Penggunaan staf pemasaran perempuan atau SPG (Sales Promotion Girl) di Mall Hewan Qurban H. Doni, Depok, sempat mengundang tanya dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pemilik mal, Haji Doni, pun buka-bukaan saat usahanya didatangi oleh tokoh agama ternama.
Doni menceritakan, almarhum KH Ali Mustafa Yaqub yang merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus tokoh MUI, pernah meninjau langsung konsep bisnisnya tersebut. Saat itu, Doni berkonsultasi mengenai hukum wanita berjualan sapi dalam Islam.
"Sampai kita pernah didatangkan dari MUI. Ada Imam Masjid Istiqlal, Pak Ali Mustafa Yaqub. Dia jelaskan, saya tanya bolehkah kalau seorang wanita berjualan sapi? Beliau bilang, selagi itu auratnya tertutup, bisa," ujar Doni saat ditemui detikcom di lokasinya, Depok, Sabtu (9/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Doni mengakui istilah 'SPG' yang kerap disematkan media sering kali menimbulkan bias di masyarakat. Bayangan orang tentang SPG cenderung identik dengan pameran otomotif yang berpakaian terbuka.
"Bayangannya itu SPG kayak di pertunjukan mobil, jaga mobil pakai rok yang 'menek-menek' (pendek). Begitu dia lihat datang ke sini, berpakaiannya seperti ini (sopan). Ya maklum lah, namanya media yang bilang itu SPG," tambahnya.
Bagi Doni, menempatkan staf perempuan yang cerdas dan berpenampilan menarik bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan ada misi edukasi di dalamnya. Ia ingin mematahkan stigma bahwa dunia peternakan hanya milik kaum pria atau identik dengan hal yang kotor.
Ia ingin menunjukkan kepada para petani atau peternak di daerah bahwa profesi pedagang sapi bisa dilakukan secara profesional oleh siapa saja, termasuk perempuan berpendidikan tinggi.
"Itu bagus buat motivasi anak-anak di daerah. Yang cantik-cantik, pendidikannya tinggi, dia berani jualan sapi. Itu maksud dan tujuan kita. Biar petani di daerah bisa kasih tahu anaknya, wanita itu bisa dagang sapi, nggak harus pria," tegas pria lulusan SD yang mengaku "dendam pada kemiskinan" ini.
Meski berangkat dari latar belakang ekonomi yang sulit dan hanya lulusan sekolah dasar, Doni berhasil membawa bisnisnya dikenal hingga ke mancanegara. Media internasional seperti Reuters, BBC, hingga New York Post pernah menyoroti keunikan mal sapi miliknya.
Tak hanya soal strategi staf, Doni juga sangat ketat soal aturan agama dan kesehatan hewan. Untuk sapi impor asal Australia misalnya, ia memastikan proses pemotongannya mengikuti standar baku.
"Sapi Australia itu pemotongannya nggak boleh di tempat umum, harus khusus di RPH yang close system (abator). Kita harus pakai Animal Welfare (kesejahteraan hewan). Kesehatannya harus dilihat, nggak sembarang tempat," pungkasnya.
Tahun ini, Mall Hewan Qurban H. Doni menyiapkan sekitar 3.500 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha, mulai dari jenis lokal seperti sapi bali hingga jenis premium seperti Belgian Blue dan Simmental.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026