izin mengutip channel tersebut.

Dia juga mengatakan tulang-tulang dari daging aqiqah yang dimasak itu dianjurkan tidak dipatah-patahkan. Namun, hal ini sifatnya hanya anjuran sehingga tak mengapa jika tidak diikuti.

"Dianjurkan agar tidak dipatah-patahkan tulangnya, ini anjuran saja," tambah Buya Yahya.




(aeb/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads