Ada getaran yang berbeda saat lisan melantunkan takbir di pusat kota Makkah. Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh studi di Libya, ini adalah kali pertama saya merayakan Idul Fitri di Tanah Suci, Makkah Al-Mukarramah. Sebuah pengalaman spiritual yang tak sekadar merayakan kemenangan, tapi juga menyaksiskan langsung persatuan umat dalam balutan keberagaman.
Menanti Fajar 1 Syawwal 1447 H
Pemerintah Arab Saudi melalui Mahkamah Ulya atau Mahkamah Agung secara resmi menetapkan 1 Syawwal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah hilal tidak terlihat pada Rabu malam, sehingga Ramadan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Pengumuman ini juga diikuti secara serentak oleh negara-negara teluk lainnya seperti UEA, Qatar, dan Bahrain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjuangan untuk mendapatkan shaf di Masjidil Haram dimulai jauh sebelum fajar menyingsing. Sejak malam hari, ribuan jemaah sudah memadati area masjid. Protokol keamanan pun sangat ketat, banyak akses jalan menuju masjid ditutup dan dialihkan untuk mengurai kepadatan. Semua orang berlomba-lomba datang lebih awal demi bisa mendapat kesempatan bersujud di dalam area Masjidil Haram pada pagi Idul Fitri.
"Hujan" Manisan dan Wangi Parfum
Tepat pukul 06.39 pagi, gema takbir memuncak saat Syekh Dr. Usamah Khayyat melangkah menuju mihrab sebagai imam dan khatib. Namun sebelum salat dimulai, saya menyaksikan pemandangan yang menyentuh hati.
Di tengah penantian, seolah ada "hujan" kebaikan. Jemaah dari berbagai belahan dunia saling berbagi, ada semprotan wewangian parfum khas Timur Tengah, berbagai macam kurma, dan manis-manisan seperti permen ataupun coklat yang dibagikan oleh orang dewasa maupun anak-anak.
Jemaah berbagi manisan hingga parfum menjelang salat Id di Masjidil Haram, Makkah, Jumat (20/3/2026). Foto: Dok Zulfikar Audia Pratama |
Di sinilah saya merasakan esensi Islam yang sesungguhnya. Tanpa perlu saling mengenal bahasa satu sama lain, kami disatukan oleh rasa berbagi. Keberagaman ras dan bangsa melebur dalam satu manisnya ukhuwah.
Parade Budaya dalam Bingkai Sunnah
Salah satu sunnah Idul Fitri adalah mengenakan pakaian terbaik. Pagi itu, Masjidil Haram berubah menjadi panggung budaya dunia. Saya melihat thobe putih bersih khas Saudi, baju koko dan batik khas Indonesia, hingga jubah khas Afrika dan Asia Tengah.
Melihat beragam pakaian adat yang berkumpul di satu titilk suci ini membuat saya sadar betapa indahnya persatuan dalam keberagaman yang Islam telah ciptakan.
Sejumlah mahasiswa Indonesia melakukan salat Id di Masjidil Haram, Makkah, Jumat (20/3/2026). Foto: Dok Zulfikar Audia Pratama |
Setelah salat usai, tradisi hangat "Indo" tetap tidak hilang. Kami bersalam-salaman, saling bermaafan, dan tentu saja mengabadikan momen dengan berfoto bersama teman, saudara dan kerabat.
Meskipun jauh dari Tanah Air, kehangatan kekeluargaan di Makkah membuat kerinduan pada rumah sedikit terobati. Lebaran di Makkah tahun ini bukan hanya tentang menandai berakhirnya puasa, tapi tentang melihat peradaban Islam yang hidup, bergerak, dan saling mencintai di rumah Allah.
--
Zulfikar Audia Pratama
Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Dakwah & Peradaban, Kulliyah Dakwah Islamiyah Tripoli, Libya
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)














































Komentar Terbanyak
Mengapa Indonesia Tak Dapat Labbaytum Award, Penyelenggara Haji Terbaik 2026 dari Saudi?
Kenapa Air Zamzam Tak Pernah Habis Meski Diambil Jutaan Jemaah?
Indonesia Tak Dapat Award Penyelenggara Haji Terbaik 2026, Begini Kata Wamenhaj